top of page
  • Black Instagram Icon
Search

Gender dan Orientasi Seksual:pandangan dari Ilmu Antropologi dan Ilmu Psikologi

prajna paramitha

Apakah gender benar-benar dihasilkan oleh kebudayaan dan lingkungan sosial? Lalu bagaimana dengan orientasi seksual?

Kanaya Thyza Anandya & Ni Putu Prajna Paramitha Sadu

Pendahuluan: Mengapa Gender dan Orientasi Seksual?

Gender dan orientasi seksual bukanlah hal yang asing lagi di masyarakat. Meskipun kedua hal ini bukanlah hal yang baru, namun masih banyak orang yang kesulitan untuk membedakan antara seks, gender, dan orientasi seksual. Selain itu, kategori-kategori dari gender dan orientasi seksual juga bertambah seiring dengan perkembangan zaman. Berbekal dari rasa keingintahuan kami terhadap pandangan seseorang mengenai gender dan orientasi seksual, kami mencoba untuk berbincang ringan dengan mahasiswa yang menurut kami cocok untuk membahas hal ini. Kami ingin mengetahui bagaimana pandangan mereka mengenai gender dan orientasi seksual di kehidupan modern ini. Melalui diskusi cukup panjang yang kami lakukan sebelum memulai diskusi dengan mahasiswa dari disiplin ilmu lain, kami pun akhirnya memutuskan untuk berbincang ringan mengenai hal ini dengan dua orang mahasiswa Fakultas Psikologi yang bernama Andika Rizky dan Odit Nataraditya.

Alasan kami memilih kedua nama tersebut sebagai teman untuk diajak berdiskusi adalah karena salah satu dari kami, yaitu Anya, sudah berteman cukup lama dengan kedua mahasiswa dari Fakultas Psikologi tersebut. Anya juga merasa bahwa Andika dan Odit cocok untuk diajak berdiskusi tentang isu gender dan orientasi seksual. Oleh karena itu, Anya langsung menghubungi Andika Rizky dan Odit Nataraditya untuk ditanyai kesediaannya untuk berdiskusi. Setelah mereka menyetujui, kami membuat janji untuk melakukan diskusi tersebut. Kami akhirnya memutuskan untuk berdiskusi pada Selasa, 17 Desember 2019 pada pukul 11.30 di Kantin Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Seks, Gender, dan Orientasi Seksual Sebelumnya, kami akan menjelaskan mengenai apa itu gender dan orientasi seksual itu. Secara garis besar, gender adalah serangkaian karakteristik yang terikat kepada seseorang yang membedakan maskulinitas dan feminitas. Karakteristik tersebut dapat mencakup jenis kelamin (laki-laki, perempuan, dan interseks), hal yang ditentukan berdasarkan jenis kelamin (struktur sosial seperti peran gender), atau identitas gender. Sedangkan, orientasi seksual adalah pola ketertarikan seksual, romantis, atau emosional (atau kombinasi dari keseluruhan) kepada orang-orang dari lawan jenis atau gender, jenis kelamin yang sama, ataupun untuk kedua jenis

kelamin atau lebih dari satu gender.

Lalu, apa perbedaan antara gender dan seks? secara garis besar, seks mengacu pada kondisi biologis seseorang, seperti organ reproduksi, jakun, kumis, payudara, dan sebagainya. Sebenarnya, terdapat berbagai kategori seks yang ada di dunia, yaitu Pria, Wanita, Waria, Shemale, dan sebagainya. Namun, yang paling umum diketahui oleh masyarakat luas adalah Pria dan Wanita. Sedangkan gender mengacu pada karakteristik dari seseorang. Gender pada umumnya terdiri dari maskulin dan feminim.

Hilary M. Lips dalam bukunya Gender the basics mengatakan bahwa orang yang mempelajari perbedaan dan persamaan antara yang wanita dan pria miliki terkadang membuat perbedaan antara seks dan gender. Mereka mungkin menggunakan istilah seks untuk merujuk pada kewanitaan dan kejantanan secara biologis, dan istilah gender untuk merujuk pada ekspektasi yang dimediasi budaya dan peran yang terkait dengan maskulinitas dan feminitas. Lips juga mengakui bahwa secara biologis dan dimensi sosial yang mendefinisikan perempuan dan laki-laki tidak bisa benar-benar terpisah dengan bersih. Harapan sosial untuk feminitas, misalnya, adalah dibentuk oleh beberapa hal dalam fakta biologis bahwa wanita bisa hamil. Pria, secara biologis, memiliki kecenderungan untuk memiliki tubuh yang lebih besar, lebih kuat diperkuat oleh norma-norma sosial yang mendorong laki-laki untuk bekerja menjadi kuat dan menghargai mereka karena melakukannya. Menurut Lips, seks dan gender saling berkaitan dan biasanya tidak mungkin untuk memisahkan mereka sepenuhnya. Selanjutnya, gender itu sendiri multidimensi. Salah satu dimensinya adalah identitas gender: pemikiran diri sendiri sebagai pria atau wanita. Dimensi lainnya adalah peran gender: berperilaku dengan cara dianggap tepat untuk wanita atau pria di dalam budaya sekitar. Yang lain lagi adalah orientasi seksual: ketertarikan pada anggota tubuh milik sendiri dan / atau jenis kelamin lainnya (Lips 2014, 2-3).

Lips, dalam bukunya, banyak membahas tentang teori-teori yang membahas tentang gender. Terdapat sebuah teori psikologi evolusi yang berpendapat bahwa setiap spesies, termasuk manusia, berubah seiring waktu sebagai akibat dari perubahan genetik yang diturunkan dari generasi ke generasi. Selain itu, ada juga teori yang berpendapat bahwa berbagai aspek sosialisasi terlibat dalam klasifikasi gender. Anak-anak belajar dari budaya mereka untuk

mengidentifikasikan diri sebagai laki-laki atau perempuan dan bagaimana berperilaku dengan

cara maskulin atau feminim. Pelajaran seperti itu bisa langsung diajarkan oleh orang tua, guru,

atau teman sebaya, atau hanya diserap melalui pengamatan. Teori-teori ini cenderung

mengasumsikan kesesuaian dengan harapan tentang menjadi feminin atau maskulin yang

dimotivasi oleh keinginan individu untuk "masuk" dan menjadi kompeten secara sosial.

Kemudian, ada juga teori-teori sosial-budaya yang fokus pada bagaimana perilaku perempuan

dan laki-laki dibentuk oleh cara kekuatan itu didistribusikan dalam budaya yang lebih luas.

Teori-teori ini berpendapat bahwa, karena begitu banyak budaya memberikan status dan

kekuasaan yang lebih tinggi kepada laki-laki, perilaku yang terkait dengan maskulinitas

cenderung kuat perilaku dan perilaku feminim cenderung menjadi perilaku yang tidak berdaya.

Pendekatan semacam itu tidak berfokus pada anatomi, biologi atau pembelajaran, tetapi pada

dampak langsung dari lingkungan sosial-budaya terhadap perilaku wanita dan pria (Lips 2014,

4-5).

Berdasarkan teori-teori yang telah dijabarkan pada paragraf sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa kategori gender dipengaruhi oleh banyak faktor. Tidak hanya faktor sosial dan kultural, namun faktor biologis dan psikologis juga berperan dalam pembentukan kategori gender. Lalu, bagaimana dengan orientasi seksual?

Dalam sebuah jurnal berjudul Sexual Orientation, Controversy, and Science yang ditulis oleh J. Michael Bailey dan kawan-kawan disebutkan bahwa orientasi seksual didefinisikan sebagai daya tarik seseorang terhadap orang lain dengan jenis kelamin yang sama, kedua jenis kelamin, atau jenis kelamin lainnya. Terdapat empat fenomena terkait yang berada di bawah rubrik umum orientasi seksual yang secara konsep dan empiris dapat dibedakan. Fenomena pertama adalah perilaku seksual, yang terdiri dari interaksi seksual antara orang-orang dari jenis kelamin yang sama (homoseksual), jenis kelamin lain (heteroseksual), atau kedua jenis kelamin (biseksual). Fenomena kedua adalah identitas seksual, yaitu konsepsi diri seseorang (kadang-kadang diungkapkan kepada orang lain dan kadang-kadang tidak) sebagai orang homoseksual, biseksual, atau heteroseksual. Fenomena ketiga dari orientasi seksual adalah tingkat ketertarikan seksual seseorang terhadap jenis kelamin yang sama, kedua jenis kelamin,

atau jenis kelamin lainnya. Fenomena keempat adalah gairah seksual fisiologis relatif seseorang

untuk pria versus wanita (atau rangsangan erotis pria vs wanita), yang lebih erat terkait dengan

aspek-aspek lain dari orientasi seksual pada pria daripada pada wanita. Terminologi yang ada

juga berbeda di antara berbagai fenomena orientasi seksual tersebut. Orang mengidentifikasi

sebagai "gay," "lesbian," "biseksual," atau "straight" (orang dengan orientasi heteroseksual atau

dikatakan orientasi seksual yang normal) (Bailey et al 2016, 48).

Lips, dalam bukunya berjudul Gender the basics, mengatakan bahwa budaya memberikan akomodasi terhadap individu yang tidak nyaman dengan jenis kelamin yang ditugaskan kepada mereka atau yang tidak cocok dengan baik jenis kelamin feminin atau maskulin (Lips 2014, 15-16). Berangkat dari pernyataan tersebut, kami berasumsi bahwa budaya pada akhirnya juga memberikan akomodasi dan kebebasan terhadap individu yang merasa tidak nyaman atau tidak cocok dengan orientasi heteroseksual. Dengan demikian, budaya atau aspek kultural juga memiliki peran dalam pembentukan orientasi seksual. Selain itu, kata “merasa cocok” dan “nyaman” merujuk pada kondisi psikologis. Oleh karena itu, aspek psikologis juga dapat memiliki peran dalam pembentukan orientasi seksual pada diri seseorang.

Hasil Diskusi Dengan menyebut bahwa kami hanya akan berbincang ringan dan acak, kami pun dapat menghasilkan suasana yang lebih santai. Dalam sesi bincang ini, kami tidak menyiapkan skrip pertanyaan ataupun semacamnya yang biasanya disiapkan dalam sesi tanya jawab atau wawancara. Benar-benar seperti bincang biasa yang tidak akan menjadi bahan untuk menulis sebuah artikel. Meskipun begitu, kami memang telah menentukan dua poin penting yang akan kami bahas, yaitu gender dan orientasi seksual. Dari kedua poin ini, pembicaraan kami dan kedua narasumber ini mulai berjalan. Pada hari itu, Andika menggunakan celana berwarna hitam yang dipadukan dengan hoodie berwarna merah. Sedangkan Odit menggunakan jaket denim berwarna ungu yang dipadukan dengan celana hitam, dan tidak lupa tasnya yang berwarna pink. Bertempat di Kansas (Kantin Sastra) FIB UGM, seperti kebanyakan orang yang berada di sana, kami memesan makan terlebih dahulu untuk mencairkan suasana. Maklum saja, salah satu dari kami, yaitu Kanaya, baru pertama kali berjumpa dengan kedua mahasiswa Fakultas Psikologi itu.

Namun, beruntunglah kedua mahasiswa Fakultas Psikologi tersebut sangat bersahabat sehingga

suasana dapat mencair dengan mudah dan perbincangan berlangsung dengan menyenangkan dan

rileks.

Pembicaraan pun berawal dengan menanyai mereka mengenai ada atau tidaknya kelas yang dikhususkan untuk mengangkat isu-isu gender dan orientasi seksual ini. Mereka mengakui bahwa ada kelas yang dikhususkan untuk mempelajari isu-isu ini, tetapi belum waktunya mereka mengambil kelas itu. Menurut mereka, kelas itu hanya bisa diambil setiap semester genap. Mengetahui itu, kami langsung mengganti topik yang lain karena kami merasa pada akhirnya ini hanyalah bentuk subjektivitas. Hal yang selanjutnya kami tanyakan adalah masalah gender dan orientasi seksual itu menurut pandangan mereka sendiri. Untuk orientasi seksual, Andika menjelaskan bahwa penyimpangan pada orientasi seksual (dalam hal ini, Andika merujuk pada homoseksual saja) terjadi karena individu yang selalu bermain atau bergaul dengan sesama jenisnya. Contohnya saja ketika perempuan selalu bergaul dengan sesama perempuan yang akan menghasilkan suatu perasaan nyaman ketika bersama perempuan sehingga minim keinginan untuk bergaul dengan laki-laki. Jikalau pun perempuan ini bergaul dengan laki-laki, ia akan merasa canggung saat berinteraksi. Hal inilah yang menjadi awal mula ketertarikan seseorang kepada sesama jenisnya. Sementara itu, Odit juga mengamini apa yang dikatakan oleh Andika.

Pembicaraan pun berawal dengan menanyai mereka mengenai ada atau tidaknya kelas yang dikhususkan untuk mengangkat isu-isu gender dan orientasi seksual ini. Mereka mengakui bahwa ada kelas yang dikhususkan untuk mempelajari isu-isu ini, tetapi belum waktunya mereka mengambil kelas itu. Menurut mereka, kelas itu hanya bisa diambil setiap semester genap. Mengetahui itu, kami langsung mengganti topik yang lain karena kami merasa pada akhirnya ini hanyalah bentuk subjektivitas. Hal yang selanjutnya kami tanyakan adalah masalah gender dan orientasi seksual itu menurut pandangan mereka sendiri. Untuk orientasi seksual, Andika menjelaskan bahwa penyimpangan pada orientasi seksual (dalam hal ini, Andika merujuk pada homoseksual saja) terjadi karena individu yang selalu bermain atau bergaul dengan sesama jenisnya. Contohnya saja ketika perempuan selalu bergaul dengan sesama perempuan yang akan menghasilkan suatu perasaan nyaman ketika bersama perempuan sehingga minim keinginan untuk bergaul dengan laki-laki. Jikalau pun perempuan ini bergaul dengan laki-laki, ia akan merasa canggung saat berinteraksi. Hal inilah yang menjadi awal mula ketertarikan seseorang kepada sesama jenisnya. Sementara itu, Odit juga mengamini apa yang dikatakan oleh Andika.

Namun, ketika kami bertanya mengenai awal mula terjadinya penyimpangan orientasi seksual berupa biseksual, Andika dan Odit terlihat kebingungan untuk menjawabnya. Kami pikir hal itu didasari kurangnya pemahaman mengenai masalah biseksual ini. Mereka pun memberikan penjelasan bahwa orientasi seksual ini berdasarkan rasa kenyamanan seseorang terhadap orang lain. Menurut mereka, jika salah satunya tidak merasa nyaman, maka hal itu sudah termasuk golongan “pemerkosaan”. Selain karena adanya rasa nyaman, mereka juga menambahkan bahwa orientasi seksual ini ada karena kebudayaan atau lingkungan sosial seseorang selama ia tinggal. Misalnya saja ketika seseorang mengungkapkan bahwa ia memiliki penyimpangan orientasi seksual dan lingkungannya mendukung, hal itu secara cepat atau lambat akan berpengaruh kepada orang lain yang memiliki keinginan terhadap pengakuan orientasi seksualnya. Jika di lingkungan banyak orientasi seksual yang sama dan lingkungannya menerima, maka akan

semakin banyak orang yang akan memiliki orientasi seksual yang seragam.

Lalu, pembicaraan kami berlanjut pada masalah gender ini. Kami menanyakan bagaimana klasifikasi gender itu bisa terjadi. Seperti yang kita tahu, klasifikasi gender sendiri dibentuk oleh kebudayaan dan lingkungan sosial, seperti laki-laki, perempuan, non-biner (tidak mengklasifikasikan dirinya laki-laki atau perempuan, dan sebagainya. Menurut Andika dan Odit, klasifikasi gender ini bisa terjadi karena pola dari masyarakat sendiri yang menyimpulkan bentuk suatu penampilan seseorang. Jika seseorang bergaya tidak sesuai pandangan masyarakat pada umumnya (misalnya perempuan feminim ataupun laki-laki maskulin), maka dianggap menyimpang. Masyarakat di Indonesia pun masih cenderung menyamaratakan antara gender dan orientasi seksual itu sendiri. Pola pikir masyarakat sendiri pun, menurut mereka, masih tergolong sama dari dulu. Hal itu berdasarkan dengan beberapa kejadian atau pengalaman yang pernah mereka temukan. Misalnya adalah anak laki-laki yang bermain boneka akan mudah dikatakan sebagai “banci” karena pemikiran bahwa boneka adalah mainan khusus perempuan masihlah sama. Padahal, boneka bisa jadi teman bagi anak kecil yang kesulitan mengutarakan apa yang ada di hatinya ketika berhadapan dengan orang dewasa.

Secara mendadak, Andika dan Odit mengangkat isu mengenai perubahan pandangan masyarakat terhadap gender itu sendiri. Dalam hal ini, mereka menjelaskan bagaimana sebuah negara merubah tatanan nilainya. Misalnya saja AS yang terbuka terhadap masyarakat yang termasuk pada LGBTQ+ dan keyakinan-keyakinan yang tak terhitung di negaranya. Sebab kami berbincang ringan tanpa landasan pertanyaan terhadap isu ini, kami pun berdiskusi mengenai hal ini secara terbuka. Menurut kami, sebelum menjadi Amerika Serikat yang sekarang, pastinya AS sama seperti Indonesia yang konservatif terhadap sesuatu, dan beberapa masyarakatnya pun masih sama konservatifnya. Contohnya saja seperti masyarakat yang merupakan golongan dari Kristen atau Katolik Konservatif yang menolak kedatangan kaum Islam atau kaum LGBTQ+, ataupun kelompok kulit putih yang menolak kedatangan kelompok kulit berwarna. Namun, ketika ingin mengubah pola pandangan negara terhadap suatu kelompok masyarakat, maka dibutuhkan sesuatu yang dapat mengubah pola pikir masyarakatnya, baik secara halus maupun keras. Kami menganggap bahwa salah satunya jalan adalah dengan adanya konflik. Konflik

sendiri sejatinya memiliki dampak positif dan negatif bagi suatu individu ataupun kelompok.

Dalam hal ini, konflik memiliki dampak positifnya, di mana konflik dapat membuka pandangan

baru masyarakat dalam penerimaan suatu kelompok baru. Menurut kami, itulah yang bisa

menjadikan AS sebagai negara sebebas sekarang.

Perbincangan kami berlanjut pada Amuba, sebuah band pertama di Indonesia yang beranggotakan waria (laki-laki yang berpenampilan atau bergaya seperti perempuan). Amuba ini, menurut mereka, cukup diterima oleh masyarakat Indonesia karena masyarakat sendiri sudah sering disajikan penampilan waria-waria sebelumnya. Contohnya saja seperti waria yang mengamen ataupun waria yang tampil pada layar kaca Indonesia sejak dahulu kala. Waria, dalam pandangan masyarakat Indonesia, tidak lagi dianggap tabu karena rasa terbiasa masyarakatnya. Hal ini seolah-olah menjadi sebuah jalan terang terhadap gender-gender selain laki-laki dan perempuan atau orientasi seksual selain heteroseksual untuk mendapatkan kesempatan agar diakui secara luas. Dalam hal ini, kami menganggap bahwa menjadi berbeda dan minoritas benar-benar sebuah tantangan yang sangat sulit untuk kita hadapi jika masyarakatnya belum bisa menerimanya barang sedikit.

Meskipun topik utama dari perbincangan kami adalah gender dan orientasi seksual, namun pada hari itu kami tidak hanya membahas tentang gender dan orientasi seksual. Kami juga membahas tentang mata kuliah lain dari masing-masing disiplin ilmu. Kami juga baru mengetahui bahwa ada mata kuliah Psikologi Pernikahan yang mempelajari tentang kehidupan seseorang setelah menikah dan mempunyai rumah tangga sendiri. Odit mengatakan bahwa Ia menjadi takut untuk menikah setelah mengikuti pembelajaran mata kuliah tersebut. Selain itu, mereka juga baru mengetahui bahwa di Antropologi terdapat mata kuliah HIV dan AIDS dan mata kuliah Konflik dan Kekerasan. Andika sampai terheran-heran dan bertanya-tanya sebenarnya apa yang dipelajari dalam disiplin ilmu Antropologi.

Menyenangkan rasanya untuk dapat bertukar pandangan tentang sesuatu dengan orang yang mempelajari disiplin ilmu lain. Kami jadi mengetahui perbedaan dan persamaan tentang bagaimana suatu disiplin ilmu memandang suatu fenomena yang ada di masyarakat. Mungkin isu tentang gender dan orientasi seksual ini akan lebih menarik lagi jika dilakukan diskusi dengan

orang dari disiplin ilmu kedokteran, biologi, sosiologi, dan hukum mengingat gender dan

orientasi seksual dipengaruhi oleh aspek biologis, sosial, kultural, dan orientasi seksual nantinya

dapat berkaitan dengan Hak Asasi Manusia.

Kesimpulan Gender merupakan karakteristik yang terikat kepada seseorang yang membedakan maskulinitas dan feminitas. Terdapat beberapa aspek yang mempengaruhi pembentukan kategori gender dalam masyarakat. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah faktor biologis, faktor psikologis, faktor sosial, dan faktor kultural. Sedangkan orientasi seksual merupakan pola ketertarikan seksual, romantis, atau emosional (atau kombinasi dari keseluruhan) kepada orang-orang dari lawan jenis atau gender, jenis kelamin yang sama, ataupun untuk kedua jenis kelamin atau lebih dari satu gender. Terdapat beberapa faktor juga yang mempengaruhi orientasi seksual seseorang. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah faktor pergaulan (merujuk pada faktor sosial), faktor kenyamanan (merujuk pada faktor psikologis), dan faktor biologis.

Dari diskusi kami bersama Andika Rizky dan Odit Nataraditya dari Fakultas Psikologi, kami menyimpulkan bahwa disiplin ilmu kami, yaitu Antropologi, dan disiplin ilmu mereka, yaitu Psikologi, memiliki kemiripan dalam cara pandang terhadap gender dan orientasi seksual. Gender dipandang sebagai suatu konsep tentang maskulinitas dan feminitas yang terbentuk karena pandangan masyarakat tentang bagaimana seharusnya pria dan wanita berperilaku. Sedangkan orientasi seksual lebih dipengaruhi oleh pergaulan dan rasa nyaman dari seorang individu. Memang tidaklah mudah untuk memahami tentang beragam jenis gender dan orientasi seksual yang ada dalam masyarakat. Namun, selama kita bisa menghormati setiap orang, tidak peduli apapun gender dan orientasi seksual mereka, maka kita dapat menciptakan dan menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

Studi Pustaka

J. Michael Bailey, Paul L. Vasey, Lisa M. Diamond, S. Marc Breedlove, Eric Vilain, and Marc Epprecht. 2016. "Sexual Orientation, Controversy, and Science." Psychological Science in the Public Interest 45 –101. Lips, Hilary M. 2014. Gender the basics. New York: Routledge Taylor & Fransis Group.

 
 
 

Recent Posts

See All

Comments


HitamPutih.jpg

Thanks for submitting!

Department of Anthropology

Faculty of Cultural Sciences

Universitas Gadjah Mada

  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Black Pinterest Icon
  • Black Twitter Icon

2019 The Human Stories

bottom of page