Gender atau Feminisme?
- dellaade9
- Dec 20, 2019
- 9 min read
Dibuat oleh: Della Ade Saputri dan Renita Ayu Irmameirika
Pada masyarakat umum, orang dikategorikan menjadi laki-laki dan perempuan dengan faktor dasar pembeda dari sifat biologinya, yaitu organ reproduksi. Perempuan diidentikkan dengan payudara, dan laki-laki diidentikkan jenggot. Perempuan bisa hamil dan melahirkan. Laki-laki dapat membuahi wanita. Namun ternyata perbedaan yang didasarkan dari sifat biologis tidak cukup untuk mencapai maskulinitas dan feminitas. Hilary M. Lips (2014) menyatakan bahwa rupanya menjadi perempuan secara biologis saja tidak menjamin “keperempuannya”, dan menjadi laki-laki secara biologis tidak berarti seseorang itu “laki-laki”. Sehingga ada dua faktor yang melandasi pengkategorisasian sebagai individu, yaitu biologis (sex) dan sosial-budaya (gender).

foto: www.chemistryworld.com
Gender dalam artiannya menggunakan istilah maskulinitas dan feminitas dalam menilai individu. Pemaknaan kedua istilah tersebut memiliki kaitan erat dengan stereotype yang berkembang dalam masyarakat. Menurut Darwin (1999) maskulinitas adalah suatu stereotip tentang laki-laki yang dapat dipertentangkan dengan feminitas sebagai stereotip tentang perempuan. Keduanya memiliki sifat yang saling bertolak belakang, namun membentuk garis lurus yang menggambarkan adanya posisi yang sejajar. Dua ujung garis lurus tersebut dapat menggambarkan posisi dua istilah umum dalam gender, di satu ujung menggambarkan derajat (maskulinitas) dan di ujung yang lain menggambarkan derajat keperempuannya (feminitas). Melalui garis lurus tersebut, individu dapat digolongkan ke laki-laki super maskulin, maskulin, atau bahkan laki-laki feminim. Begitu juga dalam menilai femininitas.
Identitas gender, peran gender, dan orientasi seksual memiliki makna yang berbeda. Banyak dari masyarakat yang masih kurang mengetahui fokus dan perbedaan dari ketiganya. Identitas gender digunakan untuk memikirkan diri sendiri sebagai laki-laki atau perempuan. Peran gender melihat pola perilaku yang dianggap sesuai untuk laki-laki atau perempuan dengan cerminan budaya setempat. Sedangkan orientasi seksual mengacu pada ketertarikan pada anggota dari jenis kelamin sendiri dan/ atau jenis kelamin lainnya.
Antropologi melihat ‘gender’ dengan mempertanyakan tentang sudah sampai manakah bahasan mengenai gender saat ini? Berbagai informasi atau berita yang dikompilasikan dengan cerita yang ada dalam masyarakat menjadi pengantar bahasan gender. Secara keseluruhan, perkuliahan tentang gender mempertanyakan ‘kesetaraan’ yang diusung gender dan telah menjadi stigma yang langgeng hidup di masyarakat. Sebagai mahasiswa, mendapat pengetahuan tentang gender membuat kami merefleksikan diri ke dalam permasalahan sosial yang menjadi ranah gender, mengetahui apa yang salah di mata masyarakat bukanlah benar-benar suatu kesalahan. Misalnya saja mengenai LGBT, di mana masyarakat akan cenderung memandang pelaku LGBT adalah orang yang tidak baik dan tidak patut hidup dalam lingkungan masyarakat ‘normal’, padahal mereka sebagai individu berhak memilih untuk menjadi siapa dirinya dan masyarakat tidak memiliki andil dalam menentukan arah atau jalan hidup orang lain yang bahkan bukan keluarga mereka.
Melalui tulisan ini, kami ingin mengetahui lebih lanjut mengenai isu gender dari beberapa perspektif lintas studi, yang dalam hal ini melibatkan mahasiswa dari program studi Sosiologi dan Psikologi. Kami dibantu tiga orang rekan yaitu, Tea dan Shifa dari Sosiologi 2018 serta Pramesthi dari Psikologi 2017. Alasan kami memilih mereka sebagai teman mengobrol kami mengenai isu gender adalah dikarenakan adanya kedekatan yang telah terjalin sebelum pembicaraan ini. Sedangkan penggunaan lintas program studi tersebut berdasarkan pada adanya kesamaan sebagai ilmu humaniora. Meskipun mereka bertiga mengakui belum mengambil mata kuliah Sosiologi Gender dan Psikologi Gender, kami ingin menempatkan mereka sebagai mahasiswa jurusan masing-masing. Kami berfokus tentang bagaimana mereka‒sebagai mahasiswa Sosiologi dan Psikologi‒ menilai isu gender yang sedang populernya di kalangan masyarakat. Melalui mereka, kami berharap dapat memahami isu gender dari mereka yang memiliki bidang studi berlainan dari kami‒Sosiologi dan Psikologi.
PERBINCANGAN GENDER: MASKULINITAS DAN FEMINISME
Ketiga teman kami memiliki penampilan yang berbeda-beda, penampilan dikatakan juga dapat merepresentasikan watak dari seseorang. Tea memiliki pembawaan yang santai namun lugas dan tegas secara bersamaan, sedangkan Shifa, ia memiliki pembawaan ceria dan tenang, serta lebih banyak menyimak daripada berpendapat. Pramesthi lebih terlihat serius dan memperlihatkan ketertarikannya terhadap topik pembicaraan kami saat itu. Tea menggunakan atasan biru bermotif bunga dengan bawahan celana jeans yang dipadukan dengan hijab biru turquoise glitter. Lalu, Shifa menggunakan blouse biru dongker polos dan celana kulot plisket yang saat itu ia padukan dengan hijab hitam polos. Kesamaan pada dua rekan kami hari itu adalah kacamata, dan entah mengapa mereka berdua memakai kacamata berbingkai bulat. Beda halnya dengan mereka berdua, Pramesthi menggunakan kaos merah muda dan warna hijab senada yang dipadukan dengan celana kain cokelat muda.
Perbincangan kami secara langsung terlaksana pada 7 Desember 2019, tepatnya pada pukul 16.15 WIB, saat langit sore sedang mendung. Kami memilih tempat di salah satu asrama milik UGM Residence yaitu Kinanti I. Perbincangan kami bisa dibilang sangat lancar, karena dari ketiga rekan kami sama-sama memberi respon positif pada setiap pertanyaan yang kami ajukan. Situasi saat kami melakukan perbincangan sangat kondusif, mengingat saat itu kami berada di lobby atau ruang belajar yang memang disediakan oleh UGM Residence bagi mahasiswa untuk berdinamika. Cuaca hari itu cukup dingin, ruangan yang memiliki banyak jendela berkaca besar dan hampir semuanya terbuka membawa kami menikmati dinginnya udara. Yogyakarta akhir-akhir ini sudah memasuki musim hujan, hampir setiap sorenya langit tidak lagi biru karena banyaknya kandungan air yang siap menurunkan hujan ke bumi. Perbincangan kami yang mengalir begitu saja membuat kami tanpa sadar menciptakan suasana riuh, sedangkan di sudut lain nampak sejumlah mahasiswa yang sedang melakukan diskusi juga fokus bercengkrama dengan laptop mereka masing-masing.
Berawal dari menyinggung bagaimana gender dilihat dari perspektif mahasiswa sosiologi, perbincangan ini mengarah pada nilai-nilai kehidupan yang diterapkan oleh Tea selaku seorang pendukung wacana feminisme. Tea bercerita bahwa keputusannya untuk menjadi seorang feminist berawal dari ketidaksetujuan terhadap tindak patriarki yang dilakukan oleh ayahnya. Baginya, patriarki bukalah hal yang harus dilanggengkan dalam praktik rumah tangga. Tindakan mendominasi ayahnya dianggap melemahkan posisi ibunya sebagai seorang istri. Kemudian lingkungan akademis dan pertemanan juga menjadi faktor pendorong baginya untuk menjadi seorang feminist. Beberapa dosen yang mengampu mata kuliah yang ia pilih, sering menyinggung perihal gender dan feminisme. Sedangkan dalam lingkup pertemanannya, dalam beberapa kesempatan ia dan teman-temannya saling bertukar pikiran tentang wacana feminisme. Mengingat alasan Tea menjadi seorang penganut gerakan feminisme atau gerakan perempuan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum perempuan dan laki-laki dan setelah bagaimana antusiasmenya saat membicarakan posisi perempuan dan laki-laki dalam masyarakat, maka tidak diragukan lagi bahwa faktor historis dan lingkungan sosialnya berpengaruh besar terhadap pola pikirnya.
Tea berpendapat bahwa perempuan seharusnya berada pada kedudukan yang sama dengan laki-laki. Namun, realita berkata lain, perempuan masih saja dipandang ‘layak’ untuk berada di bawah kuasa laki-laki. Perempuan pada dasarnya memiliki kesempatan yang sama dan berhak untuk berada pada posisi yang setara dengan laki-laki. Beberapa temannya telah menunjukan adanya gelagat untuk melakukan perubahan terhadap stigma masyarakat tentang perempuan yaitu, di mana perempuan tidak memiliki kebebasan serupa dengan laki-laki. Perilaku tersebut dicontohkannya dari lingkungan sekitarnya, seperti beberapa teman perempuannya yang mulai merokok dan ikut bergabung dalam obrolan para lelaki di lingkungan kampus. Meskipun perempuan yang merokok dianggap badung dan memiliki citra negatif dalam masyarakat, hal tersebut tidak mempengaruhi keputusan mereka untuk tidak merokok.
Menurut Tea, gender itu tidak hanya seputar feminity semata tetapi juga mengenai masculinity. Masculinity dan feminity ada dalam diri setiap individu dan akan muncul pada saat-saat tertentu, tetapi terkadang individu tidak menyadari bahwa tindakan atau pemikirannya merupakan perwujudan dari maskulinitas maupun feminitas. Tea menggambarkan maskulinitasnya melalui adanya patriarki dan matriarki dalam hubungan percintaannya. Ia seringkali protes terhadap kekasihnya yang melakukan tindak patriarki dalam hubungan mereka, contohnya selalu menyuruhnya untuk pulang lebih awal dengan alasan bahwa ia seorang perempuan. Tapi ia juga menyadari bahwa pernah melakukan tindak matriarki kepada kekasihnya, seperti menuntut kekasihnya untuk melakukan apa yang diinginkannya.

foto: gandeyworldclass.blogspot.com
Tidak jauh berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh Tea, Pramesthi sebagai mahasiswa Psikologi memiliki pendapat yang serupa namun berbeda tentang gender dalam konteks ini-gender bukan hanya mengenai masculinity maupun feminity. Pramesthi secara pribadi menyatakan tidak menyetujui adanya pengkategorisasian individu berdasarkan masculinity dan feminity. Kemudian jika dikaitkan dengan isu feminisme yang semakin populer, isu tentang maskulinitas masih tidak banyak dibicarakan. Hal tersebut diungkapkan Pramesthi karena para penganut masculinity masih enggan untuk menyuarakan keberadaan mereka. Lebih lanjut, Pramesthi juga mengutarakan ketidaksetujuannya atas stigma masyarakat tentang terbatasnya ruang ekspresi individu. Menurut Pramesthi, setiap individu berhak berekspresi, selama tidak mengganggu orang lain serta tidak melanggar nilai dan norma-norma dalam masyarakat.
Berbeda dari Pramesthi dan Tea yang memiliki pandangan khusus tentang isu gender, Shifa memilih untuk berada pada posisi netral diantara Pramesthi dan Tea. Shifa meyakini bahwa setiap orang berhak untuk memilih apa yang diinginkannya, terlepas dari segala paksaan dan tuntutan dari pihak manapun. Ia menyatakan bahwa dirinya menerima konstruksi sosial yang telah ada, sehingga ada atau tidaknya kelompok feminity maupun masculinity tidak mempengaruhi nilai yang dipercayainya.
BIAS GENDER
Perbincangan atas isu gender dalam masyarakat yang sering kali lebih banyak disuarakan oleh para perempuan ini menimbulkan pertanyaan bagi kami, apakah isu gender hanya berbicara tentang perempuan saja? Bukankah seharusnya isu gender ini tidak hanya perihal perempuan namun membicarakan tentang segala gender yang ada? Kami merasa bahwa perbincangan tentang gender dengan wacana kesetaraan menjadi bias dengan wacana feminisme.
Pembicaraan isu gender yang seringkali dilakukan oleh perempuan menyebabkan gender cenderung ke arah feminisme. Kami menyimpulkan demikian dikarenakan dari cerita dan pengalaman teman-teman kami‒yang bersedia kami ajak berdiskusi‒ menunjukkan bahwa yang intens menunjukkan suara terkait keberadaannya dalam dunia gender adalah perempuan. Kami belum menemukan para pengikut maskulinitas yang menyuarakan pendapat mengenai posisinya dalam ranah gender. Absennya maskulinitas dalam gender memberikan ruang pada feminist untuk lebih mendominasi wacana mengenai gender, mengarahkannya menuju feminisme.
Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani, menyatakan dalam pidatonya di Seminar Voyage to Indonesia pada tahun 2018 bahwa keberadaan pendidikan di Indonesia terbilang sudah hampir setara antara laki-laki dan perempuan. Namun, kesempatan tersebut menurun hampir 50% dalam dunia kerja. Peran sebagai ibu rumah tangga dan istri menjadi hambatan bagi perempuan untuk meneruskan karirnya, peran yang dianggap telah menjadi ‘kodrat’ yang harus diterima dan dijalankan oleh perempuan. Fenomena ini dinamakan ‘Glass ceiling’ atau ‘kemandegan’ yang mana perempuan bisa memiliki mimpi dan karir tinggi namun tidak dapat meraihnya (Grover, 2015). Berkurangnya kesempatan perempuan dalam berbagai bidang pekerjaan perlu mendapat perhatian pemerintah agar perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam bidang pekerjaan. Ibu Sri Mulyani juga menyinggung permasalahan gender masa kini yang cenderung ke arah bias gender. Menurut beliau, bias gender sering kali menjadikan perempuan sebagai pihak yang merugi.
Isu gender yang muncul di antara masyarakat seolah hanya mengerucutkan gender sebagai masculinity dan feminity semata. Persepsi atas keberadaan gender yang telah menjadi guidance to behave selama beberapa waktu kebelakang merupakan bentuk adanya penindasan terhadap kebebasan individu. Sebelumnya wanita lah yang menjadi ‘korban’ atas keberadaan bias gender, namun kini wacana gender dalam masyarakat malah cenderung menjadikan wanita sebagai tombak dalam pergerakannya. Seolah di sini hanya perempuan yang tidak mendapatkan tempat yang sama dalam masyarakat.
Berhubungan dengan bagaimana pada generasi pertama praktik bias gender terletak pada intensi dan diskriminasi terhadap perempuan dalam masyarakat dan dunia kerja secara terang-terangan, keberadaan praktik bias gender pada generasi kedua cenderung lebih tertata dan tidak se-eksplisit praktik bias gender dalam sebelumnya. Namun masih pada praktik, nilai, dan standar laki-laki. Keberadaan perlawanan bias gender ini lebih tepat jika dikatakan untuk dapat tetap melanggengkan standar laki-laki dalam status, hak, tradisi, nilai dan kepercayaan. Sehingga kami merasa bahwa isu bias gender ini telah bergeser dan cenderung pada gerakan feminisme sebagai akibat dari perlawanan terhadap praktik bias gender pada generasi pertama.
Di saat para perempuan sibuk menyuarakan tentang kesetaraan dirinya, keberadaan gender-gender baru yang muncul akibat adanya uncategorized dalam feminin dan maskulin ini tersamarkan. Gender baru tersebut baru belakangan ini berani untuk menyuarakan keberadaan mereka dalam masyarakat yang masih belum bisa menerima sepenuhnya atas fakta bahwa gender tidak hanya perihal feminity dan masculinity saja. Sehingga isu gender ini masih berada pada wacana feminity daripada wacana keseluruhan gender.

foto: harmonyplace.com
Thailand menjadi salah satu contoh negara di kawasan Asia Tenggara yang mengakui keberadaan 18 gender dalam masyarakatnya. Pengkatogorisasian 18 gender di Thailand berdasarkan ketertarikan. Beberapa gender di Thailand ialah male‒laki-laki menyukai perempuan; female‒perempuan menyukai laki-laki; tom‒perempuan yang berpenampilan seperti laki-laki dan menyukai perempuan atau dee; dan dee‒perempuan yang menyukai tom. Jika di Thailand terdapat delpan belas gender, di kota New York mengenal 31 jenis gender, dan pada media sosial, facebook menwarakan lebih dari tujuh puluh jenis gender kepada para pengguna (General, R. 2017). Mereka yang termasuk dalam kategori bukan gender male dan female melakukan penilaian diri dan dengan sendirinya menggolongkan dengan kelompok gender lainnya. Penggolongan individu berdasarkan gender yang memiliki banyak kategori pilihan ini dilakukan tanpa harus mengkhawatirkan adanya acceptance dalam masyarakat.
KESIMPULAN
Gender merupakan pembagian peran individu menggunakan dasar sosial budaya. Gender mengidentifikasi sesuatu yang tidak biasa menjadi terbiasa dalam tatanan kultural. Saat ini gender tidak hanya untuk menyebut siapa yang laki-laki atau siapa yang perempuan. Ada banyak jenis gender yang telah terbentuk dalam masyarakat dunia. Maka seharusnya isu gender tidak berada pada wacana feminisme saja, pelaku pembicara gender haruslah bersikap objektif dan tidak menempatkan sex dalam gender sehingga terhindar dari bias gender. Sebagai mahasiswa di lingkungan ilmu sosial dan budaya‒mahasiswa Antropologi, Sosiologi, dan Psikologi‒ memiliki kesamaan dalam memandang gender, bahwa gender adalah hasil dari konstruksi sosial masyarakat yang saat ini telah terjebak dalam wacana feminisme dan maskulinitas. Keresahan akan adanya kecenderungan gender pada feminis dan wacana kesetaraannya membuat kami menarik sebuah benang merah bahwa penggunaan kata “kesetaraan” pada gender tidaklah tepat karena tidak ada kriteria khusus bagaimana kesetaraan yang ingin dicapai. Kecenderungan feminisme dalam isu gender turut membuat kami bertanya-tanya, apakah feminisme sebenarnya merupakan bentuk ‘maskulinitas’ yang ingin dicapai perempuan? Perkembangan zaman seharusnya turut diikuti pembaruan sosial karena setiap generasi yang lahir di waktu yang berbeda memiliki nilai dan kultur yang berbeda.
Daftar Pustaka
Darwin, M. 1999. Maskulinitas: Posisi Laki-laki dalam Masyarakat Patriarkis. Center for Population and Policy Studies, dalam Makalah Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada, Edisi S, 281, 1999
General, R. 30 Januari 2017. Thailand Has 18 Different Gender Identities. https://nextshark.com/thailand-18-different-gender-identities/. Diakses pada tanggal 12 Desember 2019.
Grover, Vijay K. 2015. Second generation gender bias: Invisible barriers holding women back in organizations. International of Applied Research, 1(4): 1-4
Kesetaraan Gender Merupakan Isu Prioritas. (2018, August 2). Retrieved from Kementerian Keuangan Republik Indonesia: https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/kesetaraan-gender-merupakan-isu-prioritas/. Diakses pada tanggal 19 Desember 2019.
Lips, H. M. (2014). Gender, The Basic. New York: Routledge.
Comentarios