Menilik Kelompok Seniman dari Pinggir Thailand
- Auliadeviqiara
- Dec 26, 2019
- 4 min read
Oleh : Aisyah Alifah dan Aulia Devi Qiara

Sejak pertengah bulan Oktober 2019 sebagian dari kami sudah mengetahui
adanya pameran seni berskala internasional yang bertempat di Yogyakarta, event ini
berlangsung hingga akhir bulan November. Seperti namanya, Biennale, acara ini
digelar setiap dua tahun sekali, dan sudah beberapa kali bertuan rumah di Indonesia.
Pada tahun ini mengangkat tema yang tidak kalah menarik dibanding tahun 2017 lalu,
dengan judul Biennale Jogja Equator #5 2019. Dengan harapan bisa menyentil
persoalan “pinggiran” di Asia Tenggara, mulai dari identitas gender, ras, agama,
konflik sosial-politik, perburuhan, lingkungan, hingga praktik kesenian, dengan
pameran seni. Tempat diselenggarakan pameran pun tidak hanya berada di satu
tempat, beberapa di antaranya adalah Taman Budaya Yogyakarta, Jogja Nasional
Museum, Gedung Pusat Kebudayaan Koenadi Hardjosoemantri UGM, dan outdoor di
beberapa wilayah kampung pemukiman warga.
Kami memustuskan untuk mengunjungi pameran yang berada di Taman Budaya
terlebih dahulu. Saat pertama kali masuk kamiterlebih dahulu di minta oleh para
panitia yang berjaga untuk mengisi buku tamu, setelah itu kami bisa langsung
berselancar di dalam dunia artistik yang sudah pasti tidak biasa bagi kami para
mahasiswa biasa. Kami disuguhkan dengan banyak sekali sajian instalasi-instalasi
dari para seniman yang ikut serta menyumbangkan karyanya dalam acara ini.
Beraneka ragam, beraneka warna, beraneka pula tujuan dan pesan yang di
sampaikannya. Setelah puas terkagum-kagum oleh semua instalasi seni yang ada,
kami kembali lagi pada instalasi pertama yang kami lihat, sebab rasa tertariklah yang
membuat kami memustuskan untuk mengulas instalasi tersebut yang berada di posisi
persis setelah pintu masuk dan meja absesnsi. Ialah Muslimah collective, Merupakan
salah satu kelompok seniman yang turut serta dalam event ini. Bagi kami, karya
instalasi ini menjadi sangat menarik sebab mereka dengan berani mengangkat isu
agama secara terang-terangan ke dalam dunia seni yang seharusnya menjadi ranah
paling netral di dunia ini. Dengan membuat sebuah instalasi seni yang bertemakan
mengintip kehidupan muslimah pinggiran Thailand mereka mencoba untuk
memperkenalkan diri kepada halayak luas, itu sebabnya karya instalasi yang mereka
buat diberi nama “Muslimah Collective” yang tidak lain merupakan nama dari
kelompok mereka sendiri. Hal tersebut tentu saja seirama dengan tema yang diangkat
pada acara ini.
Lalu, Apa yang Melatar Belakangi Dibentuknya Kelompok Seni Ini?
Secara eksplisit, kami bukan ingin membahas hasil karya dari mereka melainkan
ingin sedikit lebih fokus kepada kelompok seniman berperan sebagai pelaku produksi
karya dan tentu saja penikmat dari karya seni mereka sendiri. Pada tahun 2015, awal
mula mereka memiliki ide untuk bergabung dan berkolaborasi. Berangkat dari rasa
empati yang sama ketika melihat kehidupan sosial di sekitar mereka, dalam hal ini
kaum muslim yang minoritas di Pinggiran Thailand. Mereka berlima, berasal dari
beberapa daerah seperti Pattani, Vala dab Narathiwat, bagian paling selatan
Thailand. Lalu mencoba untuk mempresentasikan karya-karya yang berbeda
yang fokus pada kehidupan muslimah, khususnya di Pattani. Dalam membuat
karya, mereka terinspirasi dari lingkungan sekitar yang dekat, misal tempat
tinggal dan keluarga.
Dengan latar belakang keadaan keluarga yang berbeda, tentu masing-masing dari
mereka memiliki bakat yang berbeda pula dalam menciptakan sebuah karya dan
instalasi seni. Hal tersebut tentu bagian dari usaha mereka untuk mampu membangun
identitas dan maksud lainnya dari karya yang mereka miliki.
Memperkanalkan diri kepada dunia luar
Tak banyak sejarah serta cerita tentang bagaimana perjuangan mereka hingga
bisa mencapai titik sekarangini, titik dimana mereka sudah mulai banyak di kenal
orang di seluruh dunia. Dari video interview yang kami tonton, mereka hanya
menceritakan bahwa untuk pertama kalinya mereka di undang, di minta untuk ikut
andil dalam sebuah acara yang bernama Bangkok Art Biennale 2018 tanpa syarat
apapun, padahal sebelumnya mereka sudah merasa akan terpinggirkan lagi karna
identitas mereka sebagai perempuan berhijab atau muslimah. Pada akhirnya tentu saja
mereka menerima tawaran pembuka pintu rezeki tersebut hingga akhirnya membawa
mereka go international seperti sekarang ini. Karya yang mereka tampilakan pada
acara Biennale Yogyakarta, merupakan karya yang sama yang mereka suguhkan pada
acara Bangkok Art Biennale 2018 lalu.
Nilai Estetik dari Sebuah Karya Seni
Membahas karya-karya yang mereka tampilkan, tentu mata kamisemua akan
selalu tertarik dan mungkin bisa saat itu juga jatuh cinta jika melihat suatu karya yang
tidak biasa, dalam artian tidak kamitemukan dalam kehidupan sehari-hari. Nah,
mereka berhasil untuk ini, semua yang mereka hasilkan ternyata bukanlah sebuah
karya yang biasa-biasa saja.
Pertama, ada sebuah jaring berukuran raksasa yang itu berasal dari serat alami,
dan dibuat secara handmade oleh salah seorang anggotanya, ialah Arichama Pakapet.
Pembuatan jaring besar tersebut di latar belakangi oleh tempat tinggal Arichama yang
berada di daerah pesisir pantai dimana rata-rata penduduknya bermata pencaharian
sebagai nelayan dan hasil olahannya, termasuk kedua orang tuanya. Seolah
menggambarkan sebuah nilai sosial yang murni dan biasa, lalu dengan pandainya ia
sulap menjadi objek yang sangat menarik perhatian. Bahkan sampai bisa membuat
pengunjung berhenti lebih lama dibanding karya lainnya untuk melihat dengan
seksama karya tersebut, guna memperhatikan semua sisi dan penyusun jaring tesebut,
lalu berfikir sehebat dan serumit apa proses pembuatannya.
Berbeda ceritanya dengan Heedayah Mahavi, yang mengapresiasikan karyanya
melalui rumput serta berbagai serat lainnya. Lukisan yang ia buat dimaksudkan untuk
merepresentasikan kehidupan seorang muslimah yang berada di daerah pinggiran, dan
populasinya yang terbilang minim. Belum lagi segala macam anggapan miring yang
selama ini orang labeli mereka, melalui karyanya ia ingin menujukkan bahwa
sebenarnya hal itu semua tidaklah benar. Justru dalam islam, kecantikan sangatlah di
hargai dan ia sangat setuju dengan anggapannya yang menilai bahwa seni adalah
perwujudan dari nilai cantik itu sendiri. Sehingga ia mencoba mengomparasikan
keduanya (agama dan seni) dalam karya 2 demensi yang ia ciptakan. Selain itu ia juga
mengibaratkan lingkungannya bagaikan setangkai bunga yang tumbuh di tanah
peperangan. Sungguh sebuah kesempurnaan kecantikan yang dimiliki oleh karyanya,
ia memvisualisasikan semua itu dalam sebuah gambar dari serat serat rerumputan
yang pada bagian atasnya ia jahit. Sungguh bernilai karya seninya.
Tujuan pembuatan instalasi
Ada beberapa tujuan serta pesan yang ingin di sampaikan oleh kelompok
Muslimah collective ini kepada kamisemua sebagai penikmat karyanya. Pertama dan
yang paling utama, hijab tentu saja merupakan identitas bagi mereka yang merupakan
seorang muslimah. Namun bukan cerita mengenai hijab yang ingin mereka
sampaikan, melainkan sudut pandang mereka mengenai agama serta ketuhanan.
Berangkat dari tujuan utama, mereka mengembangkan pesan-pesan kecil yang tersirat
serta tersurat di dalamnya. Mereka ingin membuktikan bahwa kecantikan bukanlah
suatu hal yang harus di sembunyikan bahkan di larang oleh agama yang mereka anut
(Islam), namun justru agama itu sendirilah yang merupakan sebuah kecantikan. Maka
dari itu seperti yang sudah kami tulis mengenai tujuan utama, mereka memiliki tujuan
untuk membagikan sudut pandang mereka mengenai agama serta ketuhanan, ya
dengan melalui pembuatan karya instalasi seni yang cantik inilah mereka secara
tersirat memberikan pesan bahwa agama yang mereka anut merupakan suatu
keindahan serta kecantikan. Nama Muslimah collective sendiri mereka pilih karna
bagi mereka nama tersebut sangat merepresentasikan diri mereka yang merupakan
seorang muslimah. Dari nama itu mereka berharap dapat membuat karya seni
sekaligus menyebarkan agama mereka dengan cara penyampaian yang jarang
dilakukan oleh kebanyakan umat muslim lainnya.
Sumber:
#5, Tim kurator Biennale Jogja Equator. 2019. Belajar Dari Gagasan
"Pinggiran". Accessed november 20, 2019.
—. 2019. Muslimah Collective. Accessed 11 19, 2019.
Biennale, Bangkok Art. 2018. Muslimah Collective - Bangkok Art Biennale
2018. september 15. Accessed november 20, 2019.
Nissa, Rima Sekarani Imamun. 2019. Mengintip Kehidupan Muslimah
Pinggiran Thailand di Biennale Jogja 2019. october 25. Accessed november
20, 2019.
Comments