top of page
  • Black Instagram Icon

Peniadaan Tokoh Sentral #GejayanMemanggil : Semangat Kolektif Manifestasi Keresahan Bersama

Updated: Nov 22, 2019

“Kolektif adalah sistem kepemimpinan yang melibatkan para pihak yang berkepentingan dalam mengeluarkan keputusan atau kebijakan dengan mengedepankan semangat kebersamaan.”

massa aksi Gejayan Memanggil di Yogyakarta, 30 september 2019 (twitter/molanayudi)

Selama seminggu penuh tidak habis-habisnya aksi massa terjadi di berbagai kota di Indonesia. Dalam aksi yang bertajuk ‘reformasi dikorupsi’ ini massa, yang mayoritas mahasiswa, turun ke jalan menyampaikan aspirasinya mengkritisi kerja Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). DPR dianggap tidak becus dalam menjalani perannya sebagai ‘wakil rakyat’. Aksi ini menjadi klimaks dari berbagai masalah nasional yang sedang terjadi. Mulai dari pelemahan KPK melalui RUU KPK, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatera, penolakan pengesahan RKUHP, kasus rasisme di Surabaya terhadap mahasiswa papua, dan militerisme di Papua.


Di Yogyakarta gerakan Aliansi Rakyat Bergerak menyelenggarakan aksi damai bertajuk Gejayan Memanggil. Informasi aksi ini baru ramai dibahas pada hari minggu malam tanggal 22 september 2019, awalnya informasi terkait aksi ini hanya disebarkan melalui media sosial pribadi. Ajakan-ajakan untuk mengikuti aksi tersebar di grup-grup besar maupun kecil dan bentuk informasinya masih abstrak belum cukup menarik dan mudah untuk dicerna khalayak. Hingga akhirnya muncul akun instagram.com/gejayanmemanggil, yang mengunggah foto teks dengan tulisan “Mosi Tidak Percaya. 23 sept 2019. Gejayan”, “Kosongkan Kelas-Kelas Turun Ke Jalan Kita Ketemu di Gejayan”, dan kalimat persuasif lainnya. Intinya, mereka mengajak para pemirsanya untuk mengikuti aksi Gejayan Memanggil tanggal 23 september 2019. Hanya selang beberapa jam akun tersebut mengunggah foto text yang menjelaskan secara singkat siapa dibalik aksi Gejayan Memanggil dan apa saja tuntutan aksi. Meski terbilang singkat, baru dipublikasikan sehari sebelum aksi, sorotan yang didapat oleh Gejayan Memanggil merupakan yang terbesar. Antusiasme publik menyambut aksi tersebut menarik perhatian media baik cetak, online, maupun televisi. Bahkan tagar #GejayanMemanggil sempat menjadi trending topic di Twitter saking banyaknya pembicaraan seputar topik tersebut.


Unggahan akun instagram Gejayan Memanggil
Unggahan akun instagram Gejayan Memanggil

Dilaksanakan selama dua kali, pada 23 dan 30 september 2019 kemarin, aksi Gejayan Memanggil selalu berakhir dengan kondusif. Aksi ini dipersiapkan dan di koordinasi dengan baik oleh tim Aliansi Rakyat Bergerak. Ini terbukti dengan adanya konsolidasi yang dilakukan tiap kali sebelum aksi berlangsung. Konsolidasi berfungsi untuk menyamakan persepsi antara sesama massa aksi. Ini berdampak langsung pada kondusifnya aksi Gejayan Memanggil, dapat dikatakan ini merupakan aksi paling damai dan chill dibanding aksi-aksi di kota lain. Dari awal munculnya gerakan ini Aliansi Rakyat Bergerak selalu menegaskan bahwa ini digerakan secara kolektif. Sebelum aksi berlangsung dan mulai ramai desas desus mengenai aksi Gejayan Memanggil yang dianggap merupakan aksi pesanan dengan massa bayaran. Aliansi Rakyat Bergerak merespon dengan mengunggah foto teks di instagramnya dengan tulisan “Aksi kami bukan kuda. kami menolak ditunggangi”. Sehari setelah aksi Gejayan Memanggil dna aksi Reformasi Dikorupsi, Presma dari beberapa universitas diundang ke televisi dan mendapat sorotan publik. Aliansi Rakyat Bergerak kembali merespon dengan mengunggah foto di instagram yang menyatakan bahwa “#GejayanMemanggil merupakan gerakan perlawanan yang tidak memiliki pemimpin tersentral. Gerakan ini murni milik rakyat, tidak eksklusif hanya milik mahasiswa, organisasi, institusi, maupun kelompok tertentu. Sesuai dengan pernyataan Koordinator Umum (kordum)nya kepada media online tirto.id, “Aksi ini murni dari masyarakat. Ada pekerja ada pelajar. Ini gerakan organik.”


Unggahan akun instagram Gejayan Memanggil

Unggahan akun instagram Gejayan Memanggil

Motivasi tulus dari massa aksi yang merupakan gerakan organik ini sekilas mirip dengan demonstrasi yang terjadi di Hongkong. Berdasarkan informasi dari tirto.id dan podcast Asumsi Bersuara, Beberapa strategi demo warga Hongkong untuk tetap menjaga semangat dan mencapai tujuan adalah dengan meniadakan sosok pemimpin pergerakan atau tokoh sentral. Para pendemo juga memiliki sistem pembagian kerja yang efisien salah satunya tim khusus peredam gas air mata. Memanfaatkan teknologi untuk berbagi informasi secara underground melalui platform-platform terenkripsi seperti telegram dan reddit, untuk menjaga identitas demonstran. Demonstrasi di hongkong berjalan dibantu dana hasil dari crowdfunding atau penggalangan dana. Sama seperti di Hongkong, Aliansi Rakyat Bergerak juga menerima donasi. Transparansi gerakan ini terbukti dari unggahan di instagram Gejayan Memanggil yang merupakan laporan hasil dana yang diterima beserta sumber dana


Selain gossip tentang aksinya ditunggangi ada juga kabar tentang ketidak sediaan Aliansi Rakyat Bergerak untuk mengirimkan perwakilan ketika diundang tampil di televisi. Sejak 22 september pula informasi atau pernyataan terkait Aliansi Rakyat Bergerak dan aksi Gejayan Memanggil selalu menyebut satu nama, yakni Nailendra. Ia memang tercantum sebagai narahubung atau contact person untuk aksi Gejayan Memanggil tanggal 30 september. Tetapi sejak tanggal 22 september sudah ada berita yang memuat namanya sebagai sumber informasi terkait gerakan ini. Saat aksi tanggal 30 september kemarin muncul seorang, dengan muka tertutup masker hitam dan kacamata hitam dan kepala yang dibalut kain seperti turban, bernama Nailendra yang menyampaikan tuntutan-tuntutan Aliansi Rakyat Bergerak kepada awak media. Nama Nailendra juga disebut dalam satu artikel aljazeera.com, disana ia selaku juru bicara aksi, menyatakan kegeramannya kepada pada DPR yang gagal dan menganggap RKUHP sebagai serangan terhadap ranah privat warga negara. Terakhir satu cuitan guyon dan menyentil dari seorang pengguna twitter yang overheard pembicaraan antar awak media “semua orang gejayan memanggil tu namanya Nailendra ya?”. Nailendra menjadi semacam tokoh topeng bagi aksi Gejayan Memanggil, tidak ada yang tau siapa dia aslinya yang pasti tuntutannya Nailendra adalah tuntutan yang sama dengan ribuan massa aksi Gejayan Memanggil.


Aliansi Rakyat Bergerak patut diapresiasi atas keberhasilannya menghadirkan ruang penyampaian aspirasi bagi publik melalui Gejayan Memanggil. Media penyampaian aspirasi yang terkoordinasi dengan baik. Aksi yang tidak hanya aman bagi peserta yang mengikuti tetapi bagi masyarakat sekitar. Manifestasi dari keresahan bersama menghasilkan semangat kolektif. Semoga nafas dari pergerakan ini panjang dan semangatnya abadi. Semoga seluruh tuntutan Aliansi Rakyat Bergerak dipenuhi, demi tercapainya cita - cita tersebut maka harus dikawal terus tidak hanya oleh para aktivis tetapi juga seluruh lapisan masyarakat. Pada akhirnya alasan utama keresahan yang timbul seputar isu RUU karena hukum tetap hukum dan semua orang bisa kena.

Recent Posts

See All
PEMBATASAN JAM MALAM BAGI PEREMPUAN

Nama: Hanum Ari Prastiwi NIM: 18/424761/SA/19133 Mata Kuliah: Komposisi Menulis Kreatif (menulis etnografi) Alasan pembatasan jam malam...

 
 
 

コメント


HitamPutih.jpg

Thanks for submitting!

Department of Anthropology

Faculty of Cultural Sciences

Universitas Gadjah Mada

  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Black Pinterest Icon
  • Black Twitter Icon

2019 The Human Stories

bottom of page