top of page
  • Black Instagram Icon

Aroma dalam Karya: Mengundang atau Mengusir?

Oleh: Tiara Puspa Ramadanti & Kathrin Shafa Zakiyya

 

Melihat poster Biennale Equator #5 ‘Indonesia Bersama Asia Tenggara’ di laman media sosial instagram berhasil menggugah rasa penasaran kami. Dengan membaca publikasi poster acara ini dan melihat posting-an instagram story milik kawan-kawan—yang menampilkan beberapa instalasi seni—dapat menciptakan representasi unik dan menarik akan apa yang ada di Biennale tahun ini.


Do We Live in the Same Playground?’—yang menjadi tag line Biennale Jogja XV 2019—menjadi pemantik rasa ingin tahu kami untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan mendatanginya secara langsung. Terdapat 6 lokasi pameran Biennale di Yogyakarta ini, dua di antaranya ialah Jogja National Museum dan Taman Budaya Yogyakarta, yang terbukti dapat menarik perhatian kami. Setelah mengunjungi keduanya, hanya ada satu instalasi seni di Jogja National Museum yang nampak selaras dengan tema payung dalam penulisan kali ini.


Ekspektasi? Tidak, yang ada hanya kertas putih. Itulah analogi yang kami gunakan untuk menggambarkan imajinasi kami sebelum mengunjungi Biennale ini. Analogi itu muncul karena kami tidak memberikan ruang ekspektasi apapun dalam percakapan menuju tempat tersebut—yang ada hanyalah kertas putih yang siap ditimpa oleh persepsi masing-masing sebagai hasil dari observasi kami.


Istana sampah tidak selalu menjadi hal yang buruk untuk disuguhkan sebagai gerbang penyambut. Istana sampah yang berada tepat di depan pintu masuk justru menjadi pemantik pertama delusi pengunjung—termasuk kami. Tidak jarang juga konstruksi istana sampah yang didominasi plastik hitam dan merah menarik pengunjung untuk mengabadikannya menggunakan tustel.


Hadirnya istana sampah temporer ini berhasil menjadi tolok ukur argumentasi pengunjung terkait representasi ‘pinggiran’ yang diusung sebagai tema besar Biennale Jogja XV 2019. Sampah, kumuh, bau, kotor, dan menjijikkan—lima kata yang mampu mewakili potret ‘pinggiran’ yang sering kita jumpai. Belum sampai kami memasuki pintu utama, lima kata tersebut sudah muncul mengisi kertas kosong kami menggambarkan kesan ‘pinggiran’ itu.


Kami mulai memasuki ruang demi ruang untuk menjawab pertanyaan ‘Do We Live in the Same Playground?’—pertanyaan yang sederhana, tapi tidak untuk jawabannya. Setiap ruang mampu menambah baris catatan kami untuk menjawab pertanyaan tersebut, salah satunya sebuah ruang berbau amis karya Muhammad Ridwan Alimuddin X Tactic Plastic. Tidak hanya sekadar untuk mengisi catatan, instalasi ‘Mengandung Plastik’ tersebut mampu menciptakan kacamata baru dalam memandang sebuah karya seni menggunakan paradigma etnografi yang melibatkan pancaindra dalam menginterpretasikan sebuah kebudayaan.


Berkelana dalam Aroma

Tanpa keraguan kaki ini melangkah menyusuri sudut ruang berbau amis tersebut. Rasa mual dan jijik—itulah kesan pertama yang saya rasakan. Akan tetapi, saya yakin bahwa setiap instalasi punya cerita, dan saya menyebutnya sebagai buah catatan perjalanan sang pengelana. Begitulah saya memahami setiap instalasi seni yang ada di Biennale—termasuk karya Ridwan Alimuddin ini. Tidak hanya cerita, bahkan setiap instalasi seni memiliki konsep ‘pinggiran’ masing-masing.


Meski kesan pertama yang hadir tidak mengenakkan, namun saya dapat merasakan kemirisan yang terpotret dalam karya ini. Langkah kaki semakin saya mantapkan untuk menyusuri tiap sudut ruang instalasi seni berwujud sampah dengan menerka, apa sih yang sebenarnya ingin seniman gambarkan, dan ‘pinggiran’ mana yang dimaksud.


Dengan melibatkan mata, hidung, pikiran, dan juga perasaan saya mencoba untuk memahaminya. Tanpa melihat terlebih dahulu narasi deskriptif karya yang tertempel di tembok ruangan, saya mampu sedikit menginterpretasikan karya Ridwan Alimuddin ini. Memperhatikan dan mengamati tiap detail fragmen kecil yang ada dalam karya ini membuat saya paham: ‘oh ternyata seniman ini ingin menggambarkan potret lautan penuh sampah, yang sejatinya menjadi habitat bagi berbagai makhluk hidup hewani malah dirampas oleh kekejaman ego manusia’.


Banyak sampah plastik yang digambarkan mengapung dan tersangkut pada terumbu karang, juga tenggelam di dasar laut yang akan merusak tatanan ekosistem lautan. Kengerian pun semakin diperparah dengan hadirnya aroma berbau amis dan menjijikkan. Walaupun secara visual penggambaran kepelikkan fenomena tersebut sudah tersampaikan, tetapi penambahan hadirnya unsur aroma dalam karya ini membuat imajinasi saya semakin liar. Aroma amis yang sengaja dihadirkan menambah kesan miris kehidupan lautan yang sekarang dipenuhi sampah. Jika saja instalasi seni ‘Mengandung Plastik’ ini tidak ditambah unsur bau, saya yakin bahwa akan sangat sulit untuk menerka pemaknaannya dan pasti akan terasa sangat membosankan.


Terlihat seperti nyata—mungkin akan menjadi kalimat yang tepat untuk merepresentasikan instalasi seni ini. Saya dapat mengatakan bahwa seniman instalasi ini berhasil dalam mewujudkan gambaran tentang kepelikkan laut yang dirundung dengan banyaknya sampah plastik mengambang dan tenggelam di dasarnya. Indikator keberhasilan itu tidak terlepas dari aroma bau yang dibawa ke dalam ruangan ini—di samping penggambaran visualnya yang juga sangat representatif.


Memasuki instalasi ini membuat semua indra bekerja untuk menginterpretasikannya. Saya benar-benar merasakan bagaimana menjadi etnografer sungguhan ketika masuk dan mengamati instalasi berbau ini. Menjadi etnografer dituntut untuk selalu peka ketika sedang berada di medan pengamatan. Tidak hanya penglihatan—fokus pikiran, perasa, penciuman, pendengaran, dan peraba harus selalu diaktifkan ketika melakukan pengamatan terhadap suatu fenomena tertentu. Hal itu lah yang dapat saya praktikkan ketika mengamati instalasi milik Ridwan Alimuddin ini.


Meskipun Ridwan Alimuddin berhasil dalam membawakan karya ini, saya masih sedikit mengawang dalam menyebutkan konsep ‘pinggiran’ mana yang diusungnya. Visualisasi sampah dan aroma kurang berhasil dalam merepresentasikan konsep ‘pinggiran’. Itulah mengapa narasi deskriptif mengenai instalasi karya ini menjadi sangat penting.


Sepotong persegi mungil yang tertera di sudut ruang dan tertempel pada tembok menyimpan sejuta cerita dari sebuah perjalanan panjang sang pengelana, Ridwan Alimuddin. Fragmen kecil yang saya maksud ialah narasi deskriptif dari instalasi karya ‘Mengandung Plastik’. Melalui secarik kertas berbentuk persegi mungil itu sang seniman mencoba untuk menjelaskan latar belakang terwujudnya instalasi seni tersebut.


Mahakarya yang berusaha merespons sebuah persoalan pelik di Desa Pambusuang, Sulawesi Barat—tempat seniman ini dilahirkan. Persoalan ini sangat kontras jika dihadapkan dengan sistem kepercayaan masyarakat yang berkembang terhadap laut. Melalui secarik kertas persegi mungil itu disampaikan bahwa sebenarnya masyarakat Pambusuang sangat mengagungkan laut, tempat mereka biasa mencari penghidupan. Namun di sisi lain, membuang sampah di laut telah menjadi kebiasaannya.


Melalui narasi tersebut saya menjadi paham bahwa visualisasi berwarna putih besar yang dibuat menggantung dan berbentuk seperti kepiting raksasa itu ternyata merupakan representasi dari ikan terbang yang ada di lautan Desa Pambusuang. Ridwan menghubungkan persoalan sampah plastik itu dengan salah satu tradisi tahunan masyarakat setempat: perburuan telur ikan terbang. Ia menghadirkan instalasi alat jemuran ikan terbang lengkap dengan telurnya yang layak konsumsi tetapi telah bercampur dengan mikro-plastik—keadaan yang pastinya teramat miris.


Visualisasi bentuk, aroma, serta narasi deskriptif, merupakan perpaduan tiga hal yang sangat lengkap untuk menggambarkan fenomena krusial ini. Memutuskan masuk dan menahan ego untuk mual karena bau tidak sedap itu terbayarkan dengan terwujudnya imajinasi dan argumentasi baru sebagai pemenuh coretan baris dalam kertas kosong yang kami bawa.


Enggan Masuk, Takut Muntah

Saya berbeda dengan Kathrin, teman satu kelompok saya itu benar-benar hebat dalam memfilter bebauan. Lihatlah, sudah banyak yang ia tangkap dalam tulisannya di atas. Kami menelusuri semua instalasi bersama-sama, namun hal itu tidak berlaku ketika kami—tepatnya saya berhadapan dengan ruang ‘Mengandung Plastik’. Dengan senang hati saya mempersilahkan Kathrin untuk masuk sendirian. Sedangkan saya? Mencium bau amis dari luar saja sudah cukup mengesankan.


Meskipun sudah tertutup oleh kain putih sebagai pintunya, bau amis yang dihasilkan dari instalasi seni ‘Mengandung Plastik’ karya Muhammad Ridwan Alimuddin X Tactic Plastic itu benar-benar berhasil membuat saya dan beberapa pengunjung lainnya mengurungkan niat untuk masuk dan menikmati karya tersebut seperti saat memasuki instalasi seni sebelumnya. “Lebay!”—bukan, ini bukan soal kemayu sehingga cepat menyimpulkannya sebagai sesuatu yang berlebihan. Bagi saya pribadi yang punya pengalaman kurang menyenangkan dengan bau amis yang persis pelet (pakan lele) yang sudah dicampur dengan air, tentu tidak akan mau mencium bau menyengat yang langsung bersarang di kerongkongan itu walaupun hanya untuk waktu yang singkat.


Sambil mengibaskan tangannya berkali-kali di depan hidung seraya berharap mendapat oksigen segar, wanita berambut hitam panjang itu keluar dari instalasi seni ‘Mengandung Plastik’ dengan ekspresi menahan sesuatu yang hendak keluar dari tenggorokannya—saya yakin, memuntahkan sesuatu di sini tidak akan menjadi hal yang patut dikenang. Untungnya pengunjung wanita itu bisa menahan sampai matanya berair. Jika hal semacam itu di sebut ‘lebay’, saya dan pengunjung wanita tersebut akan pantas menyandang kata bermakna berlebihan itu.


Standar yang saya ciptakan untuk menyebut orang lain hebat adalah ketika orang tersebut bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa saya lakukan—tahan dengan bau amis yang ada di ruangan itu adalah suatu hal hebat. Kathrin bisa bertahan selama itu di dalam sana, dia berhak menyandang status hebat dari standar yang telah saya ciptakan tadi.


Rasanya tidak adil jika saya tidak ikut masuk menyusul Kathrin dan merekam semua yang ada di dalam sana untuk mengisi kertas kosong kami. Menerobos masuk, tidak sampai lima detik berada dalam ruangan tersebut, bau amis instalasi ini benar-benar berhasil mengusir saya keluar. Saya berani jamin, jika bau yang dihadirkan oleh Ridwan adalah bau durian—saya akan betah berlama-lama di dalam sana.


Tidak ada yang bisa saya tangkap ketika berada di instalasi itu selama kurang dari lima detik—benar-benar tidak ada. Boro-boro memikirkan makna karya tersebut, masuk ke dalam instalasi seni itu saja sudah membutuhkan effort yang besar, yang saya lihat hanyalah sesuatu menggantung dan beberapa benda lainnya dibiarkan di bawah. Memikirkan maknanya sambil menahan bau amis yang menyerang penciuman itu beda urusan.


Jadi Maksud Bau Amis Itu Mengundang atau Mengusir?

Tak cukup dalam kunjungan pertama, saya masih ingin bergulat dengan bau amis instalasi seni ‘Mengandung Plastik’ pada kunjungan kedua. Perbedaannya ialah kali ini saya menaikkan standar disebut hebat versi Tiara, yaitu mampu menahan bau amis selagi menangkap makna di dalam sana.


Tepat ketika saya berdiri di ambang pintu yang terbuat dari kain putih itu, tiba-tiba seorang lelaki meneriakkan sebuah nama wanita dan mengajaknya untuk masuk ke dalam instalasi tersebut. Mari sebut mereka sebagai sepasang kekasih yang sedang menghabiskan malam jum’at bersama dengan plesiran.


Sepasang kekasih itu masuk bersama dengan bergandengan tangan sampai kain putih di ambang pintu mulai menutupi keduanya yang sudah berada di dalam sana. Dengan menahan napas dan mulai mengaturnya saya kembali berkunjung ke ruangan berdinding putih itu dengan beberapa benda yang menggantung. Sambil mengamati karya seni tersebut, saya mulai mengatur ritme pernapasan agar tidak terlalu banyak menghirup udara di dalam ruangan yang agak pengap ini. Bukannya lebay atau berlebihan, menurut saya ini adalah strategi untuk bisa bertahan sedikit lebih lama di dalam sini.


Dalam menuliskan apapun, usahakan semua indra yang kita miliki ikut terlibat di dalamnya. Melalui instalasi ‘Mengandung Plastik’ ini saya berhasil melibatkan empat dari pancaindra saya—perasa tidak masuk dalam hal ini.


Untuk menjawab pertanyaan makna adanya bau amis dalam instalasi ini tidak sesederhana yang kita bayangkan. Setiap orang memiliki sisi sensitifitasnya masing-masing. Contohnya pada kunjungan pertama, saya menganggap bau amis itu justru menjadi suatu penghalang bagi saya yang hendak mencari makna karya seni tersebut karena baunya yang begitu menyengat ditambah dengan kejadian pengunjung wanita yang hampir muntah setelah keluar dari instalasi itu.


Sebaliknya, dalam kunjungan kedua saya merasa bahwa bau amis ini juga berusaha untuk merepresentasikan kondisi kultural masyarakat Sulawesi Barat yang erat hubungannya dengan laut, dari sinilah bau amis itu berasal. Ada makna dan harapan yang dihantarkan Ridwan melalui karya seninya ini kepada pengunjung untuk bebas memperdayakan imajinasi masing-masing selagi membayangkan kehidupan laut yang kini mulai tercemar sampah plastik akibat kebiasaan masyarakat Desa Pambusuang, Sulawesi Barat yang gemar membuang sampah ke laut. Sekali lagi—ada makna dan harapan yang dibawa melalui aroma dalam sebuah karya seni.


Konsep ‘pinggiran’ dalam karya ini pun kami pahami untuk menggambarkan potret masyarakat pesisir yang masih erat dengan tradisi dan mitologinya terhadap lautan. Nah, dengan begitu, menariknya di sini ialah muncul suatu kontradiktif antara nilai tradisi dengan sikap tak acuh yang ditampilkan oleh masyarakat Pambusuang itu sendiri. Mereka yang dianggap ‘mengagungkan’ dalam wacana, tapi justru ‘merusak’ dalam tindakan. Sebuah kemirisan yang mampu terwujud dalam satu bentuk instalasi seni: ‘Mengandung Plastik’.

Recent Posts

See All

Comments


HitamPutih.jpg

Thanks for submitting!

Department of Anthropology

Faculty of Cultural Sciences

Universitas Gadjah Mada

  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Black Pinterest Icon
  • Black Twitter Icon

2019 The Human Stories

bottom of page