top of page
  • Black Instagram Icon

Selamat Datang di Tanah Hitam: Gejolak Api Membara di Bumi Pertiwi

  • Writer: Inaka
    Inaka
  • Oct 4, 2019
  • 4 min read

Updated: Nov 22, 2019

Sedang sekarat, mau kiamat.



foto sumber: KLHK



 

Saya termenung di tengah-tengah keriuhan dan kericuhan yang sedang berlalu lalang tanpa malu-malu di negeri ini. Semua permasalahan di Ibu Pertiwi seakan-akan seperti bom waktu yang menguak kebenaran; ia mencecar pemerintah dan membunuh masyarakat. Tak terkecuali permasalahan kebakaran hutan yang sudah sangat kritis kondisinya.


Kebakaran hutan nampaknya sudah menjadi cerita klasik di negeri ini. Dari kecil hingga beranjak dewasa, kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera menjadi wacana yang sangat dekat dengan saya--entah samar-samar membaca di koran atau menonton berita di televisi. Tetapi, sampai sekarang saya masih merasa abu-abu dengan hal ini. Apa sebenarnya yang terjadi di Kalimantan, Sumatera, dan tanah-tanah gambut di wilayah lainnya yang menjadi hitam akibat gejolak api membara?



Pembakar hutan dengan bendera korporasi di Indonesia


Membakar hutan untuk membuka lahan adalah suatu teknik yang sudah dikenal dari zaman dahulu. Nenek moyang kita mengenal slash-and-burn, dimana mereka membakar beberapa hektar pohon yang dikonversi menjadi lahan pertanian. Lahan pertanian ini digunakan untuk beberapa saat, untuk kemudian akan ditinggalkan dan mereka akan membuka lahan baru beberapa kilometer jauhnya. Lahan terbuka ini akan kembali meregenerasi pohon-pohonnya selama 10-20 tahun dan menyatu kembali dengan hutan.


Teknik ini tidak menimbulkan malapetaka bagi lingkungan karena dahulu populasi tidak begitu signifikan jumlahnya dan mereka menggunakan lahan hutan secukupnya. Semua berubah ketika para korporat datang dan memperkenalkan pundi-pundi uang kepada masyarakatnya. Masyarakat ini pun banting setir dari pekerjaan petani dan menjadi buruh ladang. Manis sekali para korporat ini, mereka menjanjikan kesejahteraan hidup para pekerjanya padahal uang yang diterima buruh-buruh ladang itu tidak seberapa.


Hal ini benar-benar terjadi di Jambi, Sumatera. Pak Erwin adalah seorang buruh ladang yang baru saja membuka ladang empat hektar milik majikannya. Sabit untuk membabat semak belukar yang ada di area parit tidak ada di kedua tangannya, melainkan hanya sebatang korek saja yang kemudian ia sulut untuk membakar semak-semak itu. Dilansir dari VICE Indonesia, teknik ini disebut dengan merun. Sayangnya, api mereka tidak hanya membakar semak belukar yang dimaksud, tetapi malah menjalar kemana-mana. Api yang membara itu melahap hutan-hutan di sekitarnya. Api itu membakar lahan gambut yang kemudian mengepulkan asap ke udara. Hal serupa juga terjadi di Kalimantan.


Pak Erwin adalah satu dari sekian banyak orang yang kemudian dijebloskan ke penjara, dan ia seperti tahu nasibnya akan seperti ini. Ia mendapat hukuman 12 tahun penjara akibat lahan-lahan yang mengepulkan asap hingga ke negara tetangga itu. Demi kesejahteraan lebih tinggi, para pembakar hutan perorangan ini rela menabrak segala konsekuensi yang ada. Menurut Tirto Indonesia, semenjak 16 September 2019, sudah ada 185 tersangka perorangan yang diringkus karena “neraka” yang mereka ciptakan. Sedangkan, hanya 4 korporasi yang baru dijadikan tersangka akibat kebakaran hutan dan lahan ini. Lucunya lagi, korporasi ini malah berasal dari negara lain. "Satu, PT Hutan Ketapang Industri milik Singapura di Ketapang, PT Sime Indoagro milik Malaysia, PT Sukses karya sawit Malaysia di Ketapang, dan PT Rafikamajaya Abadi di Melawi," kata Siti Nurbaya, menilik dari CNN Indonesia. Saya juga melihat bahwa belum ada sanksi tegas yang membekukan perusahaan-perusahaan yang diduga sebagai tersangka ini. Padahal, sanksi yang didapatkan dapat berupa pembekuan izin sampai perampasan tanah oleh negara. Memang, pembakar hutan dengan bendera korporasi adalah yang paling sulit ditangkap.


Beberapa orang menjadi pembakar, semua orang terkena dampaknya


Asap-asap yang mengepul itu menjadi bencana. Kata warga sekitar, sudah seperti Hari Akhir rasanya. Saya menelusuri data dari Tirto bahwa kondisi udara paling parah terjadi di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) nya sudah mencapai 399 dan masuk kategori berbahaya. Akibat yang ditimbulkan tentu sangat merugikan, kesehatan memburuk dan masyarakat terkena dampak sakit pernapasan yang serius. Dilansir dari Kompas, jumlah penderita infeksi saluran pernapasan akut di Kalimantan sudah mencapai 919.516 orang. Sebagai keterangan tambahan, saya menghadirkan perspektif seorang warga Jambi yang diwawancarai oleh VICE. Namanya Gafur, dan ia juga sudah lelah dengan berulangnya kebakaran hutan ini. Anaknya sampai menderita gangguan pernapasan akibat asap.


Warga-warga sekitar sudah lelah dengan lingkungan hidup mereka yang selalu familiar dengan asap dan kabut pekat. Saat saya mengobrol dengan salah seorang teman saya yang berasal dari Kalimantan, kebakaran hutan ini terus saja terjadi dan keluarganya harus mendekam di rumah lebih lama dari biasanya dalam sehari. Pekerjaan mereka terganggu, apalagi para anak-anak. Kesehatan mereka rawan dan mereka jadi tidak dapat bersekolah karena diliburkan. Kata teman saya, masker-masker gas di Kalimantan bahkan sampai habis terjual. Teman saya ini cukup beruntung karena keluarganya berada sehingga rumahnya dapat menggunakan air conditioner (AC) untuk menghalau asap masuk ke dalam kamar. Tetapi, bagaimana dengan keluarga-keluarga yang kurang beruntung?


Dampak menyedihkan dan mematikan ini juga tidak hanya dialami oleh manusia, tetapi juga para primata sebagai penghuni hutan-hutan itu. Mereka kehilangan rumah, ada juga yang terkena infeksi saluran pernapasan akut. Kulit mereka meleleh karena terbakar. Air mata saya tumpah saat melihat satu potret yang menangkap sosok seorang anak orang utan yang terlihat linglung di antara tanah-tanah gosong. Kulitnya agak menghitam akibat terkena percikan api. Sungguh menyayat hati. Lebih menyayat lagi karena tidak ada pertolongan penuh yang dapat menyelamatkan dan menyudahi “kiamat” ini.


***


Menurut saya, belasan tahun penjara adalah waktu yang sangat lama. Dibandingkan dengan individu-individu dari kelas menengah ke bawah yang harus berpisah dari keluarganya selama jangka waktu lebih dari satu dekade itu, korporasi yang memiliki peran besar dibalik bencana ini hanya mendapatkan pencabutan surat izin dan pembekuan inventaris. Itu saja tidak dilakukan secara benar, sanksinya masih belum tegas. Masyarakat juga tidak sepenuhnya menyalahkan para petani tradisional dan buruh ladang itu. Siapa yang harus disalahkan dan bertanggung jawab secara penuh? Saya rasa kita semua sudah tahu jawabannya. Harus menunggu berapa lama lagi sampai korban jiwa terus bertambah, fauna-fauna punah, dan bumi menjadi musnah? Jangan sampai ada kata terlambat. Korporasi-korporasi nakal harus ditangkap. Pemerintah harus tegas, masyarakat juga jangan lengah.









Referensi:

Putsanra, Dipna Videlia. 2019. Apa Itu Karhutla yang Sebabkan Kabut Asap di Sumatera & Kalimantan?. Tirto ID. [https://tirto.id/apa-itu-karhutla-yang-sebabkan-kabut-asap-di-sumatera-kalimantan-eimk]

B, Hendra & Ardyan M. Erlangga. 2019. Kami Ngobrol Bareng Pembakar Lahan, Memahami Alasannya Menyulut Bencana Asap di Sumatra. VICE Indonesia. [https://www.vice.com/id_id/article/59nydz/kami-ngobrol-bareng-pembakar-lahan-memahami-alasannya-menyulut-bencana-asap-di-sumatra]

Syukur, M. 2019. Kebakaran Lahan Riau Tahun Ini Paling Parah, Mengapa?. Liputan 6. [https://www.liputan6.com/regional/read/4037479/kebakaran-lahan-riau-tahun-ini-paling-parah-mengapa]

CNN Indonesia. 2019. Menteri LHK: 3 Perusahaan Malaysia Terlibat Pembakaran Hutan. [https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190913192412-20-430374/menteri-lhk-3-perusahaan-malaysia-terlibat-pembakaran-hutan

Hakim, Rakhmat Nur. 2019. Hampir Satu Juta Orang Menderita ISPA akibat Kebakaran Hutan dan Lahan. Kompas. [https://nasional.kompas.com/read/2019/09/23/17522721/hampir-satu-juta-orang-menderita-ispa-akibat-kebakaran-hutan-dan-lahan]

Gunadha, Reza. 2019. Bencana Kabut Asap Akibat Karhutla, 61 Spesies Primata Terancam Punah. SUARA. [https://www.suara.com/news/2019/09/18/220529/bencana-kabut-asap-akibat-karhutla-61-spesies-primata-terancam-punah]

Recent Posts

See All
PEMBATASAN JAM MALAM BAGI PEREMPUAN

Nama: Hanum Ari Prastiwi NIM: 18/424761/SA/19133 Mata Kuliah: Komposisi Menulis Kreatif (menulis etnografi) Alasan pembatasan jam malam...

 
 
 

コメント


HitamPutih.jpg

Thanks for submitting!

Department of Anthropology

Faculty of Cultural Sciences

Universitas Gadjah Mada

  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Black Pinterest Icon
  • Black Twitter Icon

2019 The Human Stories

bottom of page