top of page
  • Black Instagram Icon

Pengetahuan Rasisme dan Kasus Papua

Updated: Nov 22, 2019

Rasisme di Indonesia adalah suatu fenomena yang mudah menjamur dan gawat. Namun hanya segelintir orang saja yang mengetahui makna sesungguhnya dari rasisme. Banyak terjadi di masyarakat di mana beberapa orang mungkin akan berpikir bahwa mereka tidak melakukan tindak rasisme yang mana tanpa mereka sadari apa yang mereka lakukan adalah sebuah tindakan rasisme yang dapat menyakiti hati ataupun diri korban. Padahal, seperti yang di ketahui Indonesia ini terdiri dari berbagai kebudayaan dengan masing-masing ciri khasnya.


Setahu saya, tindakan rasisme ini lebih sering dilakukan oleh kelompok “mayoritas” terhadap kelompok “minoritas”. Saya dapat mengatakan hal tersebut bercermin pada kaum muslim di Indonesia yang terlihat sangat berkuasa dan merasa memiliki kuasa atas segala apapun itu dan merasa bahwa kaum dengan kepercayaan yang berbeda dari dirinya adalah lebih rendah dari dirinya. Atau dapat saya sebutkan dengan kasar sebagai jika mereka ini merasa yang paling suci dan benar di dunia ini, tanpa menyadari dunia tidaklah hanya Indonesia saja.


Di Indonesia, Rasisme adalah bahasan yang jarang sekali dibahas di dalam pelajaran, sekalipun ada, itu bukanlah pembahasan yang mendalam. Bagi saya, pengetahuan mengenai rasisme ini perlu diajarkan sedini mungkin untuk menghindari sikap-sikap dan tindak rasisme dikemudian hari. Dalam tulisan ini saya tergugah untuk menuliskan pandangan saya terhadap rasisme setelah membaca artikel karya Jenny Munro dalam unggahan situs theconversation.

·

  • Arti Rasisme

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, rasisme adalah rasialisme. Sedangkan rasialisme memiliki dua arti, (1) prasangka berdasarkan keturunan bangsa; perlakuan yang berat sebelah terhadapa (suku) bangsa yang berbeda-beda dan (2) paham bahwa ras diri sendiri adalah ras yang paling unggul. Pengertian kedua tersebutlah yang sering disebut sebagai rasisme. Berdasarkan pada America Heritage College Dictionary, rasisme memiliki dua arti pula, (1) the belief that race accounts for differences in human character or ability and that a particular race is superior to others dan (2) discrimination or prejudice based on race.


  • Bentuk-bentuk dari tindakan rasisme

Rasisme ini menjadi faktor pendorong diskriminasi sosial, segregasi, kekerasan rasial, dan genosida. Politisi sering menggunakan isu rasial untuk memenangkan suara. Berdasarkan pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia sebelumnya, dapat saya katakan bahwa jika kita merasa diri sendiri adalah yang paling baik, unggul, benar, dan yang lain berada di bawah kita, itu telah terhitung sebagai rasisme. Diskriminasi sosial adalah hal yang paling sering dirasakan oleh kaum minoritas.


  • Akibat dari tindakan rasis bagi korban maupun pelaku

Seorang korban dari tindakan rasis ini memiliki dua pilihan, diam atau bersuara. Kaum minoritas yang merupakan korban akan merasa dirinya semakin direndahkan oleh kaum mayoritas. Dalam sebuah lingkungan dengan tingkat rasis yang tinggi, kaum minoritas jarang memiliki kesempatan untuk bersuara. Kalaupun mereka bersuara, kekuatan yang mendukung merekalah yang kurang. Ketika tindakan rasis ini melewati batas, tindakan-tindakan rasis ini dapat menjadi lebih ekstrim dan menjadi bentuk kekerasan rasial yang dapat mempengaruhi mental maupun fisik sang korban, atau dapat juga menjadi bentuk dari bullying. Bagi pelaku, mereka akan merasa semakin superior ketika berhasil merendahkan kaum lain dengan tangannya sendiri. Namun sikap itu akan berujung pada penyesalan karena telah melakukan tindak rasisme ketika ia telah dewasa dan sadar diri. Terlebih ketika kekuatan kaum minoritas semakin kuat, para pelaku dapat melakukan apa yang disebut sebagai lempar batu sembunyi tangan di mana para pelaku tidak memiliki sikap tanggung jawab.


  • Suku Jawa dengan Suku Papua

Suku Jawa dikenal sebagai kaum mayoritas dan berkuasa di Indonesia. Sedangkan Suku Papua sering disebut sebagai minoritas dan hanya mendapat “ampas” saja. Mereka yang mayoritas akan merasa diri mereka adalah yang terbaik dan paling benar, tanpa mendengarkan atau mempertimbangkan faktor-faktor lainnya yang memungkin bahwa dirinya sama dengan yang lainnya. Hal tersebut sering kali terjadi, dan tampak orang-orang di Indonesia sudah tidak peduli lagi dengan hal tersebut. Banyak diantara mereka yang tanpa sadar melakukan hal tersebut. Sebagai pusat pemerintahan dan pusat negara, banyak warga dari luar jawa datang ke pulau Jawa untuk belajar ataupun bekerja. Salah satunya adalah warga Papua yang juga ke pulau Jawa untuk belajar dan bekerja. Namun disayangkan mereka selalu dipandang berbeda dari warga Indonesia lainnya. Seperti kemana pun mereka pergi, mereka terlihat mencolok dan menarik perhatian. Padahal, sejatinya mereka jugalah warga negara Indonesia seperti yang lainnya. Ketika orang Papua berada di Yogyakarta, mereka disebut sebagai minoritas. Mereka menerima banyak cemoohan dan stigma masyarakat. Mereka menerima tindakan rasisme, namun mereka tidak dapat balik bertindak rasisme pada penduduk Yogyakarta. Bahkan ketika mereka mengekspresikan atau mempraktikan prasangka terhadap warga Yogyakarta, mereka tidak memiliki kekuatan untuk mempengaruhi kehidupan warga Yogyakarta.


Sebagai contoh, kasus orang amerika kulit putih dengan orang kulit hitam, hispanik, dan muslim. Salah satu hal diskriminasi yang diterima oleh warga kulit hitam di Amerika adalah pemberhentian mobil warga kulit hitam di Amerika. Berdasarkan tulisan Rahmad Azhar Hutomo dalam situs National Geographic Indonesia, proposi tidak seimbang dari perkiraan dua puluh juta pemberhentian mobil di jalan yang dilakukan oleh polisi di Amerika setiap tahun melibatkan pengemudi berkulit hitam dan hispanik yang lebih sering digeledah mobilnya dibandingkan orang kulit putih meskipun mereka belum tentu melanggar peraturan lalu lintas.


Hal ini berbanding balik dengan apa yang terjadi di Yogyakarta. Di Yogyakarta, kelompok orang Papua terhitung sebagai kaum minoritas dan terdapat banyak warga yang beranggapan bahwa orang Papua adalah segala sesuatu yang negatif ataupun destruksi, stigma ini pula adalah salah satu bentuk dari rasisme. Dalam hal ini, saya menemukan beberapa kali polisi tidak menghentikan orang-orang dengan ras melanesoid meskipun mereka jelas-jelas melanggar peraturan lalu lintas, sedangkan mereka dengan ras melayu dihentikan dengan cepat. Dalam sebuah akun media sosial yang menyebarkan informasi cegatan di Yogyakarta, seorang pengguna jalan pernah menegur polisi mengapa mereka tidak menghentikan mereka (yang berasal dari papua dan sekitarnya) dan polisi tersebut memilih untuk tidak berurusan dengan mereka. Menurut saya, sikap yang diambil oleh polisi tersebut adalah polisi tersebut memandang orang Papua sebagai kelompok destruktif, primitif, dan barbar. Sehingga mereka menghindari konflik dengan mereka dan merasa “takut” untuk berhadapan dengan mereka.


Yogyakarta yang disebut-sebut sebagai kota pelajar, tentu akan menerima banyak pendatang baru. Tidak hanya untuk belajar, tetapi untuk bekerja pula. Namun saya rasa sikap toleransi di Yogyakarta semakin luntur. Tidak hanya terhadap suku lain selain suku Jawa, namun juga perbedaan agama sudah menjadi hal yang cukup sensitif di Yogyakarta.

Recent Posts

See All
PEMBATASAN JAM MALAM BAGI PEREMPUAN

Nama: Hanum Ari Prastiwi NIM: 18/424761/SA/19133 Mata Kuliah: Komposisi Menulis Kreatif (menulis etnografi) Alasan pembatasan jam malam...

 
 
 

Comments


HitamPutih.jpg

Thanks for submitting!

Department of Anthropology

Faculty of Cultural Sciences

Universitas Gadjah Mada

  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Black Pinterest Icon
  • Black Twitter Icon

2019 The Human Stories

bottom of page