Relevansi Pertemuan dalam Perbedaan Perspektif "Adaptasi"
- Siti Nurhidayah
- Dec 20, 2019
- 10 min read
Oleh Ilman Nafi’a (18/424762/SA/19134) dan Siti Nurhidayah (18/428343/SA/19290)

sumber: https://www.idntimes.com/
Pendahuluan
Berawal dari keisengan menjelajah explore di twitter, kami menemukan kata yang menarik untuk diulas, yakni “adaptasi”. Pada akhirnya kami pun memutuskan untuk mengajak berdiskusi dengan mahasiswi dari fakultas yang memiliki karakteristik yang berdekatan dengan Antropologi. Sebelumnya akan dijelaskan mengenai adaptasi, sebagai kata yang akan kami ulas. Dalam hal ini, kami memutuskan memilih mahasiswi dari Fakultas Psikologi untuk kami ajak bertukar pikiran mengenai topik yang akan dibahas ini. Ayu Sarastika, mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada angkatan 2018 menjadi narasumber kami. Sebelumnya, kami mengenal Ayu (panggilan akrab dari kami) ketika salah satu dari kami (Siti Nur) pernah tinggal bersama di Asrama Putri Kinanthi 2&3 pada semester yang lalu.
Membuat janji sebelumnya pada hari Selasa melalui pesan Whatsapp dan akhirnya setuju memilih hari Rabu tanggal 18 Desember 2019 sebagai waktu untuk bertemu, dengan lokasi di Asrama Kinanthi. Sore itu diiringi dengan gerimis yang cukup membuat baju kami basah, namun karena karena sudah membuat janji tentunya tidak akan kami sia-siakan semudah itu. Beruntungnya setelah tiba di Asrama Kinanthi I hujan deras disertai angin baru turun, seolah alam mengijinkan kami melakukan aktivitas yang telah direncanakan sebelumnya. Menunggu sekitar 10 menit di lobby asrama, Ayu datang dengan senyuman dan dibarengi dengan pelukan layak seorang yang telah lama tidak bertemu. Karena merasa di antara kami sudah tidak ada kecanggungan sebab Nafi juga telah mengenal Ayu sebelumnya ketika sering bermain di asrama. Merasa sudah cukup dengan basa-basinya, Ayu mengajak berdiskusi di Musholla, karena tempat-tempat sudah dipenuhi mahasiswa/i belajar bersama.
Mengenal Sosok Ayu
Sudah disinggung sekilas siapa sosok Ayu, yang menjadi narasumber dalam memenuhi tugas UAS KMK. Ayu Sarastika mahasiswi asal Wonogiri yang saat ini menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada semester 3. Sosoknya yang rajin dan ramah menjadi alasan tersendiri kami memilih nya, selain karena latar belakangnya yang telah kami kenal sebelumnya. Fakta menarik dari Ayu ini adalah satu-satunya siswi dari SMK di Wonogiri yang diterima di UGM. Ayu ini dahulunya merupakan siswi jurusan akuntansi, meskipun dia berasal dari latar pendidikan SMK tidak menghalanginya untuk dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang Universitas. sebenarnya Psikologi merupakan pilihan kedua saat mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN), pilihan pertamanya tentunya masih dalam ranah akuntansi seperti saat ia SMK dulu.
Ayu merupakan sosok yang menurut kami tergolong agamis, dari cara berpakaiannya yang sopan, memakai rok, baju yang tidak ketat, dan hijab yang panjang menjadi salah satu ciri khas yang melekat pada dirinya. Meskipun Ayu memiliki perawakan tubuh yang kecil dan kurus, namun suara yang ia keluarkan berbanding terbalik dengan penggambaran tubuhnya mungkin dapat dikatakan kecil-kecil namun cabe rawit. Dalam sepanjang diskusi yang kami lakukan, ekspresi yang diperlihatkan Ayu sangat antusias dan diselingi dengan senyuman kecil. Tanggapannya yang responsif setiap menjawab pertanyaan dari kami, membuat diskusi berjalan dengan sangat interaktif. Kami menikmati setiap sesi saat Ayu menjelaskan bagaimana adaptasi itu. Cara menjelaskannya yang step by step layaknya dosen yang menjelaskan pada anak didiknya, kami merasa mendapatkan kelas psikologi gratis pada petang itu.
Mengartikan Adaptasi dalam Tingkah Laku
Untuk mengulas bagaimana adaptasi dalam ilmu antropologi dengan adaptasi di ilmu psikologi, kami akan mengawalinya dengan menjelaskan apa itu adaptasi secara garis besar. Adaptasi adalah cara bagaimana suatu organisme menyesuaikan diri dalam mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya agar bisa bertahan hidup. Ada pula pendapat yang lain yang menyebutkan pengertian adaptasi adalah suatu kemampuan yang dimiliki makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya agar dapat bertahan hidup. Setiap makhluk hidup sejatinya harus memiliki kemampuan adaptasi pada lingkungannya karena bagi mereka yang tidak dapat beradaptasi maka akan mengalami kepunahan.
Adaptasi ini memiliki bermacam-macam situasinya, misalnya adaptasi untuk memperoleh air, udara, nutrisi, mengatasi kondisi fisik lingkungan (cahaya, temperatur, dan panas), mempertahankan hidup dari kompetisi lain dan musuh, beradaptasi kepada lingkungan reproduksi, serta merespon perubahan yang terjadi di sekitarnya. Dalam proses adaptasi, tidak hanya dilakukan oleh manusia dan hewan, namun tumbuh-tumbuhan juga melakukannya. Adaptasi menjadi suatu situasi yang memiliki beberapa tujuan seperti: untuk melindungi diri dari serangan musuh dan pemangsa; untuk bertahan hidup; dan bahkan sebagai proses untuk berkembang biak dan melestarikan jenisnya.
Adaptasi memiliki berbagai jenis, misalnya adaptasi morfologi, adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku. Dalam hal ini kami memilih adaptasi jenis tingkah laku sebagai pembahasan saat diskusi berlangsung. Pilihan ini atas dasar apa yang telah kami pelajari dari antropologi selama tiga semester ini. Adaptasi tingkah laku menurut kami menjadi topik pembahasan yang frekuensinya sangat dekat dengan lingkungan kehidupan sosial sekitar, namun terkadang terabaikan. Kami melihat bahwasannya adaptasi ini sangat penting dalam menjalankan kehidupan sosial masyarakat, namun juga sering terabaikan keberadaannya.
Apa itu adaptasi perilaku, merupakan suatu hal dari satu ciri yang terdapat pada makhluk hidup dalam bentuk perilaku sehingga dapat berfungsi untuk beradaptasi dengan lingkungan dan untuk membantu makhluk hidup dalam mempertahankan kehidupannya. maka dapat dikatakan dengan adaptasi, makhluk hidup dapat menyesuaikan perilaku terhadap kondisi dan di mana pun.
Adaptasi tingkah laku adalah salah satu organisme terhadap lingkungan dalam bentuk perilaku sehingga hak ini dapat menyesuaikan terhadap makhluk hidup dengan lingkungannya serta adaptasi dalam bentuk fungsi tubuh.
Maka adaptasi ini sebagai bentuk yang dapat dilakukan oleh makhluk hidup melalui perilaku mereka sehingga dapat melakukan tindakan dan dapat memberikan contoh terhadap sesama makhluk. Tingkah laku dalam bentuk sosial hal ini merupakan sekelompokan yang dapat dilakukan oleh makhluk hidup terhadap lingkungan dan lain sebagainya.
Setelah memahami konsep dasar bagaimana pengertian adaptasi secara umum dan adaptasi tingkah laku, selanjutnya akan membahas hasil diskusi bersama Ayu dan membandingkan bagaimana adaptasi menurut ilmu antropologi, apakah memiliki kesamaan sebagaimana mestinya karena antropologi dan psikologi hampir mirip, atau justru memiliki perbedaan yang sangat jauh.
Hasil Diskusi Mengenai Pembicaraan “Adaptasi”
Dalam sesi diskusi, kami memulainya dengan menanyakan pertanyaan umum seperti bagaimana pengertian adaptasi menurut narasumber. Menurut Ayu, adaptasi sendiri merupakan suatu proses penyesuaian dari diri, jadi saat kita datang di lingkungan yang baru bagaimana kita dapat menyesuaikan diri agar dapat berinteraksi dan membaur dengan lingkungan baru tersebut. Ayu berulang kali menyebutkan kata penyesuaian diri dan lingkungan baru saat menjelaskan yang kami artikan sebagai bentuk penegasan arti dalam mengartikan apa yang dimaksud adaptasi. Kami memang setuju atas pendapat tersebut, karena sepanjang yang kami ketahui adaptasi menjadi suatu kondisi di mana terjadi penyesuaian diri baik dalam lingkungan yang baru maupun dalam situasi tertentu pula. Pada dasarnya dalam mengartikan apa itu adaptasi tidak akan jauh-jauh dari kata “penyesuain”.
Selanjutnya, diskusi berlanjut tentang bagaimana adaptasi dipandang dalam psikologi, apakah ada mata kuliah yang khusus membahas adaptasi sebagai topiknya, karena dari apa yang kami lihat psikologi harusnya sangat dekat dengan istilah ini. Namun dari penjelasan Ayu bahwa secara khusus adaptasi tidak menjadi pembahasan inti dalam psikologi, tetapi memang pembahasan tentang adaptasi terdapat dalam mata kuliah psikologi sosial, psikologi komunikasi dengan ranah bahasan yang kecil dan tidak terlalu dalam. Dalam psikologi sosial adaptasi dibahas sebagai aspek tentang cara bersosialisasi, sedangkan dalam psikologi komunikasi lebih mengarah bagaimana cara berkomunikasi yang baik sebagai bentuk adaptasi diri. Sampai dengan hal ini kami menyadari bahwa psikologi mengartikan adaptasi sebagai proses berinteraksi baik itu dengan komunikasi ataupun dengan sosialisasi. Menurut sepengetahuan Ayu, dalam psikologi komunikasi terdapat perilaku-perilaku yang terkait dengan adaptasi sikap sehingga seseorang dapat nyaman untuk berkomunikasi merasa, dekat juga akrab dengan kita.Ayu menjelaskan enam perilaku tersebut, yang pertama adalah kontak mata (eye contact), kedua sentuhan secara tidak sadar namun berpengaruh dan bersifat mengakrabkan (haptics), ketiga jarak atau zona nyaman kita saat berinteraksi, keempat gesture tubuh yang mempengaruhi juga secara tidak sadar, dan yang kelima ialah suara yang berkaitan dengan intonasi, vokal.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa adaptasi memiliki beberapa jenis salah satunya adalah adaptasi tingkah laku atau lebih dikenal dengan adaptasi perilaku. dalam pandangan kami psikologi sebagai ilmu yang mempelajari hal yang berhubungan dengan kejiwaan tentunya dalam pelajaran akan banyak membahas topik ini. Tetapi justru dari pengakuan Ayu, selama dia menempuh tiga semester di Fakultas Psikologi belum pernah kiranya mendapatkan materi adaptasi perilaku, karena pembahasan materi dalam kuliah masih sebatas dasar-dasar belum yang sampai pembahasan mendalam. Tetap pada pertengahan diskusi, Ayu teringat saat semester satu, pernah diberikan penjelasan tentang teori kepribadian meskipun belum terlalu mendalam. Meskipun menurutnya terdapat sedikit korelasi dengan adaptasi namun dari teori kepribadian dapat menjadi acuan dalam membahas adaptasi perilaku.
Dalam teori kepribadian salah satu tokohnya adalah Sigmund Freud yang terkenal dengan teori psikoanalitiknya. Dalam pengertian Freud, kepribadian memiliki tiga ruang yaitu alam bawah sadar, alam pertengahan, dan alam sadar. Istilah dari ketiga ruang tersebut secara urut yaitu superego, ego dan Id. Dalam analisis Freud mengenai kepribadian menurut penjelasan Ayu, dapat dibilang tidak dapat dipercaya sebab teori yang diciptakan menggunakan analisis dari pasien nya yang kondisinya kurang sehat kejiwaannya. Sehingga muncul banyak problematika dari teori ini bagaimana orang yang sakit dianalisis dan digeneralisasi sebagai penggambaran kepribadian orang-orang yang keadaannya normal.
Ketika membahas mengenai teori kepribadian, terlihat Ayu begitu menguasai materi ini dari kelancarannya saat mengungkapkan apa yang ia ketahui. Dari pengakuannya bahwa materi ini baru saja ia pelajari dan keluar dalam soal UAS, sungguh kebetulan yang patut untuk disyukuri. Dari teori Freud tentang psikoanalitik, digambarkan seperti gunung es. Di mana terdapat bagian-bagian seperti dasar gunung--diartikan sebagai alam bawah sadar atau yang disebut dengan super ego, lalu ada pertengahan yang diartikan sebagai ego, serta bagian permukaan yang terlihat atau yang disebut dengan Id. Ketiga unsur kepribadian ini saling bekerja sama untuk menciptakan perilaku manusia yang kompleks termasuk dalam hal adaptasinya di lingkungan.
Id menjadi satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak lahir. Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Id adalah sumber segala energi psikis, sehingga menjadi komponen utama dalam kepribadian. Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk mencapai kepuasan segera dari semua keinginan dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi secara langsung, hasilnya adalah kecemasan atau ketegangan. Namun, dalam memuaskan kebutuhan ini tidak selalu bersifat realistis, sebab kadang dapat mengganggu dan tidak diterima dalam lingkungan sosial.
Selanjutnya ego, sebagai komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani realitas. Ego berkembang dari id dan dorongan dari id dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia nyata. Fungsi ego ini berperan penting dalam pikiran sadar, prasadar, dan tidak sadar. Ego pada dasarnya bekerja berdasarkan prinsip realitas, yang berusaha untuk memuaskan keinginan id dengan cara-cara yang realistis dan sesuai dengan kondisi sosial.
Sementara superego, sebagai aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang diperoleh dari kedua orang tua dan masyarakat-- sebagai rasa benar dan salah. Superego memberikan pedoman dalam membuat suatu penilaian. Pada akhirnya interaksi dari id, ego, dan superego menunjukkan kekuatan bersaing begitu banyak, mudah untuk melihat bagaimana konflik yang mungkin timbul antara ego, id dan superego. Seseorang dengan kekuatan ego yang baik dapat secara efektif mengelola tekanan, sedangkan mereka dengan kekuatan ego terlalu banyak atau terlalu sedikit akan terasa mengganggu yang tentu saja akan menyulitkan mereka saat beradaptasi baik dengan dirinya sendiri, orang lain atau lingkungannya.
Selanjutnya, kami pun menuturkan istilah adaptasi yang ada di antropologi lebih kepada Ayu, supaya dia juga mengerti artian adaptasi yang menjadi pokok dalam pembicaraan ini dalam kacamata perspektif kami. Menurut kami adaptasi dalam istilah antropologi memiliki arti bagaimana kita bersikap untuk dapat menyesuaikan diri kepada suatu lingkungan khususnya pada suatu kelompok sosial, tidak secara individual. Kelompok sosial ini (bisa berupa organisasi atau institusi) secara tidak langsung menjadi cerminan awal atau istilahnya “abstraksi” yang memberikan gambaran mengenai karakteristik sikap yang ada dalam masyarakat tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut, seorang ahli mengungkapkan bahwa terdapat dua alasan prinsip yang berhubungan satu dengan yang lain. Respon adaptif individu yang dipelajari dapat ditransmisikan kepada yang secara independen membawa sifat terhadap individu itu sendiri. Dalam prakteknya adaptasi manusia terhadap lingkungan yang khusus melibatkan kombinasi sifat dalam interaksi dari tipe-tipe sifat yang berbeda ini (Roy Ellen,1982:237-238 dalam Prasetijo, 2008).
Disamping itu ada juga istilah yang sangat familiar di kalangan mahasiswa dan mahasiswi antropologi, yakni “Srawung”. Konsep Srawung sendiri menurut kami adalah sebuah konsep yang berarti membuat kita dapat membaur dan menjalin kedekatan juga keakraban dengan seseorang atau kelompok sosial tertentu. Misalnya saja, kita sedang melakukan sebuah penelitian yang mana tidak mungkin kita mendapatkan data tersebut secara akurat tanpa menggali informasi langsung dengan masyarakat disana.
Maka dari itu konsep srawung ini seperti menjadi urat nadi dalam pencarian data. Bayangkan saja jika kita tidak ikut beradaptasi dalam keadaan sosial masyarakat di tempat yang akan diteliti, hal itu mungkin akan membuat orang disana berfikir bahwa kita ini sombong atau bagaimana. Maka dari itu upaya untuk mendekatkan diri serta menyesuaikan diri dalam berinteraksi dengan masyarakat sangatlah penting. Jika kita sudah berhasil untuk “srawung” dengan masyarakat di lingkungan yang akan kita teliti, maka komunikasi serta interaksi kita dengan masyarakat disana akan jauh lebih nyaman, dalam artian sudah tidak canggung, kalau kata Prof. Laksono “kita tau sama tau”. Karena mereka sudah welcome dengan kita.
Akan tetapi konsep srawung ini tidak hanya berlaku dalam penelitian saja, tetapi juga berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Mengingat konsep manusia yang diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Menjadikan perilaku “srawung” ini istimewa. Pasalnya dengan srawung ini juga memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari, misalnya seperti menambah relasi, menjalin komunikasi sehingga menjaga sillaturahmmi, menjalin kedekatan dan hubungan yang baik dengan seseorang, dan banyak lainnya. Dan jangan lupakan jika konsep “srawung” tidak lepas bahkan sangat melekat dengan penyesuain diri atau adaptasi dalam bersikap untuk interakasi, komunikasi, rasa saling memahami, dan menghargai terhadap sebuah lingkungan yang tidak kita kenali atau pahami sebelumnya.
Setelah kami menyampaikan hal tersebut kepada Ayu, dia mengangguk dan mengeluarkan bunyi “ooo”, sebagai tanda dia memahami hal yang telah kami sampaikan mengenai adaptasi dalam prespektif antropologi. Dan istilah “srawung” yang sangat melekat di dalamnya. Sampai-sampai kami sendiri sering mendengar istilah itu, sehingga membuat kami dan anak antropologi lainnya terbiasa dengan kata “srawung” yang sering juga diungkapkan teman-teman jika mereka akan menjalin relasi dengan beberapa kakak tingkat atau siapapun itu.
Komparatif Konsep Adaptasi dalam Kacamata Psikologi dan Antropologi
Selanjutnya tentang bagaimana mengartikan hubungan adaptasi dalam psikologi, menurut Ayu sebagai masalah kesehatan mental dan masalah kepribadian. Adaptasi ini telah dimulai sejak anak seseorang berada didalam kandungan, dan lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap pembentukan mental dan kepribadian yang baik. Saat sang ibu semasa mengandung dalam kondisi tekanan batin, mental jelek ternyata dapat berimbas pada bayinya saat lahir. Bayi tersebut dapat mengalami gangguan dalam proses perkembangan otaknya, akibatnya saat lahir sang anak dapat terkena penyakit gen tidak normal atau istilahnya ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder). dari efek yang terlihat anak akan cenderung hyperaktif dan gangguan perhatian. Anak akan cenderung suka bercanda dan sulit untuk fokus. Dari gen dan lingkungan sejak dalam kandungan telah menentukan bagaimana kesehatan mental dan kepribadiannya akan terbentuk pada diri seseorang tersebut. Kepribadian selanjutnya yang akan menentukan cepat atau lambat seseorang dalam beradaptasi dalam lingkungannya.
Sementara itu, dalam mengartikan hubungan antara adaptasi dengan antropologi adalah bagaimana dalam mempelajari suatu masyarakat kita dapat ikut memainkan peran di dalamnya serta turut berpartisipasi dalam suatu lingkungan sosial yang baru atau asing. Adaptasi tidak hanya sebatas kata penyesuaian, namun juga tentang penerimaan, pemahaman, dan yang paling penting adalah penghargaan atas lingkungan atau situasi baru yang asing untuk kita. Adaptasi dalam antropologi menjadi suatu hal yang penting karena berkaitan dengan penyesuaian diri saat terjun langsung ke masyarakat. Dengan adaptasi seseorang memungkinkan untuk dapat diterima dengan baik keberadaannya di lingkungan yang berkaitan. Pada akhirnya adaptasi menjadi sebuah konsep yang tidak akan terlepas dalam berkehidupan sosial di masyarakat. Karena tidak mudah masyarakat tersebut menerima kita tanpa kita tidak bertindak sesuatu, dalam artian beradaptasi dengan mereka. Hal ini tidak dapat kita hindari juga mengingat keberadaan kita yang sedang dalam lingkungan yang baru, dengan sikap kita yang bisa menyesuaikan maka, masyarakat juga merasa nyaman untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan kita.
Kesimpulan
Antara psikologi dan antropologi dalam melihat adaptasi sebenarnya sama-sama melihat bagaimana seseorang itu menyesuaikan diri dalam lingkup masyarakat. Namun, bila psikologi melihat adaptasi sebagai sesuatu yang telah ada sejak dalam kandungan dan hal itu akan mempengaruhi kesehatan mental dan kepribadian pada tiap-tiap individu. Psikologi lebih mengarah pada kejiwaan (mental dan kepribadian) individu dalam menyesuaikan diri. Sedangkan antropologi lebih condong ke perilaku individu dalam berperan dan berinteraksi di dalam masyarakat sebagai suatu hal yang alamiah dan spontanitas. Aspek yang berbeda yang ditunjukkan dalam konsep adaptasi melalui kacamata antropologi dan psikologi tadi membuat makna dalam adaptasi seperti istilah “serupa tapi tak sama”. Jadi walaupun sama-sama mengartikan mengenai penyesuaian diri, namun ada aspek-aspek yang membedakan, serta fokus dalam pemahaman istilah adaptasi sendiri. Perbedaan tersebut memang tidak bisa dipungkiri lagi, mengingat kami dan narasumber berasal dari program studi yang berbeda, juga fokus pembelajaran yang berbeda juga. Tetapi dengan begitulah pada akhirnya kami dapat memahami bahwasanya banyak sesuatu yang terlihat sepele, seperti mengenai adaptasi ini, menyimpan banyak informasi dan ilmu pengetahuan baru jika diartikan dalam perspektif di lain program studi seperti dalam jurusan psikologi ini.
Daftar Pustaka :
· Prasetijo, Adi. 2008. Adaptasi dalam Antropologi. https://etnobudaya.net/2008/adaptasi-dalam-antropologi/ (Diaskes 19 Desember 2019)
· Ruangguru.2010. Struktur kepribadian Id, Ego, dan Superego Sigmund Freud. Dalam https://ruangguruku.com/struktur-kepribadian-id-ego-dan-superego-sigmund-freud/ (diakses 19 Desember 2019)
Comments