top of page
  • Black Instagram Icon

Antropologi Budaya dan Kedokteran Berbagi Perspektif: Kematian dan Proses yang Menyertainya

oleh Raditya Baswara A, Ni Putu Dessy PS & Gabriel Dania Rekalino K


Pura Keluarga tempat si mati disemayamkan bersama leluhur



Semua yang hidup pasti akan mati. Kematian adalah hal yang tidak terelakkan terutama bagi makhluk hidup seperti manusia. Kematian merupakan rangkaian dari kehidupan, oleh karenanya beberapa suku bangsa memutuskan untuk merayakan salah satu proses kehidupan ini. Berbagai bidang ilmu telah mengkaji fenomena kematian berdasarkan teori dan metode yang biasa digunakan pada disiplin mereka. Dua dari bidang ilmu yang mempelajari kematian secara khusus adalah antropologi budaya dan kedokteran. Antropologi budaya boleh jadi menggunakan pendekatan kultural untuk menjelaskan serta memaknai momen ini, namun kedokteran menyajikan sudut pandang yang sangat berbeda mengenai kematian. Dalam tulisan ini, akan diuraikan bagaimana masing-masing ilmu mengkaji kematian. Diakhir tulisan, akan dicantumkan kesimpulan dan refleksi yang didapat dalam proses pengerjaan tulisan.



Serba Serbi Kematian

Ada berbagai macam makhluk hidup di dunia. Salah satu dari makhluk hidup tersebut adalah manusia. Berbeda dengan makhluk hidup lainnya, manusia cenderung memiliki reaksi yang berbeda atas setiap perubahan yang terjadi dalam kehidupannya. Manusia adalah makhluk makna. Manusia seringkali memberi makna atas segala sesuatu di sekitarnya. Dengan pemberian makna tersebut, manusia akhirnya menciptakan ritual. Ritual-ritual buatan manusia ini menjadi penanda akan segala sesuatu yang terjadi pada hidupnya.


Manusia adalah salah satu makhluk hidup yang pasti akan menghadapi kematian. Kematian merupakan salah satu proses dalam kehidupan. Semua yang hidup pasti pada akhirnya akan sampai pada proses kematian. Manusia menganggap kematian merupakan akhir dari kehidupan sekaligus bagian dari proses kehidupan yang penuh tanda tanya. Karena alasan tersebut, kematian diberi makna khusus dan dirayakan. Tidak cukup dengan hanya menganggap kematian sebagai sesuatu yang biologis, manusia juga memaknai kematian sebagai peristiwa kultural. Oleh karenanya, beberapa suku bangsa di dunia memiliki ritual, mitos, dan takhayul mereka masing-masing mengenai kematian.


Kematian dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang. Salah satunya adalah kematian sebagai peristiwa sosial. Sebagai peristiwa sosial, kematian dikatakan memiliki pengaruh signifikan bagi mereka yang ditinggalkan. Dari sana, kematian dapat diartikan sebagai duka-lara masyarakat karena adanya satu partisipan dalam masyarakat yang tidak berkontribusi. Kematian adalah anomali, oleh karenanya ilmu sejarah berusaha melanggengkan seseorang dalam bingkai sehingga semangat juangnya semasa hidup tetap dapat dirasakan oleh yang masih ada sesudahnya (Damm 2011, xi). Pada saat seperti itulah ungkapan “Jas Merah” dapat menghasilkan makna yang kuat karena kita yang hidup diharapkan untuk mewarisi semangat yang mati, atau setidaknya menjaga mereka agar tetap eksis meski raga sudah tiada lagi. Hal inilah yang disebut dengan politik kenangan (Damm 211, xii).


Kematian juga dapat dilihat melalui kacamata teologis. Dalam sudut pandang ini, kematian dimaknai sebagai suatu proses dimana jiwa meninggalkan badan kasar untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang dimaksud memicu buah pikir mengenai konsep kehidupan setelah kematian (after life) yang penuh misteri. Menurut filsafat, hal ini dinilai sebagai pelipur lara agar kematian tidak dianggap sebagai suatu akhir yang menyedihkan. Penghapus duka yang membawa imaji orang terkasih ke tanah surga yang belum tentu memang nyata. Setidak-tidaknya, konsep ini mampu mengurangi sedikit kecemasan mengenai apa yang akan dihadapi manusia segera setelah peti mati ditutup, abu pembakaran terakhir di tabur, atau tanah terakhir dimasukkan ke dalam liang kubur (Damm 2011, xii).


Kematian dapat dilihat dari berbagai macam sudut pandang. Satu sudut pandang dengan sudut pandang yang lain bisa saja memaknai kematian sebagai sesuatu yang berbeda. Hal itulah yang menarik dari setiap disiplin. Cara masing-masing cabang ilmu untuk mendefinisikan suatu topik merupakan cara unik mereka dalam melihat segala sesuatu. Yang akan menjadi fokus kami adalah kematian dari sudut pandang antropologi budaya dan kedokteran. Dari dua disiplin itu mungkin akan melihat kematian dengan cara yang berbeda, namun hal tersebut tidak serta merta menyebabkan kedua ilmu tidak akan beririsan dalam pandangan dan penjelasannya mengenai kematian. Berbekal obrolan kecil di sore hari, kami menguak tabir tipis yang melintangi dua cabang ilmu yang sebenarnya saling berkaitan ini.


Kematian dari Perspektif Antropologi Budaya

Antropologi meneliti kematian dari isu dan laku atau ritual yang dilakukan masyarakat ketika kematian tersebut datang. Laku atau ritual ini biasanya bersifat simbolis, hal inilah yang banyak dikaji dalam ilmu antropologi budaya. Berdasarkan hal tersebut, konsep antropologi budaya mengenai kematian tidak lepas dari bentuk-bentuk atau institusi budaya yang terungkap dan dihasilkan oleh manusia. Bentuk-bentuk dan institusi budaya ini juga mempengaruhi penanganan kita pada kematian. Proses ini akhirnya menyadarkan pada manusia betapa dekatnya mereka dengan kematian (Hockey 1993, 7-8).


Serangkaian laku atau ritual dalam kematian ini disebut dengan upacara kematian. Menurut Clifford Geertz, upacara kematian adalah upacara yang dilakukan manusia dalam rangka adat istiadat dan struktur sosial dari masyarakat itu sendiri (Koentjaraningrat 1987, 71). Adanya upacara kematian dianggap sebagai acuan dalam kehidupan bersama. Upacara kematian juga dapat dijadikan bekal untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik menurut masyarakat terkait. Nilai-nilai yang sering ditemui dalam upacara kematian diantaranya adalah kegotongroyongan, kemanusiaan, dan religiositas. Aspek kegotongroyongan dapat dilihat dari bagaimana orang-orang di sekitar si mati bekerja sama untuk mengurusi jasadnya, aspek kemanusiaan dapat dilihat dari bagaimana cara orang-orang di sekitar si mati memperlakukannya dan menanggapi kematiannya, sedangkan aspek religiositas dapat dilihat dari ritual yang dilakukan untuk si mati.


Implementasi dari ketiga nilai ini dapat dilihat dalam upacara ngaben di Bali. Ngaben merupakan rangkaian acara pembakaran mayat dalam adat masyarakat Bali. Nilai kegotong-royongan dapat dilihat dari bagaimana warga masyarakat berbondong-bondong membuat sajen dan mempersiapkan segala sarana upacara adat. Nilai kemanusiaan dilihat dari bagaimana masyarakat ikut memandikan jenazah dan turut serta menenangkan keluarga yang tengah berduka. Sedangkan nilai religius dapat diihat dari sesajen dan doa-doa yang dinyanyikan ketika prosesi kremasi berlangsung.



Lembu hitam, salah satu sarana dalam upacara kematian untuk orang berkasta tertentu



Antropologi dalam kematian tidak hanya mendefinisikan kematian sebagai penghentian atas segala fungsi tubuh manusia, tetapi juga hubungan sosial yang dimiliki orang yang dulunya hidup. Antropologi mempelajari bagaimana manusia memberi makna bagi tubuh-tubuh ini dengan imajinasi dan pemahaman mereka yang variatif. Hal ini menyebabkan definisi kematian tidak hanya terpaku pada berhentinya fungsi tubuh sehingga sulit untuk membedakan fakta tentang kematian dan fakta tentang kehidupan. Fakta tentang kematian dan kehidupan datang dan dipelajari sebagai sesuatu yang “utuh” (Simpson 2018).


Sejak dahulu para filsuf telah mempertanyakan mengenai kematian. Kematian dianggap sebagai sesuatu yang tipikal atau biasa terjadi. Kendati begitu banyak ahli yang telah mengeluarkan pendapat mereka mengenai kematian. Ada yang berpendapat bahwa kematian adalah akhir dari segalanya. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa kematianjustru merupakan awal dari kelahiran kehidupan baru yang kekal dan jauh lebih baik. Heidegger merupakan salah satu dari orang yang percaya bahwa kematian adalah akhir dari segalanya. Alih-alih percaya kehidupan setelah kematian, dirinya berpendapat bahwa ketika orang tersebut mati ia tidak melanjutkan “perjalanan” kemanapun (Jonas 2001: 8).


Variasi dalam memandang kematian inilah yang coba diungkap oleh para antropolog. Antropolog yang berkecimpung dalam praktik kematian dan kamar mayat tidak hanya berminat pada kematian abstrak, tetapi juga keadaan sosial serta metafisiknya dimana kematian itu terjadi. Dengan kata lain, antropologi budaya tidak hanya menganggap kematian sebagai sesuatu yang biologis, tetapi juga berkaitan dengan sosial, budaya, dan politik yang mendalam.


Kematian dari Perspektif Mahasiswa Kedokteran

Pramesti Aninditya, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM yang saat ini berada pada tingkatan semester 3 membagikan pengalaman serta sudut pandangnya perihal bagaimana mahasiswa kedokteran menyikapi gejala kematian dilihat dari perspektif medis. Meskipun, ia mengaku belum sepenuhnya mempelajari konsep tersebut secara lengkap, namun ia mampu memberikan pesan yang tersirat terkait dengan kematian dalam dunia kedokteran. Kami bertemu Nindya, panggilan akrabnya, pada tanggal 12 Desember 2019 sekitar pukul 16.00 WIB. Sore itu mendung dan coffee shop tempat kami bertemu memiliki suasana yang cukup nyaman dan hangat. Kami dan Nindya duduk dan mulai mengobrol diantara green tea latte dan red squash yang kami pesan. Saat itu, Nindya nampak mengenakan sweater berwarna hijau tua dan celana hitam. Rambutnya yang ditata dalam low pony-tail nampak rapi. Nindya mengaku baru saja selesai ujian blok atau sebuah sistem ujian bagi mahasiswa kedokteran UGM.

Menurut Nindya dalam dunia medis, konsep mati itu sendiri terjadi ketika salah satu di antara dua organ vital dalam tubuh tidak lagi berfungsi, yaitu jantung sebagai pemompa darah ke seluruh tubuh dan/atauparu-paru sebagai pemasok oksigen atau alat pernapasan. Mengacu pada penjelasan tersebut, sejatinya jenis kematian hanya ada dua yaitu akibat gagal jantung dan gagal nafas karena hampir seluruh penyakit akan berhubungan dengan dua hal tersebut. Oleh karena sangat vitalnya kedua organ tersebut, apabila ada penyakit parah yang mengenainya, (misal: kanker) akan sulit untuk disembuhkan, bahkan transplantasi tidak menjamin adanya kesembuhan yang sempurna. Selain itu, jika seseorang sudah meninggal dan kedua organnya tersebut nampak kurang sehat, maka tidak bisa didonorkan ke orang lain.


Menurut Nindya pribadi, mati sebenarnya tergantung dari gaya hidup yang kita jalani dan juga pengaruh lingkungan sekitar, misalnya pola makan ataupun intensitas olahraga. Beberapa ciri-ciri orang yang hendak meninggal misalnya terjadi kaku mayat atau rigarmortis dan adanya nafas terakhir. Jika memang seorang pasien meninggal di rumah sakit, maka dokter yang memiliki wewenang penuh dalam menanganinya disertai beberapa prosedur yang harus dijalani, seperti melakukan monitor terakhir dan pengecekan terhadap nadi untuk memastikan ulang. Jika pasien memang sudah benar-benar meninggal, maka sang dokter akan membuat surat keterangan resmi untuk diserahkan kepada keluarga.


Pada dasarnya, semua orang yang sudah meninggal akan terlihat bagaimana mereka meninggal dari segi fisiologis atau badaniah. Berbicara mengenai praktik medis tradisional tidak bisa lepas dari adanya mantri atau dukun di desa-desa yang tersebar di Indonesia, bahkan banyak masyarakat yang masih percaya kapabilitas mereka dalam menangani berbagai macam penyakit dan menolak pergi ke dokter dengan profesionalitas medis yang tinggi. Dukun tersebut juga biasanya memberikan semacam obat-obatan herbal yang diyakini kemanjurannya untuk semua pasien.


Melihat fenomena tersebut, sebagai mahasiswi kedokteran, Nindya berpendapat bahwa itu semua tergantung dari diri individu, sebab pilihan tempat rujukan berobat sudah di luar tanggung jawab dokter. Namun ia berpendapat bahwa obat tersebut belum tentu aman karena belum diuji secara klinis reaksinya serta kandungan herbal yang ada di dalamnya, juga tidak dibuat oleh orang yang pasti paham akan proses meracik obat herbal. Mereka biasanya hanya memberikan obat yang cenderung sama, tanpa memperhatikan kebutuhan individu. Dalam hal ini, faktor ekonomi sangat berpengaruh dalam menentukan perlakuan kesehatan apa yang mereka pilih.


Kematian di Indonesia identik dengan perayaan besar-besaran yang dihelat para keluarga dan kerabat sebagai bentuk pesta kematian yang hendaknya sangat harus untuk dirayakan dengan berbagai adat dan tradisinya. Bagi Nindya, dunia kedokteran memandang hal tersebut sah-sah saja dilakukan karena menjadi media untuk menghantarkan jiwa si mati yang pergi meninggalkan tubuhnya. Bicara soal konsep jiwa, hal tersebut rupanya masih menjadi perdebatan dalam dunia medis sebab belum ada yang bisa mengklaim hal tersebut secara ilmiah. Nindya sendiri berpendapat bahwa jiwa merupakan suatu hal yang tak kasat mata, hanya dapat dirasakan dan meliputi jiwa serta pikiran. Berbeda halnya dengan tubuh yang sudah jelas terdapat organ-organ di dalamnya.


Tugas seorang dokter sebenarnya secara sederhana adalah memastikan seorang pasien dapat mencapai pemulihan yang total. Namun kita tidak pernah mengerti berapa lama lagi ia dapat bertahan hidup. Dalam hal ini, dokter akan melakukan upaya yang terbaik. Jika kondisi pasien sudah tidak dapat tertolong, maka pasien dan dokter berhak melakukan persetujuan sebelum nantinya akan dilakukan tindakan lebih lanjut. Tidak selamanya tubuh dapat berkompensasi dengan panyakitnya, sehingga jangka waktu kehidupan seseorang dapat ditentukan dari sini, meskipun memang tidak akurat dan lagi-lagi para tenaga medis juga bergantung kepada mukjizat yang dapat terjadi. Dalam kondisi ini, hanya pihak keluarga yang boleh mengerti perihal jangka kehidupan pasien. Jika pasien tahu, dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap kondisi fisiknya sebab stres dapat membawa penyakit ke arah yang lebih parah. Pada akhirnya, hanya keluarga pasienlah yang dapat menentukan jalan hidup pasien sebab mereka pula yang akan mengurusnya.


Menurut Nindya, cara mengebumikan jenazah yang paling efektif adalah melalui proses pembakaran atau kremasi karena sudah pasti menghemat tempat dan lebih aman, terlebih jika ada penyakit menular di salah satu organnya. Jika berhubungan dengan mayat gelandangan yang tidak memiliki keluarga, maka hal tersebut di luar dari tanggung jawab rumah sakit, kecuali ada proses otopsi dan melimpahkan semuanya ke pihak kepolisian serta forensik. Serangkaian proses kematian atau meninggalnya seseorang adalah peristiwa yang harus dihadapi setiap dokter, sehingga mau tidak mau mereka juga harus terbiasa. Dalam hal ini, mereka akan terbantu dengan hadirnya kadafer atau jasad yang digunakan oleh mahasiswa untuk belajar dalam materi perkuliahan mereka tentang anatomi.


Nindya, sebagai mahasiswa kedokteran, memaknai kematian sebagai suatu pengetahuan baru baginya untuk mengungkap tata letak tubuh yang memicu kematian. Melalui kadafer, guru besar atau dosen yang sudah meninggal yang mau memberikan tubuh mereka sebagai bahan pembelajaran lewat persetujuan terlebih dahulu. Pada dasarnya, dalam dunia kedokteran kematian sendiri adalah hal yang terburuk bagi mereka, meskipun tidak semua dokter akan menghadapi kematian pasien mereka. Namun, pada prinsipnya seorang pasien sudah seharusnya menjadi tanggungan bagi setiap dokter untuk dapat menjaga mereka tetap hidup dan jika sampai hal tersebut melewati batas akhir, maka mereka akan merasa tugas mereka gagal.



Meninjau Ulang Kematian dan Kerja Sama Dua Disiplin

Seluruh manusia pasti akan mati. Kematian selain merupakan peristiwa berhentinya fungsi tubuh makhluk hidup, juga merupakan peristiwa kultural yang menghasilkan makna yang kuat karena kita yang hidup diharapkan untuk mewarisi semangat yang mati, atau setidaknya menjaga mereka agar tetap eksis meski raganya sudah tiada lagi. Hal inilah yang membuat adanya perbedaan pandangan antara antropologi dengan ilmu kedokteran terhadap kematian. Antropologi meneliti kematian dari isu dan laku atau ritual yang dilakukan masyarakat ketika kematian tersebut datang. Laku atau ritual ini biasanya bersifat simbolis. Hal inilah yang banyak dikaji dalam ilmu antropologi budaya. Selanjutnya, laku dan ritual ini disebut sebagai upacara kematian.


Dalam upacara kematian ini, terdapat nilai-nilai yang sering ditemui, di antaranya kegotongroyongan, kemanusiaan, dan religiositas. Antropologi dalam kematian tidak hanya mendefinisikan kematian sebagai proses berhentinya segala fungsi tubuh manusia, tetapi juga hubungan sosial yang dimiliki orang yang dulunya hidup. Banyak ahli yang telah mengemukakan pendapat mereka mengenai kematian. Ada yang berpendapat bahwa kematian adalah akhir dari segalanya. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa kematianjustru merupakan awal dari lahirnya kehidupan baru yang kekal dan jauh lebih baik.Antropolog yang berkecimpung dalam isu kematian tidak hanya berminat pada kematian abstrak, tetapi juga keadaan sosial serta metafisiknya dimana kematian itu terjadi. Dengan kata lain, antropologi budaya tidak hanya menganggap kematian sebagai sesuatu yang biologis, tetapi juga berkaitan dengan sosial, budaya, dan politik yang mendalam.


Dalam dunia medis, konsep mati itu sendiri diawali ketika salah satu di antara dua organ vital dalam tubuh tidak lagi berfungsi, yaitu jantung sebagai pemompa darah ke seluruh tubuh dan paru-paru sebagai pemasok oksigen atau alat pernapasan. Mengenai konsep jiwa, hal tersebut rupanya masih menjadi perdebatan dalam dunia medis sebab belum ada yang bisa mengklaim hal tersebut sudah teruji atau belum. Narasumber kami, Pramesti Aninditya (Nindya), seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM yang saat ini berada pada tingkatan semester 3,berpendapat bahwa jiwa merupakan suatu hal yang tak kasat mata, hanya dapat dirasakan dan meliputi jiwa serta pikiran. Berbeda halnya dengan tubuh yang sudah jelas terdapat organ-organ di dalamnya.


Kematian di Indonesia identik dengan perayaan besar yang dihelat para keluarga dan kerabat sebagai bentuk pesta kematian yang hendaknya sangat harus untuk dirayakan dengan berbagai adat dan tradisinya. Dunia kedokteran memandang hal tersebut sah-sah saja dilakukan karena menjadi media untuk menghantarkan jiwa si mati yang pergi dan meninggalkan tubuhnya. Menurut dunia kedokteran, cara mengebumikan jenazah yang paling efektif adalah melalui proses pembakaran atau kremasi karena sudah pasti menghemat tempat dan lebih aman, terlebih jika ada penyakit menular di salah satu organnya. Mengenai mayat gelandangan yang tidak memiliki keluarga, hal tersebut di luar dari tanggung jawab rumah sakit, kecuali proses otopsi dan melimpahkan semuanya ke pihak kepolisian dan forensik.


Melalui wawancara ini, kami dapat melihat perbedaan antropologi budaya dan kedokteran melihat kematian. Cara pandang dari mahasiswa kedokteran mungkin belum terlalu mendalam mengingat narasumber kami belum mempelajari kematian terlalu jauh, namun kami tetap mendapatkan suduut pandang baru terutama dalam bentuk kerjasama yang dapat dikembangkan terkait dua disiplin ilmu ini. Berangkat dari wawancara ini kami dapat melihat bahwa dua bidang disiplin ilmu ini dapat mempererat kerjasama yang sudah terjalin terkait praktik-praktik seputar kematian dan tubuh. Lebih lanjut lagi, serangkaian obrolan sore bersama Nindya membuat kami sadar bahwa antropologi budaya dan kedokteran bisa memperdalam kerjasama dalam bidang forensik terutama mayat dengan kasus kekerasan politik dan sosial yang terjadi di masyarakat.



Badhe, tempat meletakkan mayat sebelum di bakar





Daftar Pustaka

Damm, Muhammad. 2011. Kematian: Sebuah Risalah tentang Eksistensi dan Ketiadaan. Penerbit Kepik: Depok


Hockey, Jennifer. 1993. Pengalaman-Pengalaman Menjelang Ajal. BPK Gunung Mulia: Jakarta

Jonas, H. 2001. The phenomenon of life: towards a philosophical biology. Evanston, Ill.: Northwestern Univesity Press.


Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi I. Universitas Indonesia: Jakarta

Simpson, Bob. 2018. “Death”. Diakses 19 Desember 2019. https://www.anthroencyclopedia.com/entry/death

Recent Posts

See All

Kommentare


HitamPutih.jpg

Thanks for submitting!

Department of Anthropology

Faculty of Cultural Sciences

Universitas Gadjah Mada

  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Black Pinterest Icon
  • Black Twitter Icon

2019 The Human Stories

bottom of page