Romantisme Gejayan Memanggil
- figofn
- Oct 4, 2019
- 4 min read
Updated: Nov 22, 2019

©Istimewa
Gejayan Memanggil! Gejayan Memanggil! Kalimat itu terus aku serukan dengan tujuan mengumpulkan massa di Fakultas Ilmu Budaya pada Senin (23-09). Semangat pagi hari itu sangat membara, bersama seorang teman yang entah siapa namanya, yang aku tahu dia sedang mengusahakan skripsinya agar bebas dari fakultas budaya tercinta ini. Ia menggenggam sebuah pentungan dan aku yang berteriak. Lucu sebenarnya mengingat momen itu kembali. Mereka menertawai ku, kata mereka saat itu aku bukan seperti orang yang ingin mengumpulkan massa. Intonasi dan semangat yang aku keluarkan saat itu seperti suara panitia yang sedang melakukan danusan. Aku tertawa namun tawaku hanya sebentar, sangat sebentar. Hal itu karena seorang perempuan yang paruh baya memarahi karena tulisan yang kami buat “FIB HARI INI KULIAH LAPANGAN DI GEJAYAN”. Semua omelan yang ia berikan membuat kami akhirnya pasrah dan menanggalkan banner yang bertuliskan kalimat tersebut.
Sebelum aku benar-benar turun ke lapangan, aku mendapatkan sebuah momen yang menyentuh hati. Pagi itu, sangat pagi bahkan, tiba-tiba sebuah pesan yang tidak disangka masuk. Guruku yang sudah jarang berbicara denganku, tiba-tiba mengirimkan pesan dengan memberikan semangat dan menitipkan sebuah amanat mengenai AKSI yang akan kami lakukan. Apresiasi yang ia berikan memberikan semangat tersendiri. Tidak hanya itu, senyuman dan air minum yang diberikan oleh pengendara secara cuma-cuma dan juga para pedagang buah di pertigaan (Colombo, Gejayan) yang melempari kami dengan buahnya. Keduanya memberikan senyuman dan semangat yang luar biasa pada kami dimana hal tersebut menjadi berkah yang luar biasa. Kami sangat disatukan saat itu. Tidak mengenal dari almamater mana, tidak mengenal mahasiswa atau pun dosen, tidak mengenal apapun latar belakang, kita satu sebagai masyarakat.

©Golda
Diriku berdiri disana tidak hanya sebagai orang yang cemas karena RUU yang melemahkan KPK, namun dikarenakan pulau kelahiran diriku, Kalimantan. Ya tidak hanya Riau, Kalimantan juga sedang sangat tidak aman. Asap yang aku rasakan saat bersekolah di putih abu-abu dulu sekarang terulang lagi. Kali ini aku tidak disana, namun orang Tua, adik-adikku, bahkan teman-teman di Kalimantan semuanya menderita. Aku hanya menangis di dalam kesendirian, membayangkan semua derita yang pernah dulu aku rasakan. Aku hanya mengingat betapa panasnya, gerah dan hanya menangis saat itu. Aku pikir tahun lalu adalah kejadian asap yang tidak akan pernah terulang lagi namun tidak pada kenyataannya. Semuanya terulang lagi, aku marah, kesal, merintih, dan aku hanya bisa berdoa. Aku berdiri disana karena lingkungan alam kita yang sedang tidak baik-baik saja. Aku juga tidak melihat bahwa pemerintah akan atau ingin menyelamatkan lingkungan. Aku menuntut agar adanya tindakan oleh pemerintah dan tidak ingin terulang lagi! KAPAN PUN ITU!.
Memaknai Romantisme
Edward W. Said (1995) dalam bukunya Representation of The Intellectual memaknai intelektual sebagai individu yang dikaruniai bakat untuk merepresentasikan pesan, pandangan, sikap kepada publik yang tujuan dari aktualisasi tersebut melahirkan kebebasan untuk memotivasi dan menggugah rasa kritis orang lain agar berani menghadapi ortodoksi, dogma, serta tidak mudah dikooptasi kuasa tertentu, sehingga intelektual harus selalu aktif bergerak dan berbuat dengan ketajaman nalarnya. Perlu di ingat demonstrasi hanya akan menjadi sebuah gelar demokrasi yang menyeramkan ketika mahasiswa sebagai kaum intelektual belum mampu menggunakan intelektualitasnya secara maksimal. Intelektualisme ini hanya akan menjadi hampa dari sebuah gerakan humanisasi. Namun, apa yang aku lihat kemarin tidak lah demikian, pada AKSI saat itu kami sangat aware dan care dengan sampah, kami juga dibekali dengan trashbag. Melihat hal itu, berarti kami sudah dapat menggunakan intelektual dengan cara yang benar. Ketika kami menuntut mengenai sampah dan lingkungan alam, kami tentu tidak menghasilkan sampah dalam AKSI saat itu. Benar-benar peristiwa yang menakjubkan dan jarang terjadi. Gerakan #Gejayanmemanggil sangat hebat. Karena hal ini lah romantisme itu hadir, menyatukan segalanya.
Aku melihat demonstrasi yang dilakukan bukan hanya sebuah teriakan-teriakan mahasiswa saja, di balik itu ada titipan doa dari orang tua, pedagang-pedagang kecil, rakyat-rakyat kecil bahkan dari guru yang mengharapkan perubahan di negara ini.
Ada suntikan dana dari khalayak, dari dosen. Ada semangat dan dorongan dari orang-orang yang merasa tak mampu ikut berteriak menyerukan kehendak, contoh saja guru yang saya sebutkan di artikel ini, tidak mungkin ia menuntut pemerintah karena ia bekerja di bawahnya. Ia melimpahkan begitu banyak doa kepada kami, MAHASISWA. Ya kami adalah pemuda yang mewakili banyak rakyat untuk menyampaikan aspirasi kepada petinggi pemerintah.
AKSI kemarin dapat mematikan jalan walau hanya memakan waktu beberapa jam saja, memberikan dampak yang indah kepada alam. Alam sangat tenang seketika. Mereka berterimakasih kepada kami, bahkan aku merasakan pohon-pohon yang ada tengah tersenyum kepada kami, mengucapkan terimakasih sekali lagi dengan mengundang burung-burung, mereka melakukan hal yang sama, terbang dengan kepakan sayap yang lebar, benar-benar lepas, Bahagia.
Jalan pulang saat itu tentu sangatlah damai, tidak ada bunyi emosi oleh kendaraan seperti hari kemarin, tidak lagi menggerutu karena macet, tidak ada polusi dan itu indah. Aksi ini mengingatkan ku akan perkataan filsuf Heraclitus dalam buku Dunia Sophie. Ia mengatakan bahwa dunia itu dicirikan dengan adanya kebalikan. Jika tidak pernah sakit, kita tidak tahu seperti apa rasanya sehat. Jika tidak mengenal kelaparan, kita tidak akan merasakan senangnya menjadi kenyang. Jika tidak ada perang, kita tidak dapat menghargai sebuah perdamaian. Hal ini berlaku dalam AKSI kemarin. Jika aku tidak turun kelapangan hari itu, mungkin yang ada dipikiran ku hanya berisi banyak pikiran negatif dimana kericuhan dan kehancuran lah yang akan terjadi, seperti kebanyakan demo yang sering kita lihat di banyak media. Jika aku tidak turun hari itu, aku tidak bisa bertemu dan merasakan romantisme yang ada. Sekali lagi ia mengatakan, yang baik maupun yang buruk selalu mempunyai tempat sendiri-sendiri yang tak terelakkan dalam tatanan dari segala sesuatu. Kemarin hingga aku menuliskan artikel ini, hanya ada syukur yang tak kunjung henti bernyanyi ria di dalam diri.
コメント