top of page
  • Black Instagram Icon

Influencer Realisasikan Tagar #AyoSemuaBergerak

Updated: Nov 22, 2019

Tidak habis pikir dengan jenis pemantik emosi yang DPR pilih, membuat Rancangan Undang-Undang dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang terlihat ‘nyeleneh’ itu membangunkan sisi kritis dalam diri masyarakat. Bukan lagi, jika kaum apatis seperti saya saja bisa menangis meratapi kondisi negeri saat ini, bukannya itu berarti sudah sangat keterlaluan? Ah, Badan Perwakilan Rakyat! Sebenarnya siapa yang kalian wakili? Rakyat atau diri sendiri? Oh, jangan-jangan negeriku ini oligarki?


Mari sedikit beralih topik, masih banyak tulisan menarik lainnya yang mengkritisi RUU-KUHP—yang jelas bukan di sini. Saya ingin mengajak Anda, untuk melihat lakon lain dalam aksi demo mahasiswa di depan Gedung DPR beberapa waktu lalu.


Mahasiswa sebagai lakon utama, lalu mari kita sebut pedagang asongan yang memberi dukungan berupa air minum gratis kepada demonstran sebagai perwakilan rakyat kecil yang berhati besar, sedangkan influencer? Hold on—jangan langsung mengarah pada kalimat pansos alias panjat sosial, Anda perlu membaca artikel ini sampai akhir untuk mengetahui eksistensi golongan masyarakat menengah ke atas ini menanggapi kondisi ibu pertiwi yang sedang bersusah hati.


Tidak ada yang kebal hukum di negeri ini—jangan lupa, negara kita adalah negara low trust society, pantas saja tidak ada yang kebal hukum kecuali pelaku Amoral Familialism. Nah, nampaknya beberapa influencer muda Indonesia yang dibayar jutaan rupiah untuk satu kali post foto di media sosial itu ‘belum’ masuk pada golongan kebal hukum ini, sehingga mereka ikut menyuarakan apa yang mereka anggap sebagai hak warga negara yang mulai dirampas pemerintah.


Demi konten? Feed instagram? Like? atau mengubah image? Ya, walaupun pada akhirnya mereka meng-upload foto aestetik ketika sedang ikut dalam aksi ke akun media sosial masing-masing, akan terasa lebih fair jika kita menambah porsi pikiran positif di tengah komentar negatif warganet menanggapi aksi mereka.


Mungkin opini-opini beberapa influencer yang dibagikan di media sosial bisa merubah perspektif Anda dari panjat sosial menjadi aksi sosial. Sekali lagi, perbanyak porsi pikiran positif dalam menanggapi sesuatu—sebelum berlagak sok komprehensif.


Awkarin : “Meki dan rahim gue ya urusan gue, bukan urusan negara”. Sebagai followers setia akun instagram selebgram Indonesia dengan biaya endorsement tertinggi ini, saya menemukan salah satu opini Karin di salah satu instastory-nya yang berbunyi seperti di atas. Memang nampak kontroversial, bukan hanya sosoknya saja, segala opini yang ia keluarkan juga selalu mengundang komentar nyinyir warganet.


Hal yang seprivat itu saja pemerintah ingin mengaturnya, apalagi urusan publik—pasti dengan mudah ditunggangi. Kalau vagina dan rahim ikut diatur oleh pemerintah, kita perlu mensyukuri atau menyesali? Ah, rasanya semua serba abu-abu, saya sendiri tidak berada di sisi hitam atau putih dalam urusan ini.


Awkarin yang dikenal akrab dengan gaya hidup bebasnya itu merespons RUU KUHP tentang Zina dan Kohabitasi. Pasalnya, selama ini ia sudah tinggal bersama sang kekasih di rumah sekaligus kantornya. Pihak kontra akan menyanggah RUU tersebut dengan dalih hak pribadi masing-masing. Atau mari kita ringkas dalam kalimat “Terserah saya ingin melakukan apa saja, yang penting tidak merugikan siapapun”.


Dari sisi yang pro, mungkin akan menganggap RUU ini sebagai angin segar di tengah panasnya pergaulan bebas saat ini. Mungkin sebenarnya tidak ada yang diuntungkan atau dirugikan, kembali kepada pribadi masing-masing—tanggung jawab lebih penting. Akan tetapi ingat, tidak ada hitam atau putih di dunia ini, yang ada hanyalah abu-abu.


Tagar #AyoSemuaBergerak benar-benar terwujud karena membawa implikasi #SemuaBisaKena, termasuk si influencer muda Indonesia. Selain Awkarin, Andovi da Lopez dan Chandra Liow turut menyumbang aksi menanggapi dagelan DPR ini.


Sumber : Instagram/@Andovidalopez


Andovi da Lopez yang ikut beraksi bersama mahasiswa di depan gedung MPR/DPR memposting aksi demo tersebut dengan menambahkan caption “Dari yang gua lihat secara pribadi, mahasiswa dan mahasiswi melakukan aksi damai dengan yel yel dan nyanyian serta spanduk yang sewajarnya dilakukan di aksi damai. Are there a few bad apples? Maybe. Tapi sebagian besar melakukan dengan cara yang baik. Jangan menyerah wahai kalian para mahasiswa dan mahasiswi. Negeri ini butuh kalian. Hidup mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!”

Sumber : Instagram/@Chandraliow


Tak jauh berbeda dengan Andovi, Chandra Liow juga memposting keikutsertaannya dalam aksi demo kemarin. Jangan lupa, perbanyak porsi pikiran positif saat melihat postingan para influencer ini. Sambil mengkalungkan kain merah bergaris putih di pundaknya, Liow menuliskan “Terima kasih Mahasiswa atas perjuangan kalian. We are trying our best to help in the way that we can. Everyone, please do what you can in your own ways”, terdengar meneduhkan.


Saya pribadi tidak berniat menulis artikel ini dengan lebih banyak membahas dari sisi seorang Awkarin, namun faktanya aksi yang Awkarin lakukan memang berbeda dari influencer lainnya sehingga lebih menarik untuk dibahas.


Jika lagu I Love you 3000 karya Stephani Poetri bisa mendapat respon positif dari masyarakat, hal ini tidak terjadi pada aksi Awkarin yang membagikan 3000 kotak makan untuk demonstran dalam aksi demo mahasiswa kemarin. Sudah jelas aksinya ini dicap sebagai aksi panjat sosial, pencitraan, cari muka dan masih banyak lagi cacian yang Karin terima.



Sumber : Instagram/@Awkarin


Menanggapi banyak komentar negatif netizen yang membanjiri kolom komentarnya. Karin menuliskan caption yang menunjukkan bahwa ia tak ambil pusing dengan celotehan netizen, “BODOAMAT, gapeduli, tujuannya gak nyari sanjungan gak nyari pahala juga, orang saya juga bukan orang yang taat. Saya cuma memaksimalkan potensi saya sebagai seorang manusia untuk membantu makhluk lainnya yang lemah dan tertindas. Saya cuma menggunakan kemampuan saya sebagai influencer untuk menggerakkan influencer-influencer lain dan anak muda lainnya buat ikut peduli dan beraksi”. Selebgram satu ini memang benar-benar pandai dalam memantik komentar delusi netizen sekaligus membalasnya secara elegan.



Sumber : Instagram/@Awkarin


Tak berhenti dalam keikutsertaannya dalam aksi, Karin masih melakukan aksi sosial pasca-demo. Jika influencer lainnya hanya memposting foto aksi dan menuliskan caption tentang opininya, Karin melakukan hal yang lebih dari itu—minimal mendapat satu poin lebih unggul dari influencer lainnya. Karin mengajak beberapa followers-nya untuk membantu petugas kebersihan membersihkan lokasi pasca-demo mahasiswa. Bersama tim management dan followers-nya, Karin membersihkan lokasi pasca-demo dengan menyisir setiap jalan.


Suatu kebenaran harus ditertawakan terlebih dahulu sebelum diakui sebagai kebenaran, mungkin hal ini lah yang dialami para influencer ketika menunjukkan empati terhadap negeri, aksi mereka diragukan karena dianggap panjat sosial, padahal niat hati aksi sosial. Seharusnya kita menyadari, bahwa kita sama di mata negara, tidak ada yang bisa menghakimi orang lain berdasarkan kebencian, karena #SemuaBisaKena jadi #AyoSemuaBergerak.

Recent Posts

See All
PEMBATASAN JAM MALAM BAGI PEREMPUAN

Nama: Hanum Ari Prastiwi NIM: 18/424761/SA/19133 Mata Kuliah: Komposisi Menulis Kreatif (menulis etnografi) Alasan pembatasan jam malam...

 
 
 

Comments


HitamPutih.jpg

Thanks for submitting!

Department of Anthropology

Faculty of Cultural Sciences

Universitas Gadjah Mada

  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Black Pinterest Icon
  • Black Twitter Icon

2019 The Human Stories

bottom of page