top of page
  • Black Instagram Icon

Jogja Bersatu di Aksi Gejayan Memanggil

Updated: Nov 22, 2019


Pada hari Senin tanggal 23 September 2019. Mahasiswa di seluruh kota Yogyakarta membuat sebuah pergerakan yang bernama Gejayan Memanggil. Aksi tersebut mengumpulkan seluruh mahasiswa yang ada di Yogyakarta termasuk saya untuk menyampaikan aspirasi dan penolakkan terhadap revisi UU KPK dan RKUHP. Pada demo kali ini, setidaknya ada 7 tuntutan yang disampaikan Aliansi Rakyat Bergerak. Antara lain mendesak penundaan atau membahas ulang pasal pasal bermasalah dalam RKUHP, menolak pelemahan KPK, menuntut negara untuk mengusut perusakan lingkungan, menolak pasal pasal problematis dalam RUU pertahanan, dan mendesak pengesahan RUU PKS. Selain di Yogyakarta, kota saya sendiri, yaitu Jakarta juga menggelar aksi demo besar besaran yang mengundang seluruh aliansi mahasiswa dari seluruh universitas di Indonesia. Demo ini berlangsung ricuh dan anarkis di depan gedung DPR MPR hingga memakan korban jiwa.


Aksi ini di latarbelakangi oleh ajakan dari beberapa mahasiswa yang membuat undangan konsolidasi berupa poster dari Instagram story yang mengundang seluruh mahasiswa dari Yogyakarta. Konsolidasi bertempat di Halaman Plaza BI Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada dan di mulai pukul 2 siang. Pertama tama mahasiswa mengutarakan pendapat nya terlebih dahulu mengenai kasus yang akan dibahas. Kemudian, para mahasiswa juga berunding membahas tempat aksi yang pas untuk mahasiswa berkumpul, mantan presiden BEM KM Obed Kresna menyarankan Gejayan untuk menjadi tempat diadakan aksinya karena Gejayan adalah titik tengah dari seluruh universitas di Yogyakarta. Setelah itu, mahasiswa diperintahkan untuk berpencar sesuai divisi masing masing yang akan dipilih dan terlibat dalam aksi ini. Divisinya bermacam macam ada Aksi & Propaganda, Desain, Keamanan, Medis, Acara beranggotakan mahasiswa dari beberapa universitas. Hashtag #GejayanMemanggil dibuat pada saat malam hari oleh divisi aksi dan propaganda, mereka semua mendiskusikan apa nama untuk aksi yang akan dibuat. Dari berbagai saran nama, akhirnya terpilih lah Gejayan Memanggil pada malam itu. Keesokan harinya hashtag #GejayanMemanggil viral hingga masuk Trending nomor 1 di Twitter dan sosial media lainnya.


Pada hari sebelum mengikuti aksi besar Gejayan Memanggil, saya mengikuti konsolidasi terlebih dahulu yang dihadiri beberapa perwakilan mahasiswa dari beberapa universitas yang ada di Yogyakarta namun masih lebih banyak anak UGM yang datang. Konsolidasi pertama dimulai dengan masing masing pendapat mengenai kasus penolakkan terhadap revisi UU KPK dan RKUHP. Setelah satu per satu mahasiswa yang mengajukan pendapat nya, lalu mulai menentukan tempat dimana akan dilaksanakan aksi tersebut, namun mantan Presiden BEM KM UGM yaitu Obed Kresna menyarankan kami semua untuk mengadakan aksi tersebut di Jalan Gejayan, alasan nya karena jalan tersebut merupakan titik tengah tengah yang menghubungkan dari beberapa universitas di Yogyakarta. Semua mahasiswa sepakat Jalan Gejayan yang menjadi tempat buat aksi tanggal 23 September nanti. Setelah sepakat, lalu masing masing di instruksikan untuk berpencar dan membuat divisi masing masing untuk dibagi, ada divisi Aksi & Propaganda, Acara, Dokumentasi, Desain, Keamanan dll. Saat berkumpul kebetulan saya tidak ikut bergabung karena ada urusan lain yang harus saya selesaikan.


Hari yang ditunggu-tunggu pun sudah tiba, kebetulan demo pada hari itu dimulai pada jam 11.00 siang untuk berkumpul di titik kumpul utama yaitu Bundaran UGM. Suasana sangat ramai ditambah dengan terik nya matahari yang sangat menyengat kala siang itu. Saat saya berangkat dari kos menuju bundaran UGM, kondisi jalanan sudah dipadati oleh kawanan mahasiswa yang memakai almamater universitas nya masing masing. Disaat memasuki gerbang, lalu saya dan teman teman langsung bergabung ke barisan FIB (Fakultas Ilmu Budaya) UGM. Disana saya dan kawanan lain menyanyikan lagu tanah air, dan lagu lagu perjuangan serta menyorakan yel-yel sambutan apabila mahasiswa dari universitas datang. Banyak juga wartawan, fotografer yang datang untuk meliput serta mendokumentasikan aksi ini karena pada saat itu ramai dan padat sekali sampai sampai jalanan untuk kendaraan lewat dialihkan dan ditutup. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang, saya dan kawanan lain langsung bergegas jalan mengiringi barisan perlahan lahan menuju Jalan Gejayan. Situasi sudah sangat padat, kawanan dari mahasiswa lain pun bertambah di barisan belakang. Terik matahari tidak menghalangi mereka semua termasuk saya untuk terus berjalan ke Gejayan, Polisi dan kawanan nya sudah berkumpul di perempatan pom bensin Sagan guna mencegah keributan terjadi. Sampai di Colombo, saya berjalan paling depan sambil bergandengan dengan mahasiswa FIB lainnya.


Sampai di titik pertemuan yaitu lampu merah pertigaan jalan Gejayan, mahasiswa pun ber orasi disana sambil menaikkan poster demo nya masing masing, seluruh jalan benar benar padat dan menjadi lautan manusia disana. Namun, saya pun tidak sampai selesai mengikuti aksi nya karena saya harus ke Stasiun Tugu untuk pergi ke Solo menonton sebuah drama pertunjukan teman kelas saya. Pada saat saya memutar balik arah untuk berjalan ke belakang dan kembali lagi ke UGM, mahasiswa rombongan belakang pun datang sehingga saya dan teman teman merasa kesulitan dan berdesakkan pada saat jalan ke belakang dan berlawanan arah. Di pertengahan jalan menuju UGM saya sempat melipir ke salah satu minimarket yang kala siang itu buka, karena rata rata mini market/ warung di sepanjang jalan Colombo tidak ada yang buka. Sampai di kos, saya dan teman teman saya langsung bergegas untuk memesan taksi online untuk langsung pergi ke Stasiun Tugu Yogyakarta karena waktu sudah dekat dengan keberangkatan kereta nya.


Pada Aksi Gejayan Memanggil kali ini menciptakan sejarah baru karena demonstrasi tak melulu bersimbah darah dan tak melulu soal kekalahan rakyat kecil. Di aksi ini hampir semua kalangan ikut dari mahasiswa, buruh, aktivis lingkungan, pejuang kesetaraan gender, dosen, dan masyarakat sekitar yang turun langsung ke jalan untuk mengeluarkan aspirasi nya. Aksi ini tidak menimbulkan kericuhan, anarkis, dan korban jiwa di sepanjang jalan Gejayan karena ini adalah aksi damai. Berbeda dengan Jakarta dan kota kota lainnya yang menimbulkan kericuhan hingga memakan korban jiwa. Namun aksi ini juga berdampak negatif bagi masyarakat juga karena mengganggu ketertiban jalan, karena dari pertigaan lampu merah Gejayan menuju Colombo hingga UGM dipenuhi masyarakat yang berdemo, oleh karena itu polisi jalanan menjadi ditutup dan dialihkan melalui jalan lain. Aksi ini adalah aksi damai banyak masyarakat sekitar juga yang merespon positif terhadap kegiatan ini karena Gejayan Memanggil berusaha menciptakan kemenangan, sekecil apapun dan merebut kembali ruang publik kepada masyarakat yang dimana rakyat bisa bebas menyuarakan kegelisahannya tanpa takut represi apalagi sampai ditahan oleh negara. Dalam aksi ini, rakyat berusaha melepaskan sekat sekat yang dibuat oleh para elite dan membaur untuk menyuarakan suara yang sama yakni suara rakyat. Saya sebagai masyarakat juga setuju akan hal itu karena kita sebagai masyarakat Indonesia mempunyai wewenang dan hak untuk mengutarakan aspirasi dan pendapat kita kepada publik dengan cara yang damai dan sejahtera.

Recent Posts

See All
PEMBATASAN JAM MALAM BAGI PEREMPUAN

Nama: Hanum Ari Prastiwi NIM: 18/424761/SA/19133 Mata Kuliah: Komposisi Menulis Kreatif (menulis etnografi) Alasan pembatasan jam malam...

 
 
 

Comments


HitamPutih.jpg

Thanks for submitting!

Department of Anthropology

Faculty of Cultural Sciences

Universitas Gadjah Mada

  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Black Pinterest Icon
  • Black Twitter Icon

2019 The Human Stories

bottom of page