top of page
  • Black Instagram Icon

DIGITAL SOCIETY DAN SEBUAH KOMUNITAS

Updated: Dec 26, 2019

Anisah Efendi (18/430852/SA/19467)

Tsaniya Insyira (18/424771/SA/19143)


Perbandingan Antara Ilmu Antropologi dan Ilmu Sosiologi dalam Memaknai Sebuah Komunitas


Ilmu Antropologi dan ilmu Sosiologi merupakan ilmu yang saling berdekatan dan bersinggungan. Keduanya, mengalami perkembangan perubahan dimana objek penelitian Antropologi adalah masyarakat dan kebudayaan suku bangsa di luar lingkungan kebudayaan bangsa-bangsa Eropa dan Amerika modern. Namun, dalam fase perkembangannya yang keempat, ada perubahan yang fundamental di mana para ahli Antropologi mulai memperhatikan gejala-gejala masyarakat yang berada di luar objek penelitian Antropologi. Sementara itu, Sosiologi juga mengalami perkembangan yang hampir serupa dengan Antropologi, di mana sejak abad ke-19 tampak banyak penelitian Sosiologi yang mengolah bahan dari masyarakat suku bangsa penduduk pribumi di luar Eropa. Dari situ, tampak jelas bahwa begitu sulitnya membedakan antara ilmu Sosiologi dan Antropologi mengingat keduanya sama-sama mengalami perkembangan yang begitu signifikan (Syarbaini, et al, 2012).


Objek kajian sosiologi mengalami perkembangan yang pesat sekaligus kompleks sejak para sosiolog klasik membangun fondasi teoritis untuk mengkaji masyarakat secara sosiologis. Saat ini, contoh-contoh materi atau entitas, atau bahan yang bisa dijadikan objek kajian sosiologi tak terhitung jumlahnya. Hal ini karena gejala-gejala sosial yang timbul dalam masyarakat itu sendiri semakin kompleks dan beragam. Sebagai contoh, sosiologi menjadikan adanya sebuah komunitas sebagai objek kajiannya. Dalam hal ini, sosiologi kontemporer atau kekinian bergerak lebih jauh dan beragam dalam menjadikan gejala-gejala sosial sebagai objek kajian. Di beberapa kampus di dunia, berkembang studi kepemudaan sebagai objek kajian sosiologi. Kepemudaan menjadi objek yang diteliti. Objek kajian sosiologi kepemudaan melihat bagaimana kultur dikalangan anak-anak muda (youth culture), bagaimana membangun identitas diri, bagaimana pemuda diposisikan dalam politik kebijakan dan kebijakan politik. Selain itu, Objek kajian lain yang sedang naik daun adalah media sosial. Media sosial memfasilitasi individu untuk berinteraksi, membangun identitas, dan mengekspresikan diri. Sosiologi melihat gejala-gejala sosial di media sosial sebagai potensi kajian yang makin populer. Media sosial yang dianggap sebagai objek kajian sosiologi difokuskan pada relasi sosial, interaksi sosial, identitas yang dibentuk melalui konten, alih-alih platform teknologi digitalnya. Pembelajar sosiologi yang menjadikan media sosial sebagai objek kajiannya bisa melihat fenomena sosialnya. Misal, interaksi sosial di komunitas online, mobilisasi massa di internet, hashtag sebagai upaya penggiringan opini publik, dan bisa juga dijadikan sebagai sebuah organisasi sosial. Namun, sebenarnya komunitas tidak selalu berkaitan dengan adanya media sosial, dalam dunia nyata banyak komunitas yang tercipta hanya dengan sekumpulan beberapa orang dari berbagai kalangan dan dengan adanya banyak perbedaan yang ada.


Setelah memahami pandangan Sosiologi terhadap suatu adanya sebuah komunitas, kita dihadapkan dengan sebuah konsep yang berasal dari dari perspektif yang berbeda yakni dalam kacamata Antropologi. Konsep komunitas menurut Antropologi, ditemukan dalam ensiklopedia yang ditulis oleh Spencer dan Barnard dimana konsep komunitas telah menjadi salah satu yang dianggap paling dan paling sering digunakan di dalam ilmu sosial salah satunya sosiologi, yang telah disampaikan di atas. Hal tersebut memang sudah banyak sekali digunakan oleh para antropolog dan hal tersebut juga telah menjadi sebuah fokus perhatian setidaknya selama kurang lebih 200 tahun terakhir. Di saat yang sama definisi yang tepat dari istilah tersebut dikatakan terbukti sulit dipahami. Dalam ensiklopedia tersebut, Warner (1941) memaparkan (dalam Spencer dan Barnard,2002) sebuah komunitas pada dasarnya berfungsi secara keseluruhan sosial, yakni tubuh orang terikat pada struktur sosial umum yang berfungsi sebagai organisme tertentu, dan yang dapat dibedakan dari organisme lain seperti itu. Kesadaran akan perbedaan ini (fakta bahwa mereka hidup dengan norma-norma yang sama dan dalam organisasi sosial yang sama) kemudian memberi anggota masyarakat suatu rasa yang mereka miliki. Begitu juga selama masih ada bagian yang terdapat dari keseluruhan yang berfungsi (keluarga, usia, kelompok status, atau apa pun) dan bekerja dengan baik secara bersama-sama, dimana struktur komunitas itu dapat diharapkan terus ada seiring waktu. Karena tujuan dalam sebuah komunitas sebenarnya untuk mencapai sebuah tujuan yang sama dalam libgkup yang diciptakan. Spencer dan Barnard juga menyebutkan bahwa di dalam bahasan komunitas, terdapat poin-poin penting salah satunya adalah pendekatan simbolik, yakni sesuatu dapat direformasi, esensial dan tunggal yang telah digantikan oleh fokus pada bagaimana 'komunitas' ditimbulkan sebagai ciri kehidupan sosial, kemudian tentang bagaimana keanggotaan komunitas ditandai dan dikaitkan, dan juga adanya gagasan masyarakat diberi makna budaya yang kemudian makna tersebut berhubungan dengan orang lain.


Sementara, definisi komunitas dalam buku Koentjaraningrat berjudul Pengantar Ilmu Antropologi adalah sebagai berikut: “Suatu kesatuan hidup manusia yang menempati suatu wilayah yang nyata, dan berinteraksi menurut suatu sistem adat-istiadat, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas komunitas.” Dalam Antropologi, istilah masyarakat dengan komunitas saling tumpang-tindih, akan tetapi istilah masyarakat merupakan istilah umum bagi suatu kesatuan hidup manusia dan bersifat lebih luas dari sebuah komunitas. Masyarakat adalah suatu kesatuan hidup manusia yang bersifat mantap dan terikat oleh satuan adat istiadat dan rasa identitas bersama, tetapi komunitas bersifat khusus karena ciri tambahan ikatan lokasi dan kesadaran wilayah tadi. Karena memang pada dasarnya dalam setiap adanya komunitas yang dicipakan, memiliki tujuan dan ketentuannya masing-masing yang mana tidak dapat di sama ratakan.


Pandangan Mahasiswa mengenai Arti Sebuah Komunitas


Menurut Nuri Hadatul Aisy, seorang mahasiswi Sosiologi 2017, Ia mengatakan bahwa objek kajian sosiologi itu hanya membahas seputar masyarakat, institusi sosial, serta dinamika-dinamika sosial di dalamnya. Kemudian, sesuatu yang menarik dari Ilmu Sosiologi adalah bahwa ilmu tersebut bukanlah ilmu praktek yang biasanya seputar pengaplikasian contoh-contoh dari ilmu tersebut. Menurut dosen Sosiologinya, Nuri menyampaikan bahwa Sosiologi itu hanya membongkar dan mencari-cari suatu masalah, tanpa menemukan solusinya. Nuri kemudian mencotohkan suatu kasus dalam perspektif Psikologi, di mana jika misalnya solusi itu dicontohkan dengan sebuah obat, dan apabila kita pergi ke Psikolog, kita hanya menceritakan dan membongkar masalah-masalah yang ada pada diri kita, hanya berkeluh kesah pada Psikolog. Lalu, jika kita benar-benar memerlukan solusi atau obat, kita harus mengunjungi seorang Psikiater atau orang yang menjalani pendidikan spesialisasi di bidang ilmu psikiatri tersebut. Sama dengan ilmu Sosiologi, menurut Nuri, jika ingin menyelesaikan masalah yang ada pada masyarakat itu, Ilmu Sosiatri atau PSDK adalah jawabannya, karena ilmu tersebut lah yang terjun langsung ke masyarakat untuk menyelesaikan permasalan yang ada dalam ilmu sosiologi.

Selanjutnya, menurut sepahamannya sampai saat ini, Nuri mendefinisikan komunitas itu sebagai salah satu bagian dari suatu masyarakat. Komunitas adalah sekelompok masyarakat yang mempunyai tujuan yang sama, memiliki banyak kesamaan, dan berusaha mencapai tujuan yang sama itu secara bersama-sama. Biasanya dalam suatu komunitas, tiap individu itu memiliki fokus masing-masing. Bagi Nuri sendiri, komunitas itu sangat penting bagi Ilmu Sosiologi, karena komunitas sendiri merupakan elemen masyarakat. Menurut teori Fungsionalisme dan Strukturalisme, setiap elemen dalam masyarakat itu saling berhubungan satu sama lain, dan ketika salah satu elemen itu tidak ada atau hilang, pasti fungsi-fungsi dari elemen itu sendiri akan kurang atau bahkan hilang. Komunitas sangat lah penting, karena untuk mencapai tujuan dari masing-masing masyarakat yang notabenenya jumlahnya sangat banyak dan luas, tidak mungkin bagi masyarakat itu langsung berbaur dalam jumlah yang banyak, maka dengan adanya kelompok-kelompok atau komunitas di dalam masyarakat itu sangat lah penting. Kemudian Nuri juga menambahkan bahwa istilah “konflik” itu penting bagi suatu masyarakat, karena jika benar-benar tidak ada konflik, kita tidak dapat berfikir di luar kelompok kita sendiri, atau kita juga tidak bisa berfikir di luar kebiasaan kita sehari-hari. Adanya konflik yang memang pasti terjadi dalam tiap kelompok-kelompok atau komunitas itu nantinya akan membentuk sebuah dinamika sosial. Sehingga konflik dalam sebuah komunitas juga dapat dijadikan sebagai penguat di dalamnya, agar tidak kaget dalam menghadapi sebuah adanya masalah yang lebih besar lagi kedepannya.

Bagian selanjutnya, untuk tokoh yang membahas tentang suatu komunitas, Nuri menyebut Ferdinan Tonnies yang membedakan kelompok sosial menjadi dua kelompok yaitu Gemeinschaft (paguyuban) dan Gesellschaft (patembayan). Gemeinschaft atau paguyuban adalah bentuk kehidupan bersama di mana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni serta bersifat nyata dan organis. Kelompok paguyuban sering dikaitkan dengan masyarakat desa atau komunal dengan ciri-ciri adanya ikatan kebersamaan yang sangat kuat. Sedangkan Gesellschaft atau patembayan adalah ikatan untuk jangka waktu yang pendek, bersifat formal dan mekanis. Keanggotaan kelompok patembayan didasari oleh perhitungan yang bersifat rasional misalnya untung rugi, peningkatan karier, prestasi, dan status sosial. Contoh bentuk patembayan adalah interaksi melalui internet. Hal ini disebabkan patembayan bersifat sebagai suatu bentuk yang ada dalam pikiran belaka. Selain itu, bentuk pengelompokan gesellschaf lebih dihubungkan pada masyarakat industrial yang sering diidentikkan dengan masyarakat kota. Menurut Nuri, Gemeinschaft dan Gesellschaft ini dapat menerangkan sebuah contoh-contoh dari komunitas yang ada dalam masyarakat.


Selanjutnya, Nuri mengatakan bahwa saat ini ada dua jenis masyarakat. Pertama yaitu masyarakat yang ada pada dunia sehari-hari atau istilahnya offline, dan ada pula masyarakat virtual atau digital. Dengan adanya suatu dunia digital atau online itu, otomatis sebuah komunitas pasti akan merambah ke dunia digital itu untuk semakin melebarkan komunitas mereka dan menyebarkan apa saja komunitas yang itu punya dan apa yang ingin komunitas itu capai. Fungsi dari adanya media sosial itu membuat suatu komunitas dapat menampilkan apa saja yang mereka punya kepada komunitas yang lain. Nuri memberikan salah satu contoh komunitas yang ada di dunia sehari-hari dan di dunia virtual, yaitu komunitas Rampoe UGM. Rampoe UGM ada di dunia real atau sehari-hari sebagai suatu sanggar Aceh yang menampilkan secara langsung berbagai tarian dari Aceh kepada publik, sedangkan Rampoe UGM dalam dunia virtual atau media sosial ada dalam bentuk sebuah akun Youtube dan Instagram, yang di mana di dalamnya mereka juga melakukan interaksi dengan masyarakat digital, mereka memberikan informasi seputar Rampoe, membagikan sebuah rekaman atau siaran dari penampilan Rampoe, dan sebagainya. Nuri kemudian menyimpulkan bahwa suatu komunitas yang ada dalam media sosial itu salah satunya bertujuan untuk memberikan informasi terkait individu yang tergabung dalam komunitas tertentu. Seperti contohnya, ketika ada satu orang yang memposting foto dirinya sedang mendaki gunung di media sosial Instagram, orang-orang lain atau masyarakat digital pasti tidak akan berfikir sebelumnya jika orang tersebut bisa mendaki gunung, dan ketika melihat orang tersebut memposting foto seperti itu, masyarakat digital pasti akan berfikir orang ini tergabung dalam sebuah komunitas pendaki gunung. Selanjutnya Nuri juga membandingkan adanya suatu komunitas dan sebuah peer group (kelompok teman sebaya) yang ada dalam media sosial. Menurut Nuri, komunitas itu ada dalam lingkup yang cukup besar. Suatu komunitas bersatu dengan segala perbedaan dan memang benar-benar mempunyai tujuan yang sama, sedangkan untuk peer group sendiri terbentuk karena adanya suatu kesukaan yang sama dan adanya perasaan yang click, sesuai atau cocok. Menurut Nuri juga, ada kemungkinan bahwa nantinya di dalam suatu komunitas itu akan terbentuk sebuah peer group.

Membahas tentang suatu kekurangan dan kelebihan dengan adanya sebuah komunitas, dari pandangan Nuri sendiri ia mengatakan bahwa dalam Ilmu Sosiologi, mereka tidak memandang tentang apa namanya benar atau salah, positif dan negatif, kelebihan dan kekurangan, dan sebagainya karena semua hal itu ada faktor-faktor yang mempengaruhi di dalamnya. Menurut Nuri, pasti dalam sebuah komunitas itu ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dalam konteks kelebihannya sendiri, mereka bisa menyatukan pendapat dan tujuan mereka yang sama dalam komunitas itu, namun dibalik hal tersebut pasti nanti akan ada orang-orang yang sebenarnya juga tidak setuju dengan tujuan itu, mereka juga mempunyai tujuan yang lain. Suatu hal tersebut pasti ada dalam tiap komunitas, karena sejatinya setiap masyarakat itu pasti berkembang dan memiliki tujuan masing-masing.

Terakhir, kami membahas masih seputar komunitas kepada Nuri namun dengan konteks yang lebih personal. Ketika ditanya tentang mengapa dirinya mau bergabung dalam suatu komunitas-komunitas tertentu, Nuri mengakatan bahwa sebagai seseorang mahasiswi Sosiologi yang memposisikan dirinya sebagai masyarakat dan keluarga di dalamnya, ia merasa ia hanya memenuhi kewajibannya sebagai suatu bagian dari masyarakat dan menurutnya ia juga perlu untuk berdinamika di dalam suatu lingkungan masyarakat itu. Nuri merasa aneh jika dirinya tidak mengikuti suatu komunitas yang di dalamnya penuh dengan dinamika-dinamika sosial, karena sejatinya sebagai mahasiswa Sosiologi yang harus memahami masyarakat dan harus mengerti dinamika masyarakat, mengapa ia harus diam saja? Padahal dengan belajar dari lingkup yang kecil setidaknya ia bisa memahami dinamika-dinamika masyarakat yang lebih luas. Lalu Nuri mengatakan bahwa secara sosial, kita sebagai manusia adalah makhluk sosial, dan otomatis ketika kita tertarik pada suatu hal, dan melihat bahwa ada orang dengan kesukaan yang sama dengan kita, mengapa kita tidak mencoba untuk masuk ke dalamnya atau bergabung dengan sebuah komunitas? Komunitas adalah hal yang penting bagi individu dalam suatu masyarakat karena kita dapat belajar banyak hal di dalamnya. Dan ketika kita mendaftarkan diri pada komunitas, lalu berhasil bergabung di dalamnya, kita juga harus konsisten pada pilihan kita sendiri dan memikirkan secara matang ketika akan mencoba sesuatu itu. Jangan sampai ketika kita sudah berada di dalam komunitas, kita tidak bertanggungjawab pada komitmen kita di awal, dan kita harus lebih membuka diri kepada orang lain agar proses interaksi sosial berjalan dengan lancar. Nuri, sebagai seseorang yang nantinya akan menjadi sosiolog, ia akan belajar memahami masyarakat di dalam suatu komunitas yang ia ikuti.

Persamaan dan Perbedaan Antara Ilmu Sosiologi dan Ilmu Antropologi


Dari adanya definisi-definisi konsep dari perspektif Sosiologi dan Antropologi dan juga mahasiswi sendiri dengan adanya contoh-contoh kasus yang dijabarkan di atas kami tentunya semakin menemukan adanya kesamaan diantara keduanya bahkan dari pespektif mahasiswi itu sendiri. Dimana komunitas tetap mengaitkan hal yang melekat atau melibatkan emosionalitas di dalamnya tanpa adanya sebuah konflik yang membahyakan. Menurut pandangan Hoult (1969), Sosiologi jelas merupakan ilmu sosial yang objeknya adalah masyarakat, merupakan ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, karena sosiologi adalah disiplin intelektual yang secara khusus, sistematis, dan terandalkan mengembangkan pengetahuan tentang hubungan sosial manusia pada umumnya dan tentang produk dari hubungan tersebut. Fokus pembahasannya adalah interaksi manusia, yakni pada pengaruh timbal balik diantara dua orang atau lebih dalam perasaan, sikap dan tindakan.


Sosiolog Max Weber dalam teorinya selalu menekankan bahwa landasan asumsi dari studi masyarakat adalah memusatkan perhatian pada kepercayaan dan pandangan hidup (beliefs concerning). Seperti contoh, jika kita mengikuti suatu komunitas atau organisasi dalam hal tersebut kita dapat belajar untuk memahami sifat dan sikap orang lain. Sehingga kita sebagai makhluk sosial tidak mudah untuk semena-mena menilai seseorang. Lalu beranjak pada perilaku sukarela (voluntarism) dalam suatu komunitas memang benar adanya, berbeda dengan peer group seperti yang telah di sampaikan di atas bahwa dalam sebuah grup tersebut lebih pemilih dalam menyertakan anggotanya dan tidak ada sebuah unsur sekarela seperti sebuah komunitas. Kemudian menimbulkan kesan individual (the image of individual) juga berupa hal-hal yang positif sehingga tercipta relasi pada kesan masyarakatnya (the image of society). Relasi tersebut adalah makna dari sekumpulan jaringan masyarakat yang terbentuk melalui sebuah komunitas. Oleh karena itu sosiologi dan antropologi juga merubah fokus dan metodologi sesuai dengan perubahan masyarakat dan kebudayaan.


Akibat dari kondisi ini fokus kajian antropologi dan sosiologi sulit bahkan tidak bisa dipisahkan dan dibedakaan begitu saja pada perkembangan zaman saat ini. Meskipun demikian perbedaan yang siginifkan dari kedua ilmu ini, tentunya saat ini mungkin hanyalah pada kisaran metodologi yakni sosiologi lebih memberikan tekankan pada pemikiran metode kuantitatif dan antropologi lebih menekankan pada penelilitian kualitatif. Selebihnya keduanya sulit untuk dibedakan dalam hal pengaplikasiannya karena memang benar-benar mirip. Namun dengan adanya banyak persamaan yang ada antara keduanya tentunya meberikan dampak yang positif tentunya, karena pada dasarnya kedua ilmu tersebut saat ini banyak dilakukan metode penelitian lain yang pada hakikatnya mempunyai tujuan yang sama. Sehingga metode-metode yang digunakan antropologi budaya dan sosiologi dengan demikian dapat saling mengisi dalam melaksanakan proyek-proyek penelitian masyarakat yang sama.


Kesimpulan


Dari beberapa pemaparan di atas pastinya banyak sekali hal-hal yang mungkin belum kita ketahui sebelumnya. Dari adanya peran sebuah komunitas dalam ilmu sosiologi dan juga antropologi kita sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain, dengan adanya sebuah komunitas kita dapat dengan mudah mencari teman dan mungkin suatu saat jika membutuhkan bantuan kita dapat dengan mudah menemukannya. Dengan bersikap baik pada lingkingan sekitar kita juga pastinya akan diterima dengan baik pula. Lagipula sebuah komunitas tidak pernah memandang adanya sebuag latar belakang masing-masing orang, asal seseorang tersebut dapat berbaur dengan komunitas tersebut pastinya akan diterima dengan baik pula.


Selain itu, jika mengikuti sebuah komunitas pastinya relasi pertemanan yang ada akan menjadi lebih luas, sehingga dari sebuah komunitas yang tentunya jumlah massanyab tidak sedikit, dari hal tersebut kita menjadi bisa belajar untuk dapat memahami sikap satu sama lain dan juga belajar arti menghargai satu sama lain. Dengan tidak mudah untuk menjudge seseorang dan selalu bersikap positif baik dalam dunia maya maupun nyata. Dalam hal Pendidikan, adanya banyak persamaan yang ada dalam keduanya, juga dapat memudahkan kita untuk mencari sebuah data, karena lingkup yang ada sangatlah berdekatan sehingga jika memiliki relasi yang baik dapat saling bertukar data dan juga bertukar pikiran. Sehingga saling menguntungkan dan tentunya tidak ada pihak yang merasa dirugikan.




Daftar Pustaka

· DosenSosiologi.com. (2018, 22 Februari). “Sosiologi dan Antropologi” Persamaan & Perbedaannya Lengkap. http://dosensosiologi.com/sosiologi-dan-antropologi-persamaan-perbedaannya-lengkap/ (diakses 16 Desember 2016).

· Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta.

· Malakiono, Zugul. (2018, 9 Februari). Ciri-ciri masyarakat paguyuban (Gemeinschaft) dan Patembayan (Gesellschaft). Hisham.id. https://hisham.id/2015/12/ciri-ciri-masyarakat-paguyuban-gemeinschaft-dan-patembayan-gesellschaft.html (diakses 16 Desember 2019)

· Sosiologis.com. (2017, 3 Oktober). Objek Kajian Sosiologi: Sebuah Ringkasan. http://sosiologis.com/objek-kajian-sosiologi-sebuah-ringkasan (diakses 16 Desember 2019).

· Tasha, F. & Halimah. 2018. Komunitas dalam Perspektif Antropologi dan Sosiologi. Crafting Ethonography. https://www.craftingethnography.com/post/komunitas-dalam-perspektif-antropologi-dan-sosiologi (diakses 16 Desember 2019).


Recent Posts

See All

コメント


HitamPutih.jpg

Thanks for submitting!

Department of Anthropology

Faculty of Cultural Sciences

Universitas Gadjah Mada

  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Black Pinterest Icon
  • Black Twitter Icon

2019 The Human Stories

bottom of page