top of page
  • Black Instagram Icon

Patrick Warmanda: Pengelana di Dunia Sinema

Dec 13, 2019
6 min read

Raditya Baswara, Ni Putu Dessy & Gabriel Dania Rekalino





Patrick Warmanda atau yang akrab disapa Nanda, merupakan seorang sineas muda Indonesia yang kerap kali berkarya dalam belantika film pendek spesialis indie di Jakarta. Berangkat dari kenekatannya terjun dalam dunia film yang diwarnai dengan berbagai cibiran dari kalangan kerabat maupun keluarga, ia berhasil membuktikan idealismenya dalam membuat film yang berbasis dari pengalaman serta risetnya seputar gejolak kehidupan di sekitar. Meskipun seorang lulusan psikologi, namun hasratnya dalam membuat film tidak diragukan lagi. Ia memulai semuanya serba otodidak dari komunitas ke komunitas dan akhirnya melabuhkan minatnya dalam dunia penyutradaraan hingga sekarang. Namanya memang belum se-terkenal sutradara kondang Indonesia lainnya, namun salah satu filmnya yang berjudul “Bella, Perempuan di Kamar No. 2” berhasil masuk dalam Jogja Asian-Netpac Film Festival di tahun 2019.


Film Sebagai Hasrat yang Sejati

Ketertarikannya terhadap dunia film dimulai saat ia menginjak bangku SMA di Kolese Gonzaga Jakarta. Berawal dari sebuah ekstrakurikuler sinematografi yang ia ikuti, kemampuannya dalam membuat karya film mulai diasah. Ia mulai serius dalam menggeluti dunia perfilman ketika memasuki masa kuliah, meskipun disiplin ilmu yang ia pelajari adalah psikologi. Hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya dalam mengembangkan kemampuan di bidang film secara lebih profesional.


Bagi Nanda, membuat film merupakan sarana untuk memenuhi hasratnya. Dukungan dan penolakan datang dari berbagai kalangan, sehingga ia harus berjuang untuk meneruskan minatnya dalam berkarya, mengingat latar belakang keluarganya bukanlah dari dunia seni. Dari sini, ia memulai perjalanan sebagai seorang pembuat film secara otodidak lewat beragam lokakarya dan komunitas yang ia ikuti. Film pertamanya secara profesional yang berjudul Reda di tahun 2016 berhasil membuktikan kemampuannya dalam bidang penulisan naskah, penyunting dan penyutradaraan sekaligus. Rupanya, ia lebih tertarik menjadi sutradara karena bersinggungan dengan riset dan penggodokan konsep.


Di tahun 2016, ia memprakarsai sebuah komunitas film lepasan bernama Selenophile Project. Meski hanya berupa komunitas, namun setiap melakukan proses kreatif semua pihak harus berusaha lebih, mengingat mereka memiliki kesibukan lain dan tidak ada sebuah peraturan yang mengikat. Kerja “luntang-lantung” merupakan sebuah frase yang tepat menggambarkan proses awal komunitas tersebut berdiri. Perlahan, orang-orang di dalamnya mulai datang dan pergi. Melihat situasi tersebut selang 3 tahun berjalan, Nanda memutuskan untuk menjadikan komunitas ini sebuah rumah produksi yang lebih serius. Tidak hanya bergerak dalam film pendek saja, namun Selenophile juga menyediakan beragam jasa bagi kliennya seperti, pembuatan iklan, video clip musik maupun jasa fotografi dan videografi pernikahan dan perayaan lainnya.


Dari segi etimologis, Selenophile berarti para manusia penyuka bulan. Mengapa dinamakan demikian? Hal tersebut karena sebagian besar orang di dalamnya merasa produktif mengelola ide di malam hari, selain itu di waktu itu pula mereka akan cenderung lebih jujur dalam menyampaikan pendapat, sehingga esensi itulah yang dipakainya dalam membuat film. Jika ditanya film mana yang paling membuatnya bangga, dengan lantang ia menjawab “Pinarak” dengan proses pembuatan di kota Jogja. Menurut Nanda, film tersebut berhasil menjadi suatu wahana pengalaman dan pembelajaran yang sangat berarti. Ia jadi mengerti bagaimana proses membuat film yang sesungguhnya, berkolaborasi dengan tim dari daerah lain dan melakukan riset tentang kehidupan lansia dengan waktu yang cukup lama.


Sebagai sutradara indie, tentunya banyak cerita menarik yang bisa diambil. Kebebasan berkarya menjadi salah satu hal yang dinikmati Nanda selama berkarya karena tidak ada ikatan yang berarti dengan instansi atau lembaga khusus. Meski begitu, satu hal yang menjadi tantangan dan akan terus ia perjuangkan pastinya masalah dana dalam pembuatan film. Hal tersebut mungkin menjadi salah satu masalah utama setiap sutradara film independen, sebab mereka harus bergantung kepada kucuran dana donatur lewat proposal yang disebar. Untuk kedepannya, ia sangat ingin dapat terlepas dari belenggu dana yang hingga sekarang masih menghantuinya. Selain itu, profesionalitas kerja orang-orang di dalamnya menjadi satu hal yang masih mengganjal. Ia sadar betul bahwa hingga sekarang belum bisa memberikan apresiasi berupa nilai material.


Berkelana di Lautan Kreativitas

Menjadi bagian dari industri kreatif bukanlah hal mudah. Terlebih dalam dunia sinematografi bergenre indie, tentu banyak sekali rintangan yang menghadang di depan mata. Hal seperti itulah yang kurang lebih dirasakan oleh Nanda. Namun, berangkat dari berbagai tantangan tersebut ia berhasil merefleksikannya ke dalam karya-karya garapannya. Garapan Nanda yang bertajuk “Bella, Perempuan di Kamar No. 2” merupakan salah satu hasilnya.


“Bella, Perempuan di Kamar No. 2” ditayangkan dalam rangkaian Jogja Asian-Netpac Film Festival 2019. Jogja Asian-Netpac Film Festival 2019 atau JAFF diselenggarakan pada 19-23 November 2019. JAFF tahun 2019 mengambil tempat di dua venue yaitu Empire XXI dan LPP Yogyakarta. Film bergenre fiksi ini turut memeriahkan JAFF dalam seksi khusus Layar Komunitas. Layar Komunitas merupakan sebuah ruang non-kompetitif yang dikhususkan bagi film besutan komunitas-komunitas di Indonesia.


Film ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Bella. Ia memiliki pacar bernama Damar. Suatu ketika Bella mengundang Damar untuk pertama kali mengunjungi tempatnya di sebuah kamar kost khusus putri. Seperti yang mungkin dapat dibayangkan, banyak hal pribadi yang akhirnya terjadi hari itu.


Menurut Nanda, banyak hal yang menginspirasinya dalam menggarap film ini. Ketika kami bertanya apa tema dari film ini, Nanda berpikir sejenak lalu tanpa ragu menjawab bahwa film ini mengambil tiga lapis tema. Tema-tema tersebut adalah pelecehan seksual yang berujung pada balas dendam dan penggrebekan kost-kostan. Tiga lapisan tema tersebut diambil dari isu-isu yang sedang hangat di Indonesia saat ini. Film ini merupakan bentuk “sentilan” atas masalah pelecehan seksual hingga pelanggaran ranah privat seseorang dalam bentuk penggrebekan kostan.


Wacana yang diangkat Nanda merupakan sesuatu yang seringkali ada di dekat kita namun luput dari perhatian. Hal inilah yang menjadikan film besutannya menarik dan “indie”. Nanda berhasil menengok sudut tak terlihat, menghayatinya, lalu menuangkan dalam sebuah karya. Pun, bukan karya yang “ala kadarnya”. Ia mengaku bahwa film ini mengambil sudut pandang perempuan dan menanggalkan konsep male gaze yang telah langgeng selama berabad-abad. Sebagai seorang laki-laki tentu hal ini sulit dilakukan, namun berkat ketekunan dan hasratnya untuk selalu belajar membuat tantangan ini dapat teratasi. Nanda juga bercerita tentang bagaimana ia berproses menyelami pikiran perempuan melalui perempuan di sekitarnya dalam proses pembentukan karakter “Bella”.


Menyelami sudut pandang dunia dari mata perempuan bukanlah satu-satunya perkara yang harus Nanda bereskan. Nanda ingin filmnya tidak hanya asal mengangkat suatu masalah tanpa pemahaman mendalam. Oleh karenanya serangkaian risetpun ia lakoni demi membuat film tersebut sedekat mungkin dengan realita. Hal-hal seperti kost-kostan dan penggrebekanpun dipelajarinya lebih lanjut. Untuk memahami setting situasi dan kondisi, Nanda pun rela menyewa sebuah kamar kost guna mengetahui bagaimana rasanya hidup di kost-kostan. Proses tersebut dijalaninya selama kurang lebih tiga bulan. Tak lupa, riset tentang relasi sosial yang memungkinkan terjadinya penggrebekan juga ia lakukan. Berbekal hasil riset dan pengalamannya tersebut, lahirlah “Bella, Perempuan di Kamar No. 2”


Sederet proses kreatif tersebut hingga menghasilkan “Bella” merupakan bentuk kepedulian sekaligus ketertarikan Nanda pada isu-isu sosial terkait seksualitas dan perempuan. Nanda memaparkan keprihatinannya terhadap para perempuan yang “selalu disalahkan”. Hal ini ia uraikan lebih lanjut dengan fenomena pelecehan seksual pada perempuan yang masih saja menyalahkan perempuan itu sendiri. Victim blaming seperti menyalahkan korban atas pakaian yang ia kenakan atau waktu yang ia pilih untuk keluar seperti saat malam atau senja hari. Padahal, hal tersebut sudah tidak relevan lagi menjadi tolak ukur atas terjadinya pelecehan seksual.


Melalui film “Bella, Perempuan di Kamar No.2”, Nanda ingin menyampaikan bahwa pelecehan seksual yang telah terjadi harus dicukupkan. Jangan sampai ada korban lagi yang berjatuhan. Satu lagi saja korban jatuh sudah terlalu banyak. Nanda berharap dengan film ini sedikitnya dapat memberi sentilan halus pada masyarakat tentang bagaimana pelecehan seksual dan pelanggaran ranah privat sebaiknya dihentikan dimulai dari lingkungan pertemanan yang paling kecil.


Komersial atau Idealis? Sebuah Prospek Harapan Sinema Indonesia


Dengan menjalarnya sineas Indonesia, maka bertambah pula rangkaian festival film di berbagai daerah, salah satunya Jogja Asian-Netpac Film Festival di Kota Yogyakarta. Menurut Nanda, ini menjadi hajatan paling bergengsi dan ditunggu-tunggu banyak sineas di Indonesia. JAFF mampu menjadi ruang dan sarana para pekerja film dari berbagai kalangan, baik yang pemula atau profesional untuk saling melebur menjadi satu. Mereka dapat bertukar pikiran serta pengalaman dalam suatu acara yang cukup besar sambil memperkenalkan karya-karya mereka di bidang film. Menariknya, tidak hanya para pekerja film independen yang turut meramaikan, namun para pekerja film komersial yang telah melanglang buana secara luas juga turut hadir pula. Tidak hanya bermanfaat bagi para sineas, namun penonton yang hadir pun turut mendapat manfaat dari sini, sebab diskusi publik dan lokakarya yang diisi para sineas tersebut mampu membawa makna yang mendalam bagi khalayak umum. Kalau filmnya sudah masuk JAFF, rasanya sangat puas, pungkasnya.


Sebagai seorang sineas, Patrick Warmanda merasa bahwa pencapaian yang utama adalah ketika pesan yang ia inginkan dari setiap film buatannya mampu sampai ke para penonton. Sementara itu, beragam bentuk penghargaan atau seleksi dari festival film hanyalah sebuah keberuntungan tambahan semata. “Komersial atau idealis?”, ketika pertanyaan tersebut dilontarkan kepadanya ia menjawab sebagai seorang ekonomis memang komersial memang diperlukan, namun hingga saat ini ia masih menjadi sutradara dengan idealisme tertentu lewat pengalaman dan riset yang ia ciptakan dalam membuat film. Ia percaya dengan begitu makna sebuah film akan lebih kuat. Di masa sekarang, tidak sulit rasanya menciptakan pasar sebab beragamnya medium yang tercipta mampu membuat film indie tidak lagi terkhususkan kepada suatu sektor publik tertentu, malah semakin dikenal.


Sekarang ini, dunia sineas Indonesia memang sedang berada di tahap perkembangan yang cukup pesat. Terlihat dari banyaknya film yang memperoleh komentar positif pada tahun-tahun belakangan ini. Menurut Nanda, pencapaian film Indonesia yang cukup tinggi mampu menciptakan genre baru, sehingga semua jenis film pastinya memiliki pasarnya masing-masing. Antusiasme para penonton juga menjadi aspek dalam menjadikan isu perfilman masih aktual atau hangat dibicarakan. Satu hal yang menjadi perhatian adalah bagaimana kemudian mempertahankan kualitas film yang dibuat agar mampu bersaing di pasar global, sehingga dari segi ekonomis juga mampu menjual. Besar harapan Nanda untuk kemajuan film serta sineas Indonesia di masa mendatang.



“Film adalah suatu bahasa yang global, sehingga dewasa ini penikmatnya tidak hanya terbatas pada suatu kalangan semata namun bisa menjadi pembelajaran bagi semua orang”

Recent Posts

See All

49 Comments


Patrick Warmanda quả là một nhân vật thú vị trong thế giới điện ảnh khi nhìn vào cách anh ấy tiếp cận các dự án cá nhân đầy chiều sâu. Bài viết này làm tôi nhớ đến một người bạn cũ, người từng làm việc trong lĩnh vực sản xuất phim và thường hay nhắc đến i9bet trong những lúc trà dư tửu hậu khi nói về các nền tảng truyền thông hiện đại đang dần thay đổi thói quen xem phim của công chúng. Có lẽ sự sáng tạo không bao giờ có giới hạn, đặc biệt là khi các nhà làm phim như Patrick luôn tìm cách phá vỡ những quy chuẩn thông thường để kể chuyện. Việc theo…

Like

Góc nhìn của Patrick Warmanda về thế giới điện ảnh mang lại cho người xem một cái nhìn đầy cảm hứng và đam mê. Tôi rất thích cách anh ấy mô tả về những trải nghiệm của một người lữ hành trong ngành công nghiệp đầy tính nghệ thuật này. Khi đang đọc đến đoạn về quá trình làm phim, tôi chợt nhớ đến một dòng ghi chú ngắn gọn có cái tên 79king5v mà mình từng vô tình thấy trên bìa kịch bản của một nhóm làm phim độc lập mà tôi từng biết. Sự sáng tạo luôn là một hành trình dài mà ở đó mỗi cái tên đều mang một ý nghĩa riêng biệt đối với người tạo…

Like

Patrick Warmanda là một cái tên thực sự ấn tượng trong làng điện ảnh với những góc nhìn đầy chiều sâu về nghệ thuật kể chuyện. Khi đang đọc về hành trình của ông, tôi chợt liên tưởng đến sự đa dạng của các nền tảng giải trí ngày nay, nơi mà 79king cũng là một cái tên được nhắc đến đôi lần trong các hội nhóm yêu thích phim ảnh. Tôi chưa bao giờ sử dụng bất kỳ dịch vụ hay tìm hiểu sâu về nó, nhưng việc cái tên này xuất hiện đều đặn trong các bình luận khiến tôi có chút tò mò về sự ảnh hưởng của nó. Tuy nhiên, tôi vẫn ưu tiên dành thời gian…

Like

Patrick Warmanda là một cái tên khá thú vị trong thế giới điện ảnh mà tôi mới biết đến qua bài viết này. Tình cờ hôm qua khi đang tìm kiếm một bộ phim cũ để xem, tôi thấy tên xn88aa xuất hiện ở phần bình luận của một diễn đàn hâm mộ phim ảnh, điều này làm tôi chú ý hơn đến những góc nhìn mới về nghệ thuật thứ bảy. Cách tác giả khắc họa chân dung người nghệ sĩ này làm tôi thấy được sự tâm huyết và những trăn trở đằng sau mỗi tác phẩm điện ảnh. Điện ảnh không chỉ là giải trí mà còn là một tấm gương phản chiếu tâm hồn của người làm…

Like

Patrick Warmanda thực sự là một cái tên đáng chú ý trong giới làm phim, người luôn mang đến những góc nhìn mới lạ và đầy tính thử nghiệm. Cách anh ấy khai thác ngôn ngữ hình ảnh khiến tôi nhớ đến những lần tranh luận sôi nổi về nghệ thuật thị giác tại XN88, nơi những người bạn cùng sở thích hay tụ họp để mổ xẻ từng thước phim kinh điển. Đam mê của Patrick không chỉ dừng lại ở kỹ thuật quay dựng mà còn nằm ở tư duy kể chuyện rất riêng, một thứ ngôn ngữ không cần quá nhiều lời thoại nhưng vẫn chạm đến cảm xúc người xem. Có lẽ chính sự kiên định…

Like
HitamPutih.jpg

Thanks for submitting!

Department of Anthropology

Faculty of Cultural Sciences

Universitas Gadjah Mada

  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Black Pinterest Icon
  • Black Twitter Icon

2019 The Human Stories

bottom of page