top of page
  • Black Instagram Icon

Paru Paru Kita Terbakar

Updated: Nov 22, 2019



Saya hanya dapat terdiam melihat berita kebakaran hutan dan lahan yang sedang terjadi di Kalimantan dan Sumatra sejak Juli 2019 lalu. Ya, memang Indonesia sudah berlangganan kebakaran hutan setiap tahun pada musim kemarau. Namun, saya tak akan pernah terbiasa dengan rasa diacuhkannya alam beserta penghuninya. Bagaimana tidak? Hal seperti ini tidak seharusnya membuat kita merasa terbiasa.

Yang seharusnya terjadi adalah pemerintah tegas dalam melindungi hutan, bukannya membiarkannya terus terjadi seakan ia musim atau tradisi tahunan. Pilu rasanya berfikir bahwa perusahan-perusahaan elit yang menyebabkan kebakaran masih saja tidak jera dan pemerintah masih saja tidak memberikan efek jera. Tidakkah ada rasa urgensi akan krisis iklim bumi kita? Apakah kurang jelas dampak-dampak buruk yang terjadi dari perusakan lingkungan dan kebakaran hutan?

Hutan yang terbakar tahun 2019 mencapai puluhan ribu hektar, dengan 101 titik kebakaran hutan berada di lahan korporasi sawit dan bubur kertas. Mengetahui keberadaan titik kebakaran sudah dapat ditebak pembakaran sengaja dilakukan untuk kepentingan korporasi-korporasi tersebut. Memang kebakaran hutan yang sedang terjadi bersifat man-made atau disebabkan oleh ulah manusia. Pembakaran hutan dan lahan menjadi metode paling murah untuk perusahaan agrikultur membuka lahan baru. Tampaknya anggaran lebih penting bagi mereka dibandingkan berbisnis secara bertanggung jawab dan etis. Meskipun ada undang-undang yang melarang penggunaan metode pembakaran, masih saja perusahaan-perusahaan melakukannya. Hal itu pun terjadi setiap tahun, seakan tak ada efek jera yang diberikan kepada perusahaan yang tak bertanggung jawab ini.

Setiap tahun Indonesia mengalami kebakaran hutan pada musim kemarau. Tahun 2015 menjadi periode terparah dengan terbakarnya lebih dari 2 juta hektar hutan. Sejak itu, pemerintah menyampaikan komitmen mereka untuk mencegah terjadinya krisis yang sama dan berjanji untuk menuntut pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya kebakar hutan. Pemerintah berkali-kali mengklaim adanya kemajuan dalam menangani kasus-kasus ini serta berhasil mendorong perusahaan untuk membayar ratusan juta dolar sebagai kompensasi kabakaran hutan. Namun, menurut investigasi suatu lembaga yang bernama Greenpeace menyebutkan bahwa awal tahun 2019 ini tak satu pun perusahaan yang dituntut benar-benar membayar kompensasi itu. Dibandingkan dengan jumlah perusahaan sawit maupun bubur kertas yang mendapat sanksi sipil maupun admonistratif yang tegas, lebih banyak perusahaan yang tidak mendapat sanksi tegas

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pun mengakui bahwa ketegasan hukum yang selama ini dilakukan terhadap para pelaku kebakaran hutan baru memberi efek kejut dari pada efek jera. Pantas saja kebakaran hutan masih saja terus terjadi. Kebakaran yang tejadi tahun ini pun disebabkan oleh beberapa perusahaan yang mengulang membakar hutan dari tahun-tahun sebelumnya. Padahal sudah terdapat undang-undang mengenai hal ini serta denda yang cukup besar, namun tindak lanjut yang tegas jelas kurang.

Seperti yang tertera di salah satu tuntutan Aliansi Rakyat Bergerak kepada pemerintah, seharusnya pemerintah dapat mengadili elit-elit pembakar hutan dan perusak lingkungan di Indonesia dan berani mencabut izin usaha perusahaan yang bermasalah. Ganti rugi atau kompensasi seharusnya ditekan agar lunas, pencabutan atau pembekuan izin seharusnya berani dilakukan. Sanksi-sanksi pun seharusnya berlaku bagi semua perusahaan, bukan satu atau dua saja per tahunnya. Sikap tegas diperlukan. Kesadaran akan betapa pentingnya melindungi hutan kita amat diperlukan. Di mana rasa urgensi pemerintah?

Amat banyak dampak negatif yang disebabkan kebakaran hutan. Yang merasakan efeknya langsung tentunya masyarakat sekitar titik-titik kebakaran hutan. Aktifitas keseharian mereka terganggu oleh adanya kabut asap, salah satunya banyak sekolah yang diliburkan. Lebih lagi, kesehatan mereka terancam karena menghirup asap yang dapat menyebabkan gangguan sistem respirasi mereka. Sudah banyak berita mengenai masyarakat yang terkena penyakit respirasi hingga bayi-bayi yang meninggal karenanya. Tak hanya masyarakat sekitar titik-titik kebakaran huta yang kena dampak, asap pun telah mencapai Malaysia dan Singapura dan menggangu masyarakat di sana.

Selain masyarakat, kehidupan di dalam hutan juga tentu saja kena. Sudah banyak berita beserta foto-foto yang menunjukkan satwa-satwa hutan yang tergusur dari rumahnya sendiri, terluka, dan bahkan mati hangus termakan api. Mereka tidak tahu apa-apa, namun terkena dampak keserakahan korporasi serta kelemahan pemerintah.

Belum lagi masalah krisis iklim bumi kita yang kian hari makin urgen. Indonesia sebagai negara dengan hutan terbesar peringkat ketiga di dunia ikut penyumbang udara dari pohon-pohon rimbun yang kita miliki Terbakarnya hutan menyebabkan pemanasan global, berkurangnya satwa-satwa terlindungi, naiknya level karbon dioksida di atmosfer yang berkontribusi dalam perubahan iklim dan kerusakan tanah. Hal-hal itu juga akan mempengaruhi naiknya suhu bumi, melelehnya es, naiknya permukaan laut, rusaknya udara, dan berbagai kerusakan lainnya. Kita semua sebagai earthlings atau penduduk bumi, terkena dampak dari terbakarnya paru-paru kita yang tersebar di seluruh dunia. Salah satu paru-paru itu ada di Indonesia. Tak hanya masyarakat sekitar yang terkena asap yang dirugikan. Secara jangka panjang, kita semua dirugikan. Kita berbagi paru-paru. kita berbagi planet.

Berita tentang lingkungan hidup kita dan bagaimana pemerintah menanggapinya sedang tidak menenangkan jiwa. Puluhan ribu hektar hutan dan lahan terbakar, pohon lebat hijau menjadi hitam, langit menjadi merah, satwa-satwa terbunuh, tergusur dan tersakiti, respiratori masyarakat disesakkan, kesehatan terancam, produktifitas tertahan, dan iklim makin diancam. Melihat segala dampak buruk yang disebabkan keserakahan elit amat menyayat hati. Ular gosong, orangutan luka-luka, kota yang penuh kehidupan tertutup kabut asap, masyarakat susah bernafas. Melihat hal ini terjadi amat menyayat hati. Kami semua terluka: masyarakat, satwa, dan alam.

Hal-hal kecil dapat kita lakukan sebagai rakyat. Mengurangi penggunaan produk yang mengandung sawit dan mengurangi penggunaan kertas salah satunya. Kita juga dapat mengedukasi orang sekitar, menyuarakan apa yang sedang terjadi dan bagaimana kita dapat membantu. Juga mendesak pemerintah untuk bertindak tegas dalam melindungi hutan. Pemerintah memiliki peran dengan pengaruh yang lebih masif. Penegakan hukum secara tegas amat dibutuhkan guna melindungi hutan dan lingkungan hidup yang kian hari makin dekat dengan kerusakan permanen. We need a sense of urgency.


Referensi

Greenpeace Southeast Asia. (2019, September 24). Indonesian Forest Fires Crisis: Palm oil and pulp companies with largest burned land areas are going unpunished. https://www.greenpeace.org/southeastasia/publication/3106/3106/. accessed: 2 Oktober 2019, 23:54.


Sagita, Dessy. (2019, September 12). Indonesia Forest Fire Surge, Stoking Global Warming Fears. https://www.thejakartapost.com/news/2019/09/12/indonesia-forest-fires-surge-stoking-global-warming-fears-.html. accessed: 2 Oktober 2019, 00:13


Purnamasari, Deti Mega. (2019, Oktober 1). KLHK Penegakan Hukum Pelaku Karhutla Baru Beri Efek Kejut, Belum Efek Jera. https://nasional.kompas.com/read/2019/10/01/18534971/klhk-akui-penegakan-hukum-pelaku-karhutla-baru-beri-efek-kejut-belum-efek . accessed: 3 Oktober 2019, 00:26


Regan, Helen. (2019, September 18). Indonesia arrests around 200 as thick smog from forest fires reaches hazardous levels. https://edition.cnn.com/2019/09/18/asia/indonesia-malaysia-haze-arrests-intl-hnk/index.html . accessed: 3 Oktober 2019, 00:43


(16 September 2019). Indonesia Haze: Why Do Forests Keep Burning?. https://www.bbc.com/news/world-asia-34265922. accessed: 3 Oktober 2019, 01:02

Recent Posts

See All
PEMBATASAN JAM MALAM BAGI PEREMPUAN

Nama: Hanum Ari Prastiwi NIM: 18/424761/SA/19133 Mata Kuliah: Komposisi Menulis Kreatif (menulis etnografi) Alasan pembatasan jam malam...

 
 
 

Comments


HitamPutih.jpg

Thanks for submitting!

Department of Anthropology

Faculty of Cultural Sciences

Universitas Gadjah Mada

  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Black Pinterest Icon
  • Black Twitter Icon

2019 The Human Stories

bottom of page