Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Rasa Aman
- Annisa Tiara Putri
- Oct 4, 2019
- 4 min read
Updated: Nov 22, 2019
Annisa Tiara Putri

Berita buruk: Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Berita baik: mengutip ucapan Haris Azhar di acara Mata Najwa, alarm demokrasi Indonesia ternyata masih hidup! Betapa melegakannya mendengar berita baik ini di antara hingar bingar berita buruk yang terus-terusan mengisi kehidupan Indonesia selama setidaknya, sebulan belakangan. Aksi-aksi oleh rakyat yang terjadi dalam dua minggu belakangan ini menjadi bukti dari ucapan Haris Azhar tersebut. Jalan Gejayan menjadi salah satu wadah gaungan-gaungan masyarakat yang terus menerus bergema selama berhari-hari. Rakyat bergerak, rakyat berjuang.
Salah satu tuntutan dari pergerakan tersebut memperjuangkan nasib-nasib rakyat di kota kelahiran saya, Pekanbaru, serta kabupaten/kota lainnya di Provinsi Riau. Asap yang mencapai tingkat berbahaya—dan sejauh saya hidup di sana, Ibu berkata bahwa kali ini adalah tingkat paling parah—terus membumbung tanpa ada tanda-tanda akan diluruhkan. Pada masa asap masih tebal, Ibu tiba-tiba video call saya. Kala itu, dia sedang duduk di mobil dan dengan selang oksigen di hidungnya. Seminggu setelahnya Ayah berkomunikasi lewat grup whatsapp keluarga mengabarkan bahwa pasokan oksigen sedang kosong, ia sudah mencari kemana-mana.
Pada titik itu saya tahu keadaan sudah parah, dan yang lebih meremukkan lagi, saya tidak bisa apa-apa selain menyemangati dan berdoa dari jauh.
Ketika saya turun untuk mengikuti aksi Gejayan Memanggil yang pertama, hal ini adalah salah satu yang bergema di benak saya. “Saya di sini untuk Mama dan Papa!” canda saya yang tidak benar-benar bercanda ke beberapa teman di bawah terik matahari kala itu. Saya cukup memahami beberapa tuntutan yang diajukan oleh Aliansi Rakyat Bergerak dalam aksi Gejayan Memanggil, terutama perihal asap mengingat posisi serta pengalaman saya dalam hal tersebut. Juga paham sedikit-sedikit perihal masyarakat di Papua dan Papua Barat yang demokrasinya dikekang serta kerusuhan-kerusuhan yang datang setelahnya, perihal beberapa pasal yang dianggap bermasalah dalam RUU KUHP, RUU PK-S yang tak kunjung disahkan hanya karena mempertimbangkan ‘kontroversi yang ditimbulkan’, serta hal-hal lainnya yang saya pelajari melalui bacaan-bacaan singkat yang tersebar di sosial media. Paham sedikit-sedikit tadi mendorong saya untuk turut serta—untuk turun ke jalan dan bergerak.
Tetapi pada akhirnya saya menyadari bahwa hal sentimen yang benar-benar membangun koneksi diri dengan aksi tersebut adalah kekhawatiran saya akan keselamatan orang-orang yang saya sayangi. Kekhawatiran akan nasib kedua orang tua serta adik di Pekanbaru dan kekhawatiran terhadap keselamatan teman-teman saya yang ikut turun ke aksi adalah dua hal yang memulai empati saya. Saya cemas. Saking cemasnya, reaksi diri berupa ‘pasang badan’ muncul di hari itu. Saya membawa obat-obatan yang saya punya di kamar kos, saya terus memeriksa keadaan teman-teman saya sepanjang aksi, saya benar-benar khawatir bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi—bahwa kami semua akan berlari-lari dan salah satu teman yang saya tahu akan berada di garda depan akan berpeluang lebih untuk terluka. Pikiran-pikiran itu semakin menghantui saya tepat ketika situasi mulai dipanas-panasi. Kekhawatiran dan ketakutan saya memuncak. Apa yang harus saya lakukan kalau ada provokator dan orang-orang terprovokasi? Apa yang bisa saya lakukan? Teman-teman saya yang sedang berisitirahat di dekat Indomaret akan aman, ‘kan? Kepada siapa saya harus berpegangan?
Tetapi, hari itu, untung saja pada akhirnya aksi damai tersebut benar-benar berakhir damai. Saya pulang kembali ke kampus dengan hati lega—setidaknya kami semua aman walau rasa penasaran akan melihat kericuhan di depan mata masih menggantung. Besoknya, aksi di Jakarta digelar. Berita-berita baru mulai bermunculan setelah itu: aksi berakhir ricuh, aparat memukuli peserta demo, Dandhy Laksono dan Ananda Badudu ditangkap. Rasa penasaran saya langsung buyar seketika—saya tidak mau melihat orang-orang berlari dan medis yang sibuk mondar mandir mengurusi orang-orang yang terluka. Teman saya yang merupakan narahubung untuk Gejayan Memanggil, dengan nomor rekening serta nomor ponselnya telah tersebar kemana-mana yang dijadikan sebagai rekening untuk penggalangan dana aksi, melontarkan kekhawatirannya. Ia takut nasib yang sama akan terjadi kepadanya menimbang Ananda Badudu ditangkap karena posisinya yang berkontribusi dalam penggalangan dana untuk aksi. Saya turut khawatir dan takut. Cemas ketika tersadar bahwa siapa saja dapat mengalami hal yang sama—termasuk orang-orang terdekat saya.
Rasa aman yang seharusnya saya dan teman-teman dapatkan sebagai warga negara mulai tergerus oleh pengekangan demokrasi. Kita mulai tidak aman.
Berita-berita selanjutnya mulai bermasukan: seorang mahasiswa meninggal karena ditembak di dadanya, ada mahasiswa yang tidak sengaja terlindas mobil aparat, kerusuhan Wamena yang memakan banyak korban jiwa, penyerangan gas air mata ke pos perlindungan aksi di Universitas Atma Jaya Jakarta, 93 peserta demonstrasi hilang, Wiranto yang berkata bahwa asap di Pekanbaru ternyata tidak separah itu, dan rentetan-rentetan berita buruk lainnya. Tagar #SemuaBisaKena menjadi sangat relevan walau ditarik keluar konteks. Kita benar-benar tidak aman. Siapapun bisa kena—tidak ada yang pernah sempat membayangkan membiarkan anaknya berangkat untuk melaksanakan aksi lalu menyambutnya pulang dengan peluru bersarang di dada dan masa depan yang tiba-tiba tidak lagi nyata.
Rasa aman adalah hal paling mendasar yang bisa Negara berikan kepada rakyat-rakyatnya. Bila Indonesia tidak bisa bisa memberikan hal tersebut, Indonesia memang sangat tidak baik-baik saja—maka wajar bagi kita untuk bergerak dan mengingatkan Indonesia bahwa ada yang salah. Pergerakan-pergerakan yang terjadi tersebut (baik dalam bentuk aksi demonstrasi, penyebaran berita atau informasi melalui internet, dan lain sebagainya) menggerakkan hati banyak orang dalam berbagai bentuk. Saya pribadi merasakan pengaruhnya—bagaimana permasalahan-permasalahan ini serta semangat juang yang muncul mengikutinya mengubah fokus persepsi saya dan membangunkan diri. Bahwa ada yang lebih besar dari bagaimana alasan-alasan yang membuat saya tak sanggup bangun dari kasur hanyalah segelintir kecil, bahwa ada yang lebih konkret daripada itu dan saya harus turut andil dan bergerak. Saya harus siap.
Maka dari itu, mari kita tutup dengan ucapan panjang umur, Perjuangan! Panjang umur semangat juang yang menyatukan rakyat kepada satu tujuan: ingin Indonesia lebih baik lagi dan menciptakan lingkungan yang aman dan sejahtera untuk rakyatnya yang bernaung. Panjang umur, Perjuangan. Panjang umur, Perlawanan.
Yoyakarta, 4 Oktober 2019.
Comments