Oleh : Nugraha Mahendra Jaya dan Viky Setya Nusantara

sumber : Dream.co.id
Kesehatan menjadi sesuatu yang penting bagi setiap orang untuk terus melangsungkan kehidupannya. Mengingat bahwa kesehatan menjadi fokus utama pembangunan di sebuah negara, terlebih bagi Indonesia yang masih dalam kategori negara berkembang. Berbagai cara dilakukan individu untuk mendapatkan status sehat dari siapapun terutama para ahli kesehatan. Mulai dari mengonsumsi obat-obatan untuk mempertahankan kekebalan tubuhnya hingga melakukan aktivitas produktif sebagai sarana mengeluarkan keringat dan melunturkan zat-zat penganggu kesehatannya. Semuanya dilakukan demi menjaga keseimbangan kinerja sistem di dalam tubuhnya. Namun, tetap saja cita-cita tersebut akan terhalangi dengan munculnya penyakit yang menjangkit kekebalan tubuhnya. Hadirnya penyakit ini mendapat respons yang berbeda dari setiap individu. Respons mereka bergantung pada bagaimana mereka memahami konsep sehat dan sakit.
Konsep sehat dan sakit sesungguhnya tidak terlalu mutlak dan universal karena terdapat faktor-faktor lain di luar kenyataan klinis yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang berperan dalam konsep ini adalah sosial budaya. Seringkali masyarakat menganggap dirinya sakit dikala dokter sudah bersabda bahwa ada gangguan pada sistem tubuhnya. Padahal, pandangan lain menyatakan seseorang tidak sakit apabila aktivitasnya tetap berjalan seperti biasanya meski organ maupun sistem tubuhnya sedang bermasalah. Kedua pengertian ini saling mempengaruhi dan pengertian yang satu hanya bisa dipahami dalam konteks pengertian yang lain. Kini, banyak ahli antropologi, kedokteran, psikologi, kemasyarakatan, dan bidang ilmu pengetahuan yang lain telah mencoba memberikan pengertian konsep sehat dan sakit ditinjau dari masing-masing disiplin ilmu. Masalah sehat dan sakit merupakan proses yang berkaitan dengan mampu atau tidaknya manusia beradaptasi dengan lingkungan baik secara biologis, psikologis maupun sosio budaya.
Munculnya dua paradigma mengenai sehat dan sakit dari segi medis dan sosial budaya menarik untuk ditelisik lebih jauh. Sebab, sejatinya bagaimana yang dalam kondisi sehat dan sakit sesungguhnya. Apakah sehat dan sakit hanya sebatas pada berfungsi normal tidaknya kinerja sistem tubuh seseorang, atau mampu tidaknya seseorang beradaptasi pada lingkungannya. Atau justru keduanya saling melengkapi dengan keunggulan masing-masing disiplin ilmu. Oleh sebab itu, kami ingin mengulik lebih dalam tentang konsep sehat dan sakit dari sudut pandang mahasiswa Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM yang mewakili kluster medika dan Fakultas Psikologi serta Program Studi Antropologi yang
mewakili kluster sosiohumaniora atau konteks sosial budaya. Untuk dimengerti, tulisan ini tidak memutuskan paradigma mana yang benar dan salah terkait konsep sehat dan sakit. Sebab, setiap ilmu memiliki keunggulan dan kelemahan dari yang lainnya. Sebaliknya, kami ingin bertukar pandangan dengan berlandaskan masing-masing disiplin ilmu melalui diskusi.
Paradigma Medis Tentang Sehat dan Sakit
Berbicara mengenai sehat dan sakit, tentunya dengan cepat kita akan merujuk pada siapa lagi kalau bukan bidang medis (berhubungan dengan bidang kedokteran). Dengan demikian, konsep sehat dan sakit sudah menjadi menu wajib dan utama bagi mahasiswa yang studi di bidangnya. Hari-hari perkuliahan mereka diisi dengan menelisik kesehatan dan penyakit masyarakat melalui sumber-sumber yang tersebar luas di jejaring internet maupun buku cetak. Tak banyak yang tahu bagaimana sebenarnya seseorang dinyatakan sehat maupun sakit ditinjau dari aspek medis. Karena terkadang sesorang yakin bahwa kondisi tubuhnya sedang baik-baik saja dan dia menyatakan sehat, tetapi kondisi fisik berkata sebaliknya. Oleh karenanya agar lebih afdal mengetahui bagaimana konsep sehat dan sakit, kami sepakat untuk berdiskusi dengan mahasiswa yang telah langsung berkecimpung dalam dunia kesehatan, yaitu Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan atau yang biasa dikenal sebagai kluster medika. Kali ini, kami berkesempatan untuk bertukar pandangan dan wawasan terkait konsep sehat dan sakit dengan Ardya Isti Purwandani, mahasiswa Ilmu Kemasyarakatan Universitas Gadjah Mada (2017). Dalam bagian ini, kami akan menguraikan konsep sehat dan sakit dalam kacamata studi kesehatan sebagai hasil diskusi bersama Ardya.
Kali pertama bertemu, tentu rasa canggung menemani kami. Kontrasnya penampilan diri kami yang tak fashionable dengan Ardya yang sangat rapi awalnya membuat kami tak percaya diri. Tetapi, kami tetap harus bersahabat dengan situasi dan suasana kian melebur kala ditemani segelas kopi. Perbincangan diawali dengan menanyakan kabar satu sama lain karena sudah lama tidak saling bertatap muka. Tak perlu basa basi, kami segera memulai diskusi melalui pertanyaan apa itu sehat dan sakit. Dengan lugas, Ardya menerangkan dari awal terkait konsep sehat terlebih dahulu tetapi masih menurut pandangan pribadinya. Dia menjelaskan bahwa sehat menurutnya adalah suatu kondisi badan yang bisa diajak kompromi untuk melakukan segala aktivitas sehari-hari tanpa mengambat selesainya pekerjaan tersebut.
Dalam bidang studinya, pembelajaran tentang konsep sehat datang dari berbagai sumber yang di antaranya adalah pernyataan WHO dan DEPKES RI. Mengacu pada pernyaataan WHO (1947) sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Sedangakan DEPKES RI melalui UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan menyatakan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial
dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan. Terkait dua konsep yang WHO dan DEPKES RI keluarkan, sehat merupakan suatu keadaan yang dinamis di mana individu menyesuaikan dirinya dengan perubahan-perubahan lingkungan internal (psikologis, intelektual, spiritual dan penyakit) dan eksternal (lingkungan fisik, sosial, dan ekonomi).
Perbincangan kemudian dilanjutkan mengenai gambaran konsep sakit. Menurutnya, seseorang dikatakan sakit apabila ia menderita penyakit menahun (kronis) atau gangguan kesehatan lain yang menyebabkan aktivitas kerja/kegiatannya terganggu. Walapun seseorang sakit (dalam istilah sehari-hari), seperti masuk angin, pilek, dan sebagainya, ia dianggap tidak sakit apabila aktivitas dan pekerjaannya tidak terganggu. Tetapi definisi lain tentang sakit hadir dari aspek etiologi naturalistik bahwa sakit bisa dijelaskan dari segi impersonal dan sistematik, yaitu bahwa sakit merupakan suatu keadaan atau satu hal yang disebabkan oleh gangguan terhadap sistem tubuh manusia. Melihat definisi sakit pada dua pandangan di atas, maka konsep sakit di sini dikaji melalui dua aspek yaitu dari segi eksternal (terganggu atau tidaknya aktivitas) dan internal (sistem organ atau kondisi tubuh).
Namun, kluster medika khususnya kedokteran lebih berfokus pada aspek internal seseorang untuk mendiagnosa sehat atau sakit. Secara medis, mereka akan memeriksa sistem organ atau kondisi tubuh apakah kala itu keadaannya tidak berfungsi secara semestinya. Mulai dari tempo (meminjam istilah dari bidang musik) aliran darah yang melambat atau semakin cepat, hingga denyutan nadi dan jantung yang berubah dari “takaran” sehat tubuh seseorang. Bila sudah menyalahi takaran sehat tersebut maka seseorang akan dinyatakan sakit, demikian sebaliknya untuk diagnosa sehat. Singkatnya, kluster medika hanya akan menganalisa sehat dan sakit melalui kondisi fisik seseorang meski tetap ada cabang ilmu kesehatan lainnya yang tetap bersentuhan dengan aspek di luar fisik seseorang, seperti faktor rohani maupun sosial budaya.
Masih berbincang mengenai sehat dan sakit dalam pandangan kluster medika, kondisi sehat yang sesungguhnya adalah kondisi keseimbangan, di mana seluruh sistem organ di tubuh kita bekerja dengan selaras. Faktor-faktor yang mempengaruhi keselarasan tersebut hingga berlangsung seterusnya adalah nutrisi yang lengkap dan seimbang, istirahat yang cukup, olah raga yang teratur, kondisi mental, sosial dan rohani yang seimbang, serta lingkungan yang bersih. Sedangkan sakit merupakan peyimpangan atau deviasi dari status sehat. Pemons (1979) menambahkan bahwa sakit adalah gangguan fungsi normal individu sebagai tatalitas termasuk keadaan organisme sebagai sistem biologis dan penyesuaian sosialnya. Ardya juga bercerita bahwa dalam studinya, terdapat 3 kriteria untuk menentukan apakah seseorang sakit atau tidak sesuai yang diungkapkan oleh Bauman (1965) yaitu adanya gejala (misalnya naiknya temperatur,
nyeri, dll), presepsi bagaimana mereka merasakan (misalnya baik, buruk, sakit) dan kemampuan untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari.
Mungkin terkesan membosankan jika berbicara sehat dan sakit melalui pendekatan ilmu kesehatan karena itu semua sudah menjadi santapan para penggelut kesehatan. Akan lebih menarik apabila sehat dan sakit tidak hanya dianalisa dari sistem organ tubuh seseorang saja. Kini, sehat dan sakit lebih banyak datang dari aspek sosial budaya. Mulai dari mindset dirinya bahwa ia tetap sehat meski mungkin kondisi tubuhnya telah sedikit melenceng dari takaran sehat, sampai terkait faktor ekologi yang mana dia bisa tidaknya beradaptasi terus menerus dengan lingkungannya. Oleh sebab itu sesuai tujuan awal tulisan ini, kami juga menelisik konsep sehat dan sakit melalui aspek sosial budaya yang dalam hal ini melalu pendekatan studi Ilmu Antropologi Budaya dan Psikologi sebagai wakil dari kluster sosiohumaniora.
Sehat dan Sakit Dalam Kacamata Sosial-Budaya
Tidak hanya bidang ilmu kesehatan saja yang bisa menelaah konsep sehat dan sakit. Sejatinya, istilah sehat mengandung banyak muatan kultural, sosial dan pengertian profesional yang beragam. Dulu dari sudut pandang kedokteran, sehat sangat erat kaitannya dengan kesakitan dan penyakit. Dalam kenyataannya tidak sesederhana itu, sehat harus dilihat dari berbagai aspek salah satunya sosial budaya begitupun juga untuk konsep sakit. Sehingga, antropologi kesehatan menjadi salah satu bidang Ilmu Sosiohumaniora yang dinilai mampu menghadirkan pandangan lain tentang konsep sehat dan sakit. Antropologi kesehatan dipandang sebagai disiplin ilmu biobudaya yang memberi perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosial budaya dari tingkah laku manusia, terutama tentang caracara interaksi antara keduanya sepanjang sejarah kehidupan manusia yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit. Penyakit sendiri juga ditentukan oleh budaya, mengingat penyakit merupakan pengakuan sosial bahwa seseorang tidak dapat menjalankan peran normalnya secara wajar. Dengan demikian, sehat dan sakit tidak hanya terkait sistem kondisi tubuh individu melainkan juga bersentuhan dengan sisi sosial budaya atau faktor eksternal dalam dirinya. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa sehat dan sakit dipengaruhi pula oleh sisi internal individu, seperti rohani maupun kesehatan jiwa. Berikut, kami uraikan terlebih dahulu mengenai konsep sehat dan sakit secara umum dalam konteks sosial budaya.
Sehat dilihat berdasarkan pendekatan etik sebagaimana yang dikemukakan oleh Linda Ewles dan Ina Simmet (1992) adalah: 1) Konsep sehat dilihat dari segi jasmani yaitu dimensi sehat yang paling nyata karena perhatiannya pada fungsi mekanistik tubuh.
2) Konsep sehat dilihat dari segi mental, yaitu kemampuan berpikir dengan jernih dan koheren. Istilah mental dibedakan dengan emosional dan sosial walaupun ada hubungan yang dekat diantara ketiganya. 3) Konsep sehat dilihat dari segi emosional, yaitu kemampuan untuk mengenal emosi seperti takut, kenikmatan, kedukaan, dan kemarahan, dan untuk mengekspresikan emosi-emosi secara tepat. 4) Konsep sehat dilihat dari segi sosial berarti kemampuan untuk membuat dan mempertahankan hubungan dengan orang lain. 5) Konsep sehat dilihat dari aspek spiritual, yaitu berkaitan dengan kepercayaan dan praktek keagamaan, berkaitan dengan perbuatan baik secara pribadi, prinsip-prinsip tingkah laku, dan cara mencapai kedamaian dan merasa damai dalam kesendirian. 6) Konsep sehat dilihat dari segi societal, yaitu berkaitan dengan kesehatan pada tingkat individual yang terjadi karena kondisi-kondisi sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang melingkupi individu tersebut.
“Adalah tidak mungkin menjadi sehat dalam masyarakat yang “sakit” yang tidak dapat menyediakan sumber-sumber untuk pemenuhan kebutuhan dasar dan emosional,” (Dumatubun, 2002)
Konsep sakit juga bisa dikaji melalui konteks sosial budaya. Jika sakit secara medis dikarenakan terganggungya fungsi sistem organ tubuh, sakit secara sosial budaya lebih berkaitan dengan faktor eksternal yaitu tidak mampunya individu beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang ada. Konsep sakit juga datang dari pandangan para ahli antropologi kesehatan yang dari definisinya dapat disebutkan berorientasi ke ekologi, menaruh perhatian pada hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan alamnya, tingkah laku penyakitnya dan cara-cara tingkah laku penyakitnya mempengaruhi evolusi kebudayaannya melalui proses umpan balik (Soejoeti, 2000). Sedangkan konsep sakit secara etnik, diuarikan Foster dan Anderson (1986) dengan membagi pengertian sakit menjadi dua kategori, yaitu : a) Personalistik. Munculnya penyakit disebabkan oleh intervensi dari suatu agen yang aktif, yang dapat berupa makhluk supranatural, makhluk yang bukan manusia, maupun makhluk manusia. b) Naturalistik. Penyakit dijelaskan dengan istilah-istilah yang sistematik dan bukan pribadi. Naturalistik mengakui adanya suatu model keseimbangan. Sehat terjadi karena unsur-unsur yang tetap dalam tubuh seperti panas, dingin, cairan tubuh berada dalam keadaan seimbang menurut usia dan kondisi individudalam lingkungan alamiah dan lingkungan sosialnya, apabila keseimbangan terganggu, maka hasilnya adalah penyakit (1986 ;63-70).
Lantas, apa itu sehat menurut Ilmu Psikologi? Ilmu psikologi sendiri memiliki pengertian ‘sehat’ yang bisa dikatakan mirip dengan pengertian sehat menurut World Health Organization (WHO), yaitu “keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat,”. Salah satu tokoh Psikologi, yaitu Abraham Maslow juga menambahkan bahwa pengertian sehat yaitu “manusia sehat adalah manusia yang mampu mengaktualisasikan dirinya dan mencapai kebahagiaan,”. Jadi, pengertian sehat dari sisi psikologi bisa dikatakan adalah saat manusia bisa produktif dan mencapai kebahagiaan. Jikalau ada sehat, pasti ada sakit.
Bagaimana Ilmu Psikologi memandang pengertian sakit itu sendiri? Sebenarnya, psikologi memandang kondisi itu adalah interaksi antara penyakit, aspek personal individu (seperti kondisi psikologis), dan aspek sosial. Sehingga, tidak bisa dikatakan bahwa seorang manusia itu sakit hanya melihat dari kondisi fisik. Ada aspek lain seperti yang dijelaskan tadi. Tentu saja pengertian seperti ini membuat pengertian sehat dan sakit sedikit menjadi lebih berbeda dibandingkan pengertian yang sudah dimaklumi dalam sehari-hari terlebih pada pemaknaan ilmu kesehatan. Misalkan, dalam keseharian, jikalau muka kita sedikit pucat, sudah seringkali kita dianggap sakit oleh orang lain. Namun, menurut pengertian dari Ilmu Psikologi tadi, selama itu tidak mengganggu mobilitas kita sehari-hari, itu tidaklah membuat kita terkena deifinisi sakit itu sendiri, sehingga bisa dikatakan orang itu sehat.
Namun, itu semua baru teori semata. Kami berkeinginan untuk mendapat informasi langsung dari salah satu mahasiswa yang menurut kami dewa dari isu sehat dan sakit dalam konteks sosial budaya. Fakultas Psikologi, tetangga dekat kami menjadi tujuan untuk mendapat segudang informasi. Tidak cukup sulit untuk mendapatkan narasumber karena kebetulan kami ada teman di sana, sehingga tidak membutuhkan waktu lama bagi kami untuk menjemput informasi yang kami cari. Setelah bertemu dan menentukan waktu untuk berdiskusi, 17 Desember 2019 menjadi kesepakatan kami untuk saling bertukar informasi.
Hari yang sudah disepakati pun akhirnya tiba. Duduk berjejeran menyandarkan punggung pada putihnya tembok membuat kami nyaman dan siap untuk mengulik informasi. Sudah cukup lama kami menanti, tetapi teman kami tak kunjung menyambangi. Segera kami menghubungi narasumber kami lagi, yaitu N (20). Kami tulis demikian karena sesuai permintaan dia selaku pemilik informasi yang kami butuhkan terkait tulisan ini. Sayangnya, ketika kami mencoba menghubunginya dia mengatakan bahwa dirinya sakit dan tidak bisa berdiskusi secara langsung untuk berbagi pandangan. Namun, untuk memberikan informasi melalui gawai, masih sanggup dia lakukan. Kami pun akhirnya berdiskusi dengann N melalui aplikasi Whatsapp. Kami menanyakan tentang pengertian sehat menurut Ilmu Psikologi, karena untuk meyakinkan terkait teori yang kami uraikan di atas itu benar atau tidak. Menurut narasumber kami, sehat adalah kondisi terbebas dari penyakit, dapat melakukan aktivitas dengan baik. Dengan sehat fisik, mental, dan sosial maka individu dapat mencapai potensi maksimal dalam diri individu dan mencapai aktualisasi diri. Menurut kami, pengertian ini cukup sama dengan apa yang kami temukan sebelumnya. Kami tergelitik untuk menanyakan bagaimana Ilmu Psikologi membedakan yang sehat dengan yang sakit. Narasumber kami menjawab, bahwa Ilmu Psikologi membedakan orang sakit dan sehat orang sehat apabila ia dapat mencapai aktualisasi diri dengan menggunakan seluruh potensi dalam hidupnya, sementara orang sakit apabila ia belum bisa mencapai aktualisasi diri dalam hidupnya karena terdapat beberapa kendala. Misalkan karena penyakit ataupun gangguan. Psikologi sendiri memiliki pengertian tentang gangguan, yaitu gangguan psikologis merupakan disfungsi psikologis dalam diri individu yang berhubungan dengan distres pada fungsi respon yang atipikal atau secara kultural tidak diharapkan. Misalkan saja perilaku yang tidak diterima di lingkungan sosial ataupun interpretasi yang salah terhadap suatu realitas. Menurut pengertian ini, kami jadi berpikir. Apakah vonis sehat atau sakit, selain dinilai oleh diri sendiri, juga harus mendapat ikut campur dari orang lain?
Kesimpulan
Masalah kesehatan merupakan masalah kompleks yang merupakan hasil dari berbagai masalah lingkungan yang bersifat alamiah maupun masalah buatan manusia, sosial budaya,perilaku, populasi penduduk, genetika, dan sebagainya. Pengertian sakit menurut etiologi naturalistik dapat dijelaskan dari segi impersonal dan sistematik, yaitu bahwa sakit merupakan satu keadaan atau satu hal yang disebabkan oleh gangguan terhadap sistem tubuh manusia. WHO mendefinisikan pengertian sehat sebagai suatu keadaan sempurna baik jasmani, rohani, maupun kesejahteraan sosial seseorang. Konsep sehat dan sakit hadir dalam dua paradigma yang berbeda, misalnya dipandang dari sudut fisik secara individu dan dari sudut ekologi. Konsep sehat secara fisik adalah jika seseorang tersebut memiliki organ tubuh yang berfungsi normal sesuai dengan umur dan jenis kelamin, sebaliknya untuk konsep sakit. Pernyataan ini menjadi konsep sehat dan sakit dalam paradigma kluster medika. Sedangkan kluster sosiohumaniora melalui sudut ekologi berpandangan bahwa sehat dan sakit terkait dengan proses penyesuaian dengan lingkungannya, apakah akan terus berlangsung dan sesuai dengan perubahan lingkungannya atau tidak.
“Banyak orang yang berpikir bahwa sehat adalah tidak sakit, maksudnya apabila tidak ada gejala penyakit yang dirasakan oleh individu maka tubuh kita dalam keadaan sehat. Padahal, menurut kami pendapat demikian kurang tepat. Ada kalanya penyakit baru dirasakan setelah cukup parah, seperti kanker yang baru diketahui setelah stadium 4. Apakah berarti sebelumnya penyakit kanker itu tidak ada? Tentu saja ada, tetapi tidak terasa. Berarti tidak adanya gejala penyakit bukan berarti sehat.”
Secuil paragraf tersebut menurut kami jelas bisa merepresentasikan bagaimana kedua bidang ilmu pengetahuan berperan masing-masing. Secara klinis ternyata seseorang dinyatakan “tidak sehat”, tetapi aspek sosial budaya menguatkan dirinya bahwa dia “sehat” karena aktivitas kesehariannya tidak terganggu dan berjalan seperti biasanya. Kabur memang batasan sehat dan sakit yang sesungguhnya. Kami pun tidak mampu apalagi berhak untuk memutuskan paradigma mana yang benar dan tidak, karena kami belum menjadi “orang” dengan banyak pengalaman, wawasan, bahkan ilmu pengetahuan. Pun jika kami sudah memilikinya, tetap tidak akan mudah untuk memutuskannya karena keduanya memang memiliki fokus masing-masing yang benar adanya. Kami masih butuh banyak belajar dan berjuang serta tak lupa menggapai status sehat secara klinis tentunya juga secara ekologis.
Kritik dan Saran Senang rasanya kami bisa berdiskusi bertukar pandangan tentang sehat dan sakit melalui dispilin ilmu kami masing-masing. Banyak sekali wawasan baru untuk kami melalui obrolan ringan dengan Ardya selaku mahasiswa Ilmu Kemasyarakatan (2017) dan N selaku mahasiswa psikologi (2017). Diskusi ini menjadikan kami untuk jangan hanya berkutat pada disiplin ilmu kita masing-masing. Seyogianya semua ilmu pengetahuan memiliki keterkaitan satu sama lainnya, tak terkecuali untuk konsep sehat dan sakit ini. Tema yang menarik untuk didiskusikan karena sangat berkaitan dengan kehidupan setiap insan. Ardya dengan background bidang kesehatan dengan lugas menceritakan apa yang dipelajarinya selama ini terkait sehat dan sakit. Begitupun N yang meski tidak bisa berdiskusi langsung secara fisik tetapi tetap berbagai informasi yang semakin memperkaya tentang sehat dan sakit. Meski demikian, kami merasa tentunya tulisan ini belum sempurna layaknya tulisan lainnya. Oleh karenanya kami sangat membuka kritik dan saran agar tulisan kami menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Comments