Postpartum Depression: Gambaran dari Keadaan Masyarakat
- Absherina Olivia Agatha
- Dec 20, 2019
- 9 min read
Absherina Olivia Agatha & Yasmiin Aliffiana

doc: Harvard Health
Depresi dalam dunia psikologi, merupakan istilah yang umumnya dipakai untuk menunjukkan pola yang mengganggu dalam hal perasaan, kognisis dan perilaku, juga dianggap sebagai suatu syndrome atau symptom-complex, yang sering dikonseptualisasikan sebagai dimensi psikopatologikal dalam rentang intensitas dari ringan ke berat. Depresi sendiri dideskripsikan dengan diagnosis suatu situasi dimana individu merasakan kesedihan yang berlarut-larut, kehilangan minat dan kegembiraan akan aktivitas sehari-hari, mudah merasakan lelah dan penurunan konsentrasi, serta menurunnya minatindividu untuk berinteraksi dengan orang lain (Rahmatika, 2018).
Dari pandangan antropologi sendiri, depresi lebih dilihat sebagai gejala kelainan sosial, dimana individu terkait yang mengalami depresi dapat dipandang mulai atau sudah tidak mampu menghadapi masyarakat, dimana ia mulai tidak berminat untuk melakukan aktivitas sehari-hari dan juga untuk berinteraksi dengan orang lain.
Secara antropologis, depresi juga lebih disoroti dari bagaimana masyarakat ikut terlibat didalamnya, baik sebagai pemicu maupun pencegah.
Depresi, sama halnya seperti symptom lain, juga memiliki beberapa jenis dan tingkatan. Masing-masing jenis dan tingkatannya sangat berpengaruh dari invidu penderitanya itu sendiri mauapun dari faktor luar, yaitu orang-orang yang berinteraksi dalam lingkungan hidup individu tersebut.
Salah satu jenis depresi yang sering terjadi di era modern ini adalah depresi pasca melahirkan, atau juga dikenal sebagi postpartum depression. Depresi pasca melahirkan tersebut adalah kondisi dimana seorang ibu yang baru saja melahirkan mengalami perubaan mood yang parah dan persisten selama beberapa bulan atau bahkan setahun lebih (Rusli dan kawan-kawan, 2011).
Seorang ibu yang mengalami postpartum depression,selain mengalami perubahan mood yang parah, juga mengalami penurunan bahkan kehilangan minat dalam mengurus bayinya, tidak mampu mengenali kebutuhan bayi, menolah mengurus bayi, memiliki keinginan untuk bunuh diri, dan pada kasus yang sudah mencapai tahap psikotik –dengan halusinasi –maka si ibu tersebut dapat juga memiliki pikiran untuk membunuh bayinya.
Berkenaan dengan kasusnya, banyak perempuan yang tidak mau bercerita bahwa mereka mengalami postpartum depression, kerena merasa malu, takut dan merasa bersalah, karena merasa depresi di saat seharusnya mereka harus merasa bahagia, dan takut dikatakan tidak layak menjadi ibu (Tolongan dan kawan-kawan, 2019).
Faktor-faktor Pemicu Postpartum Depression
Depresi pasca melahirkan, atau postpartum depression, dapat terjadi pada siapa saja dengan sebab-sebab yang berbeda. Wanita dapat terkena depresi setelah melahirkan bayinya karena merasakan suatu beban selama kehamilannya. Begitu juga wanita yang semula baik-baik saja bisa terkena depresi setelah bayinya lahir. Kemunculan depresi pada wanita setelah melahirkan sebagian besar akan muncul kembali setelah melahirkan bayi berikutnya (Wardani, 2009).
Sebagai pemicunya, terdapat dua faktor –internal dan eksternal –yang dapat memunculkan atau menjadikan seorang ibu mengalami postpartum depression. Kedua faktor tersebut tentunya dipengaruhi dari perilaku manusia –baik oleh individu itu sendiri ataupun orang sekitar –dimana prilaku manusia sendiri dipengaruhi oleh dua faktor pokok yaitu faktor perilaku (behavior causes) dan faktor di luar perilaku (non-behavior causes). Sedangkan perilaku ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor meliputi faktor predisposisi (predisposition factor), faktor pemungkinan (enabling factor) dan faktor penguat (reinforcing factor). Salah satu perubahan perilaku pada ibu postpartum adalah perubahan perilaku dalam menerima peran (Nasri dan kawan-kawan, 2017).
Faktor internal tadi, mencakup faktor biologis dan karakteristik ibu. Faktor biologis adalah faktor yang bersangkutan dengan masalah hormonal, sedangkan faktor karakteristik seperti umur, kesiapan untuk menjadi ibu, pendidikan, kondisi mental dan parita –yang bisa terjadi pada primipara yang pertama kali memiliki anak, dan multipara yang sebelunya telah memiliki riwayat postpartum.
Kemudian pada faktor eksternal, terdapat andil masyarakat dan keluarga yang cukup besar. seperti kurangnya dukungan suami, permasalahan ekonomi, masalah sosial –seperti permasalahan yang timbul kaibat kehamilan yang tidak diinginkan, tuntutan dari keluarga, kurangnya dukungan secara sosial dari masyarakat, hingga masalah patriarki dan standar ganda dalam masyarakat yang akhirnya menimbulkan efek domino pada kesejahteraan dan keleluasaan ibu untuk mengurus bayinya.
Faktor eksternal tersebutlah yang secara antropolgis lebih banyak disoroti dan dibahas, karena mencakup banyak faktor yang berkaitan dengan pranata kehidupan masyarakat –termasuk keluarga. Faktor eksternal juga seringkali dijumpai sebagai pemicu utama dan faktor yang memperparah postpartum depression yang dialami oleh seorang ibu.
Postpartum Depression: Sebuah Hasil dari Gambaran Keadaan Masyarakat
Sama seperti penyakit mental lainnya, postpartum depression dapat juga dikatakan sebagai salah satu hasil dari dinamika kehidupan bermasyarakat dan berkeluarga. Seringkali standar dan tuntutan yang ditentukan oleh masyarakat –termasuk keluarga –tidak berjalan beriringan dengan kemauan dan kemampuan masing-masing individu yang dituntut, sehingga pada akhirnya berujung menjadi beban mental sewaktu-waktu bisa saja sampai di titik jenuhnya dan akhirnya berubah menjadi gangguan kejiwaan.
Kasusnya dalam postpartum depression adalah keadadaan masyarakat yang menuntut para wanita, para ibu, untuk menjadi sosok yang sesempurna mungkin. Para ibu tersebut dituntut untuk serba bisa dan sempurna karena dianggap merupakan garda terdepan dalam mendidik generasi penerus.
Dari sejak masa kehamilan hingga pasca melahirkan, masyarakat selalu akan berusaha ikut campur, yang contoh paling sederhananya adalah meberi saran yang diangap merupakan hal terbaik untuk perkembangan si anak.namun kadang kala, ikut campur tersebut masuk terlalu jauh, serta menekan si ibu terlalu dalam, seperti akan mencibir atau bahkan memarahi si ibu saat sarannya ditolak atau tidak dilakukan, atau yang parah lagi malah berusaha mengontrol si ibu untuk melakukan apa yang masyarakat anggap paling baik, padahal belum tentu merupakan hal yang benar.
Salah satu contoh kasusnya tergambar lewat tulisan Cho Nam-Ju, Kim Ji-Young, Born 1982, novel yang kemudian difilmkan pada tahun 2019. Bercerita mengenai ibu muda baru yang harus menghadapi patriarki dan standar ganda di tengah masyarakat, sembari harus berperan sebagai ibu dengan anak balitanya. Ji-Young sebagai ibu muda, harus dihadapkan dengan momok berupa postpartum depression akibat patriarki dan standar ganda dalam masyarakat di sekitarnya.
Berlatar kehidupan masyarakat di Korea, Ji-Young dari awal menjadi ibu telah dihadapkan juga dengan tuntutan-tuntutan yang dianggap umum didalam masyarakat. Seperti misalnya, keinginan atau penentuan khusus terkait gender anak yang dilahirkannya, tuntutan akan peran penuh sebagai seorang wanita dan istri dalam kehidupan rumah tangga –harus berada di rumah serta keterbatasan dalam mengembangkan diri seperti bekerja, pemenuhan ekspektasi dari keluarga –khususnya mertua –yang menganggap wanita harus selalu sigap di dapur dan tidak boleh sakit saat mengurus kegiatan rumah tangga, hingga masalah berpakaian dan tuntutan untuk selalu dapat bersosialisasi dengan masyarakat, khususnya yang sepantaran dan satu kalangan dengannya.
Pada akhirnya, beban dan tekanan mental menjadi salah satu isu yang harus dihadapi oleh Ji-Young, ditambah dengan partriarki dan standar ganda dalam masyarakat, yang membuatnya minim mendapat bantuan, khususnya dari kaum lelaki –suami, saudara laki-laki, dan ayahnya.
Patriarki yang ia hadapi, membuatnya sering merasa kesepian, namun pada akhirnya tidak bisa mencari bahan pelarian karena dirinya juga kesulitan untuk kembali bekerja karena mendapat tentangan dari pihak keluarga, khusunya keluarga suaminya karena takut akan menganggu karir suaminya jika ia bergantian bekerja dengan suaminya sendiri. Padahal kala itu ia masih sangat berminat untuk meniti karir dengan bekerja.
Ji-Young merupakan gambaran bagaimana para perempuan –khususnya di Asia –pada akhirnya akan terkekang jika menjadi seorang ibu. Pun hal tersebut juga telah mempengaruhinya sejak masa bekerja, dimana digambarkan bahwa perempuan memiliki peluang yang lebih kecil dalam berkarir, karena dianggap nanti pada akhirnya akan melahirkan dan mengurus keluarga, sehingga jika diberikan leluasa untuk berkarir, ditakutkan akan menyeleweng dari kodratnya sebagai seorang ibu.
Selain Ji-Young, contoh lain dari keterlibatan dan gambaran masyarakat yang terkuak lewat postpartum depression adalah kasus pencekokan anak hingga tewas di Cakung, pada Oktober 2019. Pelaku yang merupakan ibu kandungnya sendiri, ditengarai mengalami depresi pasca melahirkan akibat tekanan dari keluaraga, dimana ia disalahkan oleh suami dan ibu mertuanya karena satu dari dua anak kembarnya dianggap lebih kurus. Selain dianggap tidak becus dalam merawat anak, dirinya sama sekali tidak mendapat dukungan moral dan bantuan dari suaminya sendiri, alih-alih malah sering mendapat ancaman untuk diceraikan.
Pada akhirnya, si ibu hilang arah dan melakukan berbagai usaha secara instan untuk memenuhi tuntutan keluarganya, yaitu membuat gemuk anaknya, sehingga pencekokkan air secara terus menerus dan berlebihan dilakukannya karena diangggap bisa membuat gemuk anaknya secara instan, namun pada akhirnya anaknya tewas karena terlalu banyak meminum air.
Tekanan dan ancaman dari suami dan mertuanya, telah memberikan beban mental yang berat pada si ibu, terlebih ia harus mengurus dua anak kembarnya, dimana rasa lelahnya tidak didukung oleh support dari keluarga, hingga pada akhirnya mengantarkannya pada postpartum depression yang berkelanjutan yang membuat ia kehilangan akal sehatnya sebagai seorang ibu.
Dari tulisan Nam-Ju yang mengambarkan kehidupan seorang ibu muda di Korea, hingga contoh kasus akibat postpartum depression, dapat dilihat bahwa tekanan dari mertua, orang tua, sanak saudara, teman, bahkan suami telah medorong para ibu baru –bahkan yang sudah memiliki pengalaman memiliki anak –untuk senantiasa siap selama dua puluh empat jam untuk meladeni mereka, berbarengan dengan tugasnya untuk merawat anak secara penuh, yang seringkali juga tidak dibantu oleh suami dalam masalah mengurus anak.
Selain kebebasannya terenggut, tekanan dari masyarakat untuk menjadi ibu dan seorang istri tanpa celah juga menambah beban mental kepada para ibu dan istri. Para wanita tersebut dituntut untuk tetap aktif bersosialisasi, sembari mengurus anak dan suami dengan momok menakutkan akan cibiran masyarakat jika dirasa anak atau suaminya bermasalah, sehingga para ibu dan istri tersebut akan mendapat cibiran dari masyarakat.
Ditambah di era modern ini, hak dan kebebasan perempuan telah berkembang lebih jauh, sehingga menumbuhkan banyak pribadi perempuan mandiri yang ingin meniti karir setara dengan laki-laki. Namun budaya dan tuntutan lama seperti keharusan seorang perempuan untuk mengurus rumah dan menjaadi seorang ibu secara penuh, sementara laki-laki masih dianggap tidak sepantasnya untuk lebih sering mengurus rumah.
Pada akhirnya, hal tersebut menimbulkan standar ganda, dimana perempuan selain diberi kebebasan dan dituntut untuk mandiri, namun juga masih dikekang akan urusan rumah tangga dan menjadi seorang ibu, yang seringkali tidak mendapat bantuan secara langsung dari suaminya karena perkara lama tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam lingkungan masyarakat Asia, cibiran masyarakat sekitar –tetangga dan lingkup pertemanan –dan keluarga, memang menjadi salah satu momok yang cukup menakutkan dan seringkali membuat stress. Dari kecil hingga telah berkeluarga, kita memang selalu dihadapkan dengan pandangan dan tuntutan masyarakat dan keluarga, dengan tuntutan unutk selalu menjadi manusia yang sesuai dengan standar mereka.
Hal tersebut tentunya terus menghantui dan terus mendorong kita menjadi manusia yang sesempurna mungkin dalam masyarakat dan keluarga, sehingga seringkali mengabaikan dan mengesampingkan apa yang sebenarnya ingin kita lakukan. Paksaan tersebut akhirnya malah menjadi beban dan menimbulkan berbagai masalah kejiwaan. Juga akhirnya berputar seperti lingkaran setan kepada generasi-generasi selanjutnya, karena pada akhirnya kita akan menjadi bagian dari masyarakat dan keluarga tersebut, yang akhirnya seringkali berujung menjadi penunut yang sama.
Dari beberapa contoh gambaran dan kasus tadi, dapat dilihat bagaimana gambaran masyarakat –termasuk keluarga –dalam menanggapi, menghadapi, dan memberikan standar dan tututan mereka kepada seorang ibu. Juga bagaimana keluarga dan masyarakat sangat mempengaruhi mental para ibu pada akhirnya, masyarakatlah yang seringkali memberikan beban kepada para anggotanya, yang nantinya jika beban tersebut sudah terlampau jauh dan memberikan kerusakan mental, maka akan ada orang lain dan bahkan si penderita yang dipersalahkan.
Standar ganda yang diberatkan pada perempuan akibat tuntutan zaman, dan persepsi lama terkait pembagian peran masing-masing gender dalam masyarakat dan ranah rumah tangga, juga telah menggambarkan bagaimana masyarakat seringkali telah meentukan standarnya sendiri terhadap seorang ibu atau seorang individu, tanpa memberikan solusi yang adil, yang akhirnya menimbulkan rasa terkekang dan kebingungan dalam bersikap, yang akhirnya kasusnya pada seorang ibu, dapat berujung pada postpartum depression.
Pencegahan dan Penanganan Postpartum Depression
Postpartum depression, selain berdampak pada kesehatan mental dan fisik ibu, juga sangat berdampak negatif pada orang-orang terdekatnya, terutama anaknya. Dampak pada anak tersebut bisa terjadi dalam jangka panjang, mengingat dari awal ia tidak mendapatkan perhatian dan kasih saying penuh dari ibunya, yang tentu sangat baik untuk tumbuh kembangnya.
Dalam beberapa kasus, didapati pula penyimpangan perilaku pada anak karena berawal dari ibunya yang dulu terkena postpartum. Bahkan beberapa kasus postpartum depression pada ibu baru diketahui karena berawal dari masalah pada anaknya.
Selain anak, suami dan keluara lainnya –sanak saudara dan orang tua –juga dapat terkena dampak dari ibu yang mengalami postpartum depression, karena seringkali dipersalahkan sebagai faktor pemicu depresi pada ibu. Selain itu tidak jarang juga mereka menjadi luapan emosi atau terkena dampak emosional dari si ibu, dan tentunya mendapat beban tambahan berupa bayi yang harus diurus karena tidak sanggupnya si ibu untuk mengurus bayinya akibat terkena postpartum.
Maka dari itu, diperlukan pencegahan dan penanganan dari postpartum depression. Pencegahan dan penangan tersebut bisa berupa konseling pra-kehamilan dan pasca melahirkan, pengobatan, serta pengaturan kembali kegiatan rutin atau pengurangan beberapa kegiatan berat dalam perawatan bayi yang dapat dilakukan oleh petugas kesehatan.
Dukungan keluarga dan masyarakat atau orang-orang yang ada di sekitar ibu tentunya sangat diperlukan. Maka dari itu selain diperlukan juga edukasi dan peningkatan kesadaran baik kepada ibu, keluarga, maupun masyarakat, sehingga ke depannya orang-orang lebih awas dengan postpartum depression dan tidak melakukan tindakan-tindakan yang berpotensi untuk memicu dan memperparah postpartum depression pada ibu.
Kesimpulan
Postpartum depression merupakan jenis depresi yang menyerang para ibu pasca melahirkan. Depresi ini juga merupakan depresi pasca melahirkan dengan level level tertinggi, karena bisa terjadi dalam jangka waktu panjang. Postpartum depression ini merupakan momok yang cukup menakutkan, yang harus dihadapi oleh para ibu, khususnya di era modern ini.
Depresi postpartum ini berasal dari faktor internal seperti faktor hormonal dan karakteristik ibu. Sedangkan, faktor eksternal yang mempengaruhi atau memancing timbulnya postpartum depression ini berkaitan dengan keluarga, dan juga masyarakat. Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang penting dan sering memicu atau memperparah postpartum depression.
Selain itu, postpartum depression juga memperlihatkan potret atau gambaran sebuah masyarakat, yang seringkali tidak disadari ada di sekitar atau ada di kehidupan sehari-hari. Orang-orang di sekitar sang ibu atau masyarakat yang juga turut memiliki andil besar dalam terjadinya postpartum depression pada seorang ibu. Keadaan masyarakat yang penuh akan tuntutan, serta memiliki standar tersendiri, seringkali mendorong kebingungan dan keresahan para ibu yang ujungnya berakhir pada postpartum depression.
Patriarki dan standar ganda yang seringkali dimunculkan oleh masyarakat, juga memegang andil dalam memicu dan memperparah postpartum depression pada seorang ibu. Patriarki dan standar ganda seringkali membuat para suami enggan dan terlalu gengsi untuk ikut ambil andil dalam mengurusi urusan rumah tangganya. Hingga pada akhirnya hal yang seharusnya menjadi urusan rumah tangga untuk keduanya ujungnya menjadi beban besar yang harus dipikul atau ditanggung oleh para ibu.
Maka dari itu, diperlukan pencegahan atau penanganan khusus dari postpartum depression ini pada si ibu. Penanganan atau pencegahan ini dapat dilakukan dengan cara pengobatan melalui psikiater. Namun, khususnya pada masyarakat, agar tidak timbul kegiatan-kegiatan atau omongan yang sekiranya dapat memicu atau memancing serta memperparah postpartum depression yang terjadi pada ibu. Selain itu, dukungan penuh dari keluarga, terutama dukungan dari suami, juga sangat dibutuhkan baik untuk mencegah, menghadapi, maupun menangani ibu yang terkena postpartum depression.
Referensi:
Nasri, Zulpatin., Wibowo, Arief., & Ghozali, Endang Warsiki. (2017). FAKTOR DETERMINAN DEPRESI POSTPARTUM DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR. Surabaya: Buletin Penelitian Sistem Kesehatan.
Rusli, Risa Arianie., Meiyuntariningsih, Tatik., & Warni, Weni Endahing. (2011). Perbedaan Depresi Pasca Melahirkan pada Ibu Primipara Ditinjau dari Usia Ibu Hamil. Surabaya: INSAN.
Tolongan, Cindritsya., Korompis, Grace., & Hutauruk, Minar. (2019). DUKUNGAN SUAMI DENGAN KEJADIAN DEPRESI PASCA MELAHIRKAN. Jurnal Keperawatan Vol. 7, No. 2.
Rahmatika, Zahira M. (2018). BRIEF COGNITIVE BEHAVIORAL THERAPY MELALUI MEDIA ONLINE UNTUK MENURUNKAN GEJALA DEPRESI. Diunduh dari: http://etd.repository.ugm.ac.id/.
Wardani, Puspa. (2009). FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB DEPRESI PASCA MELAHIRKAN PADA KELAHIRAN ANAK PERTAMA.
Nurhidayah, R. (December 20, 2015). Mengenal Depresi Post-Partum. Retrieved from https://youtu.be/Ak0TtvR3Ikw.
Effendy, A. (October 30, 2016). APA RASANYA POSTPARTUM DEPRESSION? (Berproses Menjadi Ibu). Retrieved from https://youtu.be/k2H-DxP-aiY.
Comentários