top of page
  • Black Instagram Icon
Search

Sebuah Perbandingan: Dibully agar Mati atau Dibully untuk Mempertahankan Eksistensi?

Adnani Bunga Shakuntala

Sebuah Perbandingan: Dibully agar Mati atau Dibully untuk Mempertahankan Eksistensi?

Oleh

Adnani Bunga Shakuntala (18/430851/SA/19466) & Deva Bahtiar Putri (18/430858/SA/19473)

Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya


Ada apa dengan dunia perartisan? Kenapa banyak dari kalangan mereka yang terkena cyberbullying? Salahkah menjadi seorang artis jika dirinya tidak sesuai dengan keinginan penggemar atau pun bukan penggemar? Kenapa menjadi artis harus tahan dengan rundungan, sedangkan netizen bebas melakukan bullying? Topik ini kami pilih berdasarkan kegemaran mengamati komentar masyarakat Indonesia terhadap kasus-kasus yang menimpa dunia hiburan di Korea Selatan dan Indonesia. Melihat cyberbullying dalam pandangan psikologi dan antropologi. Dalam tulisan ini, kami memilih untuk mewawancarai Prof. Koentjoro yang merupakan seorang ahli psikologi sosial dan seorang mahasiswa tingkat akhir dari fakultas Psikologi. Di samping itu juga, kami mewawancarai tiga orang teman kami yang turut melakukan bullying terhadap penggemar artis Korea dan seorang teman yang berada dan menjadi pengurus di sebuah komunitas fandom di Yogyakarta.


Cyberbullying dalam Pandangan Psikologi


Psikologi merupakan ilmu tentang perilaku. Sedangkan cyberbullying merupakan tindak intimidasi atau penindasan yang dilakukan melalui perantara media sosial. Menurut Koentjoro, melihat dari sisi pelaku, pilihan untuk melakukan bullying terhadap orang lain terjadi karena adanya benturan nilai-nilai yang ada dalam suatu interaksi antar orang bahkan antar kelompok. Bagi pelaku, melakukan bullying merupakan ekspresi dari rasa kekecewaan mereka terhadap orang lain. Bullying juga dapat diartikan sebagai proses ketidaksetujuan seseorang atau sekelompok orang terhadap perilaku maupun ucapan yang dilakukan oleh yang lainnya.


Mereka menganggap bahwa korban tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka, ketika rasa kecewa ini meluap yang bisa dilakukan hanyalah melakukan bullying terhadap mereka dengan cara menyampaikan unek-unek dan pendapat dengan sarkas. Bully bisa terjadi antara individu dan kelompok (individu sebagai objek untuk ditindas) dan antar kelompok (perang bullying). Pada kasus individu dan kelompok di Indonesia, dapat kita temui sebagai contoh yaitu Vanessa Angel, ia menerima tindakan bullying oleh masyarakat Indonesia karena kasusnya. Sedangkan perang bullying sebagai contohnya adalah Cebong dan Kampret pada saat pemilihan presiden beserta wakilnya pada tahun ini.


Sedangkan menurut Ilda, seorang mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Psikologi, Cyberbullying merupakan pelampiasan karena mungkin saja pelaku cyberbullying ini pernah memiliki pengalaman yang sama namun belum bisa melampiaskan dengan baik, maka ia menyalahkan orang lain. Di samping itu, kemungkinan lainnya adalah karena pelaku memang tidak menyukai korban.


Prof. Koentjoro menjelaskan perilaku bullying ini dapat dilakukan dengan banyak cara. Ada yang secara langsung melakukan tindakan bullying dan melalui media sosial. Pada media langsung ini terdapat seperangkat aturan yang membatasi pelaku, sehingga umumnya mereka melakukan bullying melalui media sosial. Kenapa? Karena di dunia media sosial, mereka merasa berada di dalam dunia yang tidak kelihatan siapa dia yaitu situasi dimana seseorang tidak diketahui identitasnya (anonim).


Dengan anonim ini mereka semakin berani untuk melakukan tindakan bullying terhadap orang yang tidak disukai, dan ketika ada orang lain yang ikut melakukan bullying atau bahkan mendukungnya di kolom komentar media sosial, pelaku bullying akan bertambah keberaniannya. Mereka merasa memiliki teman dan mendapat dukungan dengan apa yang dia lakukan. Dalam dunia cyberbullying sebenarnya banyak berlaku hukum psikologi masa, seperti si pelaku ini memiliki sifat yang kekanak-kanakan, ingin pemuasan segera, asal ngomong saja, dan apabila dihalangi akan marah, serta mencari perhatian.


Sebaliknya, dilihat dari sisi korban. Jika korban belum siap menerima bullying, bisa saja ia akan mengalami depresi yang berat. Semakin tertekan apabila yang melakukan tindakan bullying terhadap dirinya merupakan sebuah kelompok, kelompok tersebut lama-lama akan membentuk sebuah opini-opini publik yang berpengaruh terhadap nama baik korban. Yang mana membangun nama baik bukanlah hal yang mudah dan pada akhirnya membuat ia depresi. Depresi banyak dialami oleh orang yang introvert karena mereka akan memendam dan memikirkan sendiri permasalahan yang dihadapi.


Ketika korban yang menerima tindakan bullying tertekan dan berujung depresi, terlebih mereka merupakan orang yang introvert yang tidak memiliki teman untuk bercerita, mereka memikirkannya sendiri dan berujung pada terobsesi dengan diri sendiri. Mereka mengembangkan pikirannya dengan hal-hal negatif dan cenderung mencari kesempatan untuk bunuh diri. Karena merasa tidak ada gunanya lagi melanjutkan kehidupan.


Berdasarkan penjelasan dari Ilda, setiap individu memiliki kekuatan masing-masing yang dapat berasal dari dalam atau luar. Kekuatan dari luar ini dijelaskan merupakan dukungan-dukungan dari teman dan keluarga. Sedangkan kekuatan dari dalam adalah dari diri sendiri, meyakinkan dan menguatkan diri sendiri. Namun karena banyak komentar atau kritik yang diterima, bagi yang lemah, bisa saja korban mengalami guncangan identitas di mana ia lebih mempercayai omongan-omongan dari orang yang tidak ia kenal. Korban dapat merasakan kepercayaan atas dirinya menurun atau bahkan hilang dan berpikir lebih baik untuk bunuh diri. Kekuatan dari dalam dan luar disebutkan harus adil. Sebenarnya, peran keluarga dan teman itu sama-sama penting, namun ketika keluarga dan teman tidak lagi menjadi support system, pikiran-pikiran untuk bunuh diri turut semakin besar.


Kasus Cyberbullying terhadap Artis di Indonesia dan Korea Selatan


Seperti penggalan lagu “...dunia ini panggung sandiwara..” yang dinyanyikan oleh Nicky Astria, sama halnya di dunia hiburan. Kita hanya melihat dunia artis penuh dengan kebahagiaan, tanpa tahu apakah itu kenyataan atau sandiwara saja. Tinggal pandai-pandainya mereka membungkus topengnya.


Desa mawa tata, negara mawa cara, seperti itulah peribahasa yang menggambarkan perbedaan sikap dan nilai yang dianut antar tempat. Dapat dilihat bagaimana perbedaan dampak cyberbullying terhadap artis Indonesia dan Korea Selatan. Di Indonesia, ketika ada yang membuat sensasi entah itu dari kalangan artis ataupun pendatang, mereka akan menerima tindakan bullying, namun dampaknya adalah semakin terkenalnya mereka, mereka mendapat tawaran wawancara di berbagai stasiun TV, dan tentunya mendapat uang.


Menurut Prof. Koentjoro, di Indonesia banyak orang yang melakukan perang-perang untuk mencari perhatian. Dan hal itu, dilakukan lagi pada masa sekarang oleh para artis. Artis yang dulu dan biasa menjadi pusat perhatian, ketika tidak diperhatikan lagi oleh orang banyak mereka akan membuat skenario “perang” dengan artis lainnya atau bahkan membuat sensasi dengan mengumbar privasi mereka untuk menarik perhatian publik lagi.


“Menjual dirinya” untuk menjadi pusat perhatian sudah menjadi hal umum di kalangan artis Indonesia. Contohnya jika dia penyanyi, yang “ditonjolkan” goyangan khasnya yang dinilai publik vulgar atau memposting foto dirinya memakai pakaian minim di media sosial yang pasti mendapat beragam komentar dari publik. Tak hanya itu, ada juga sebagian artis Indonesia yang pada dasarnya tidak siap untuk menjadi terkenal. Ketika mereka sudah terlanjur terkenal, pasti ada berbagai tuntutan dan peran yang harus dipenuhi mereka, dan pada titik dimana mereka merasa tidak mampu memenuhi tuntutan dan peran tersebut, pelampiasannya adalah memakai obat-obatan terlarang dengan dalih menjaga stamina saat bekerja.


Berbeda dengan Korea Selatan, dari masa kanak-kanak mereka dituntut untuk mencapai hasil yang sempurna. Entah dalam bidang pendidikan maupun pekerjaan. Korea dan Jepang memiliki orientasi maju bersama untuk mencapai dan merasa bangga dengan prestasi dengan tantangan dunia. Menurut Prof. Koentjoro, Korea Selatan merupakan salah satu negara yang menjunjung tinggi profesionalisme. Dan ketika masyarakatnya menganggap artis tertentu tidak sempurna dan memenuhi ekspektasi, artis ini akan dibuli. Dan ketika mendapat bulian, mereka cenderung akan merasa sakit hati dan mereka menganggap dirinya memalukan.


Contoh lain, di negara Jepang. Pada saat pejabat ketahuan melakukan korupsi mereka memilih untuk bunuh diri saja, karena menganggap dirinya sendiri memalukan. Berbanding terbalik dengan apa yang terjadi pada koruptor di Indonesia. Nilai-nilai yang kita anut di Indonesia berbeda dengan nilai-nilai yang dianut oleh negara lain. Berdasarkan penjelasan Prof. Koentjoro, pada nilai yang kita anut, prestasi bukan diartikan sebagai sebuah simbol, melainkan digunakan sebagai media untuk menunjukkan betapa hebatnya kita dalam pandangan orang lain.


Contoh cyberbullying yang dilakukan netizen Indonesia, di media sosial instagram terdapat sebuah akun yang kerap memposting berita dari berbagai belahan dunia. Dan ketika akun tersebut memposting tentang artis Korea Selatan, lontaran-lontaran seperti “muka plastik”, “plastik mudah terbakar”, “oh kirain ada yang mati lagi”, “modal tampang”, “cantik tapi sayang krempeng”, “cowok kog cantik”, “banci”, “plastik susah terurai kalo mati” dapat kita temui di kolom komentar.


Ketika fans K-Pop dinilai alay, norak, dan bar-bar, netizen justru menggunakan artis yang fans idolakan untuk memicu kemarahan mereka. Mereka merasa senang jika fans mulai marah karena mereka ketrigger. Mungkin mereka menganggap hal itu sebagai hiburan tanpa tahu bahwa yang mereka lakukan itu termasuk cyberbullying. Mereka ini berasumsi bahwa wajah semua orang Korea yang tampan, cantik, dan imut merupakan hasil dari operasi plastik. Dan kemudian mereka gunakan untuk mengomentari apapun mengenai Korea dengan kata-kata yang berhubungan dengan itu.


Namun, lain halnya ketika artis dari Barat melakukan operasi plastik. Pada kenyataannya, banyak artis western yang juga melakukan operasi plastik. Antara bagaimana netizen Indonesia menanggapi artis dari Barat dan Korea ini sangat berbeda. Misalnya, Michael Jackson, salah satu artis yang melakukan operasi plastik juga, tetapi ia tetap saja dihormati oleh publik. Bahkan mirisnya, ketika artis Korea Selatan telah meninggal pun apalagi dengan cara bunuh diri, netizen Indonesia masih melakukan tindakan bullying terhadapnya.


Ilda menjelaskan, bahwa kebudayaan antara Korea Selatan dan Indonesia itu berbeda. Ia merasakan bahwa orang Indonesia ini ingin cepat viral atau terkenal, menghalalkan segala cara untuk menjadi terkenal. Dan menurutnya, budaya Indonesia ini toleransi untuk memaafkan dan melupakan itu tinggi jika dibandingkan dengan Korea Selatan. Sebut saja seorang artis Indonesia melakukan sebuah kesalahan, maka dengan berangsurnya waktu, masyarakat akan melupakan permasalahan yang dulu pernah menimpa artis tersebut dan bahkan ia bisa saja semakin banyak menerima penggemar. Di Korea Selatan, mereka selalu mengungkit-ungkit suatu permasalahan meskipun artis tersebut telah berusaha untuk berubah menjadi lebih baik.


Terdapat suatu kasus di Indonesia, dulu nama ‘Awkarin’ sangat terkenal karena dirinya yang kontroversial. Namun dengan berjalannya waktu, orang-orang kini melihat Karin Novilda ini sebagai public figure yang dapat dicontoh karena kebaikannya terhadap masyarakat Indonesia. Masyarakat mungkin masih mengingat mengenai video Karin yang menangis karena sang kekasih, Gaga, memutuskan hubungan mereka dan beranggapan bahwa video tersebut berlebihan, namun masyarakat tidak lagi mengungkit-ungkit masalah yang terjadi pada tahun 2016 silam.


Sedangkan kasus di Korea Selatan, kami mengambil contoh yang melibatkan seorang anggota dari boyband Monsta X, Wonho. Masa lalu Wonho sempat diungkit oleh Jung Da-eun dan Han Seo-hee. Karena merasa bersalah dengan apa yang diperbuatnya di masa lalu, Wonho pun memutuskan untuk keluar dari boyband Monsta X. Dalam sebuah postingan di instagram, Jung Da-eun membagikan wajah Wonho di layar televisi dengan caption “Hoseok (nama asli Wonho), kapan uangku akan kembali? Hehehe” dan kemudian Han Seo-hee turut ikut dalam ‘drama’ tersebut dengan membagikan masa lalu Wonho melalui platform twitter Oktober lalu. Ia menuliskan “Aku tahu apa yang kamu lakukan di 2008. Pusat penahanan Suwon karena sebuah tuduhan khusus” dan “Aku bahkan belum mulai. Bukankah ada di pusat penahanan remaja menjadikanmu seorang terpidana?”


Kehidupan di Korea sangatlah berat karena mereka akan terus mengungkit-ungkit suatu masalah. Dan Ilda merasakan bahwa di Korea, bullying secara langsung atau tidak dilakukan karena tingkat persaingan perorangnya itu banyak dan tinggi. Pelaku tindakan bullying akan merasa superior dan merasa lebih hebat ketika ia melakukan tindakan bullying kepada mereka yang lebih lemah. Di sekolah, jarang sekali orang akan membantu mereka yang menjadi korban bullying karena mereka akan turut menjadi korban bullying setelah membantu yang tertindas.


Terdapat kasus lainnya yang kali ini diterima oleh Sulli, mantan anggota dari girlgroup f(x). Kini, Sulli telah tiada setelah bunuh diri di rumahnya karena depresi. Ia mengakhiri hidupnya pada Oktober lalu. Wanita dengan nama asli Choi Jinri ini mengaku memiliki gejala penyakit mental yang membuatnya hengkang dari f(x), namun oleh netizen Korea Selatan masih menganggap ia hanya mencari perhatian publik. Setelah ia mengundurkan diri dari f(x), ia mengkampanyekan aksi tidak memakai bra demi kesehatan. Sulli kerap menerima hujatan di media sosialnya, seperti “Dulu waktu di f(x) dia kelihatan sangat lugu, tapi sekarang binal”, “Sampai berani nggak pakai bra gitu, kayaknya dia mabuk deh”, “murahan banget, dasar pelacur nasional”, dan “harusnya kamu mati lebih cepat”. Ia pernah mengatakan pada siaran langsung di Instagram, “Aku bukan orang jahat, kenapa kalian melakukan ini padaku? Sebut satu saja alasan yang membuatku layak menerima ini”. Sebelumnya, Sulli pernah berkencan dengan seorang rapper dari Dynamic Duo, Choiza. Ia mendapat hujatan karena mereka menganggap Sulli salah pilih pasangan karena Choiza bukanlah selebriti papan atas seperti Sulli, pada akhirnya mereka putus hubungan pada 2017. Ia menyakiti diri sendiri saat sedang mabuk setelah berpisah dengan Choiza. Bukannya bersimpati, netizen Korea Selatan semakin giat menghujat Sulli. Ia pernah sempat ingin menuntut mereka yang melakukan hate comment terhadapnya, namun ia urungkan setelah mengetahui bahwa pelakunya berkuliah di universitas yang bagus. Ia tidak ingin menghancurkan masa depan orang dengan gelar kriminal akibat komentar jahat. Setelah kematian Sulli, netizen kini merundung Choiza dan menyalahkan Choiza atas kematian Sulli. Korean netizen mengatakan bahwa hubungan antara Choiza dan Sulli adalah salah satu penyebab Sulli mendapat komentar jahat dan berakhir bunuh diri. Sedangkan dalam sebuah postingan di sebuah akun Indonesia yang memberitahukan mengenai hasil otopsi Sulli, beberapa netizen berkomentar seperti “mengandung banyak plastik”, “Wahh, berarti polisi dah lihat2 badan suli dong, jadi pengen”, “Lowbatt kali itu (emoticon) coba di charge lagi pasti idup lagi wkwk”, “hoax gak ada foto tubuhnya”, “apa cma saya yg gk kenal orng ini. Tpi disuruh harus tau sama (nama akun yang posting)”, “positif ajah siapa tau kandungan racun dalam plastiknya udah rembes kedalam jantung”, “miris lihat komenannya”, “knpaaa kpop banyak yang meninggal? Apakah kpop akan punah?” dan masih banyak lagi komentar-komentar yang dilontarkan di dalam postingan tersebut


Membahas mengenai depresi, seorang dapat dikatakan mengalami depresi jika dia susah tidur, mudah tersinggung, mudah capek, dan suka merenung. Cara mengatasinya adalah berteman dengan banyak orang dan bercerita ketika ada permasalahan ke keluarga, teman, ataupun psikolog. Sedangkan Ilda yang ternyata pernah mengalami depresi mengatakan bahwa terdapat beberapa tingkatan, yaitu stres, cemas, dan depresi. Stres dapat terselesaikan dengan bercerita ke teman dan selesai. Cemas ini gampang panik dan khawatir. Lalu tingkat akhir adalah depresi yang menurut Ilda sudah benar-benar butuh bantuan dari yang lebih ahli.


Cyberbullying dalam Pandangan Antropologi


Dari sudut pandang antropologi, bullying merupakan suatu tindakan rasis dan diskriminasi yang dilakukan oleh individu atau kelompok kepada individu atau kelompok lain yang dianggap tidak sesuai dengan mereka. Rasisme ilmiah menggunakan antropologi (antropologi fisik), antropometri, dan kraniometri dalam mengembangkan tipologi antropologis yang mendukung klasifikasi manusia yang terpisah secara fisik, dan dianggap lebih unggul atau lebih rendah dari ras lainnya. Setelah Perang Dunia II, ras dianggap bukan lagi fenomena biologis melainkan mitos sosial. Mitos sosial telah menimbulkan kerusakan serta penderitaan sosial dan kemanusiaan.


Bullying memiliki arti yang jauh dari sekadar “hinaan” atau “pukulan”, tetapi hal-hal yang berupa candaan secara sengaja atau tidak sengaja juga dapat dikategorikan sebagai tindakan bullying. Seringkali mereka menjustifikasi hal tersebut dengan kalimat “Halah bercanda doang” “Ah baperan kamu” dan kemudian mereka menganggap masalah selesai. Namun bagi yang menjadi sasaran buli, apakah mereka juga menganggap masalah selesai begitu saja? Tentu tidak.


Tindakan mem-bully erat kaitannya dengan budaya feodalisme yang masih dianut oleh masyarakat Indonesia. Feodalisme adalah suatu sistem sosial dan politik yang dijalankan oleh kalangan bangsawan untuk mengendalikan berbagai wilayah yang diklaimnya. Unsur feodalisme tersebut yang mendukung terjadinya bullying.


Penggemar: Defender Sang Idola yang Berlebihan?


Korean Pop, merupakan program dari pemerintah Korea Selatan untuk memperkenalkan budaya Korea ke dunia. Saat ini banyak yang memutuskan untuk menjadi penggemar K-Pop dari Indonesia maupun negara lainnya. Menurut Prof. Koentjoro, penggemar dibedakan menjadi dua, yaitu penggemar imitasi dan penggemar identifikasi. Penggemar imitasi merupakan seorang penggemar yang meniru 100% gaya bicara dan style idola mereka, tanpa melihat apakah hal itu cocok pada dirinya. Sedangkan penggemar identifikasi merupakan penggemar yang awalnya tertarik seorang idola, kemudian dia mempelajari kehidupannya idolanya, dan akhirnya meniru beberapa hal yang dianggapnya cocok untuk dirinya. Sebagian besar penggemar di Indonesia masih tergolong penggemar imitasi. Mereka menjadikan seorang idola sebagai objek imitasi.


Melalui wawancara singkat melalui media sosial dengan seorang Kpopers yang telah berada di dunia kpop sejak tahun 2011, Nita, kami berusaha mengulik mengenai pandangannya terhadap cyberbullying yang sering terjadi di dunia Kpop. Nita merupakan seorang bendahara di komunitas fanbase NCTzen (nama penggemar boyband NCT) Yogyakarta dan beberapa kali ikut mengurus event Kpop. Menurutnya, cyberbullying ini tidak dapat dibenarkan. Tanpa sadar, hal tersebut mungkin dapat mempengaruhi orang lain juga dan dapat sampai langsung ke korban. Tidak semua orang juga bisa tahan dengan perkataan kebencian yang dilontarkan orang lain. Hal seperti ini seharusnya tetap kembali kepada diri masing-masing untuk selalu menjaga tulisan di media sosial. Ia mengaku ia hanya membiarkan atau langsung report komentar kebencian yang ia lihat, jika ia membalas komentar itu hanya sekadar dalam bentuk joke. Ia yang telah lama di dunia kpop merasa tidak peduli dengan mereka yang tidak menyukai kpop. Menurutnya, sebagai penggemar pasti ada tugas untuk melindungi idola mereka. Namun perilaku setiap penggemar untuk melindungi idola mereka akan berbeda-beda. Ia mengklasifikasikan bahwa di dalam penggemar terdapat penggemar yang benar-benar melindungi idola mereka seperti protection squad dan terdapat juga penggemar yang melindungi idola mereka dengan tidak mengumbar-umbar. Baginya, yang terpenting adalah saling menghargai dan tidak bersifat memaksa sesama penggemar untuk melakukan sesuatu.


Selain dengan Nita yang merupakan bagian dari fanbase Kpop, kami juga bertanya-tanya singkat pada beberapa teman kami yang turut mengujarkan kata-kata “plastik” terhadap postingan kami mengenai Kpop, yaitu Chanyeol, Siphal, dan Jennie (semua nama disamarkan). Mereka bertiga bukanlah seseorang yang menyerang idol ataupun artis, namun mereka menyerang penggemar-penggemarnya. Jennie, seorang perempuan yang kini tengah mengemban kuliah di sebuah Universitas favorit di Yogyakarta, mengaku bahwa dulu ia hanya ikut-ikutan menyebutkan ‘plastik’ karena sebuah akun meme yang dulu kerap mengeluarkan dan menyangkut-pautkan meme plastik dengan kpop. Ia memandang penggemar kpop itu barbar. Namun sekarang ia tidak lagi melakukan hal tersebut di media sosial, ia hanya menjadikan kata-kata ‘plastik’ untuk bercanda dengan temannya. Tidak jauh berbeda dengan Chanyeol, seorang laki-laki yang baru saja mengemban ilmu di sebuah Politeknik Keuangan Negara yang terkenal, ia memandang penggemar kpop itu barbar, mudah marah, dan membela idolanya mati-matian. Ia menghujat sang idola hanya karena ingin membuat penggemarnya marah dan ingin memancing keributan. Ia mengaku tidak pernah memancing keributan dengan seseorang yang tidak ia kenal, biasanya ia akan melakukan hal tersebut pada teman-teman dekatnya sebagai bahan bercanda tanpa ada maksud untuk menyakiti hati. Ia berpendapat bahwa seorang penggemar seharusnya biasa saja dalam membela idola mereka, tidak berlebihan. Dan ia tidak setuju pada bullying yang ditujukan pada orang yang telah meninggal, orang meninggal tidak pantas untuk dijadikan bahan bercandaan. Ia memandang bahwa komentar-komentar di media sosial kemungkinan hanyalah bercanda yang ditanggapi berbeda oleh orang lain karena para pengguna tidak saling kenal satu sama lain. Sedangkan untuk Siphal, seorang laki-laki yang tengah mengemban perkuliahan jurusan hukum islam, ia merupakan seseorang yang menggunakan ‘otot’ dalam berbincang membahas kpop dan ia mengajukan argumen-argumennya seperti yang akan kami tulis setelah ini. Ia menggunakan dasar-dasar agama islam untuk menunjukkan bahwa menjadi pencinta kpop itu tidak diperbolehkan karena beberapa idol melakukan operasi plastik, sedangkan operasi plastik di islam adalah haram. Ia pun merasa bahwa lelaki Korea tidak seperti lelaki seperti yang seharusnya berdasarkan pada tingkah imut, gaya berpakaian, make up, dan gaya rambut idol kpop. Ketika salah satu dari kami menjelaskan pandangan kami mengenai Korea, ia berkata bahwa kami hanya sok tahu dan sok bijak tentang Korea. Baginya, wajah cantik atau tampan di Korea kalau bukan karena hasil operasi plastik, pasti karena foto editan. Ia berkata bahwa negara demokrasi bebas berpendapat dan sebagai netizen pun bebas untuk berpendapat. Siphal berkata bahwa menyukai kpop itu tidak memiliki manfaatnya dan merasa pendapatnya dapat meluruskan para pencinta kpop untuk tidak membela sesuatu yang tidak ada manfaatnya dan tidak menghasilkan apa-apa. Dalam kasus ini, Siphal hanya mengungkapkan perkataannya pada kami tanpa menaruhnya di media sosial.


Kesimpulan dan Penutup


Pada dasarnya kita memang tidak dapat memaksakan nilai-nilai yang kita anut kepada orang lain atau bahkan negara lain. Orang Korea Selatan memiliki pendapat bahwa mati bisa dilakukan dengan cara apapun, bahkan bunuh diri. Mereka percaya bahwa tidak ada resiko setelah kematian, dan ketika mereka memilih bunuh diri permasalahan mereka akan selesai. Meskipun pada zaman Dinasti Joseon (tahun 1392), masyarakat Korea pada masa itu percaya bahwa “tubuh kita adalah pemberian orang tua”, sehingga harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Bisa dilihat pada film dan drama Korea yang menampilkan lelaki pada masa itu memiliki rambut yang panjang, mereka sengaja membiarkan rambutnya memanjang, karena jika mereka memotong rambutnya berarti mereka durhaka terhadap orang tuan, apalagi jika menyakiti dirinya sendiri. Namun, sepertinya hal itu sudah tidak berlaku pada masyarakat Korea sekarang ini. Ketika merasa tertekan, mendapat bullying, dan depresi mereka memutuskan untuk bunuh diri saja. Daripada harus mempermalukan dirinya dan dianggap tidak berguna.


Di Indonesia, kita percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian yang perlu dipertanggungjawabkan. Ketika seseorang dibully, ada yang menjadikannya sebagai bahan untuk intropeksi. Jika apa yang dilontarkan mereka adalah karena kesalahan ucapan atau perilaku kita, kita hendaknya merubah hal tersebut dan minta maaf. Jadilah bangsa yang berkarakter. Jangan mudah mem-bully dan jangan mempermudah dirimu untuk dibully. Kita harus mempertanyakan pada diri kita sendiri, “apakah yang saya lakukan tadi sudah benar?” “apa yang salah pada diri saya?”. Dan yang terpenting, kita harus belajar menghargai perbedaan masing-masing.


Daftar Pustaka


Chanyeol (nama disamarkan) (Komunikasi Pribadi). 19 Desember 2019

Ilda (Komunikasi Pribadi). 7 Desember 2019

Jennie (nama disamarkan) (Komunikasi Pribadi). 19 Desember 2019

Koentjoro (Komunikasi Pribadi). 19 Desember 2019

Nita (Komunikasi Pribadi). 11 Desember 2019

Siphal (nama disamarkan) (Komunikasi Pribadi). 10 Desember 2019

 
 
 

Recent Posts

See All

Comments


HitamPutih.jpg

Thanks for submitting!

Department of Anthropology

Faculty of Cultural Sciences

Universitas Gadjah Mada

  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Black Pinterest Icon
  • Black Twitter Icon

2019 The Human Stories

bottom of page