top of page
  • Black Instagram Icon

Agama dalam Antropologi dan Filsafat

Ditulis oleh Faradila Dita dan Amma Hidayati


Antropologi menurut Koentjaraningrat (1967) dalam arti seluas-luasnya adalah suatu ilmu yang mempelajari manusia. Di dalam ilmu antropologi fokus perhatiannya ada pada lima masalah mengenai manusia. Yang pertama yaitu tentang masalah sejarah terjadinya dan perkembangan manusia sebagai makhluk biologis. Kedua adalah masalah sejarah terjadinya aneka warna makhluk manusia dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya. Ketiga yaitu masalah persebaran dan terjadinya aneka warna Bahasa yang diucapkan oleh manusia diseluruh dunia,


Masalah selanjutnya adalah tentang masalah perkembangan, persebaran dan terjadinya aneka warna dari kebudayaan manusia di seluruh dunia. Yang terakhir adalah masalah dasar dan aneka warna kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat-masyarakat dan suku-suku bangsa yang tersebar di seluruh muka bumi zaman sekarang ini. Di sini dapat disimpulkan bahwa antropologi berusaha mengkaji sistem-sistem yang berkaitan dengan kehidupan manusia, masyarakat, serta budayanya. Dan salah satu studi yang mengkaji tentang kehidupan manusia yaitu studi tentang agama dan gender.


Agama dalam Perspektif Antropologi


Masalah agama merupakan fenomena yang selalu hadir dalam sejarah kehidupan manusia sepanjang zaman. Hal ini dikarenakan agama selalu dikaitkan dengan kehidupan manusia. Ahli-ahli ilmu sosial memandang agama sebagai sesuatu yang hidup bersama manusia. Permasalahan mengenai agama ini sangatlah krusial di dalam kehidupan bermasyarakat. Apalagi di zaman sekarang ini masih banyak segala sesuatu yang kaitkan dengan agama.


Agama secara mendasar adalah seperangkat aturan yang mengatur kehidupan manusia. Agama selalu berhubungan dengan alam gaib atau supernatural dan memberikan penjelasan mengenai segala sesuatu setelah kematian. Selain itu dapat dikatakan agama juga bisa berasal dari sesuatu yang dianggap gaib yang diterima seseorang dan kemudian disebarkan sehingga menjadi keyakinan dan dipraktikan oleh banyak orang.


Perilaku hidup beragama yang dikatakan menjadi “bagian dari hidup kebudayaan” menjadi sesuatu yang menarik untuk dikaji oleh antropolog yang memperhatikan terbentuknya pola-pola perilaku dalam tatanan nilai yang dianut dalam kehidupan beragama sebuah masyarakat. Studi agama dalam kajian antropologi dapat dikategorikan ke dalam empat kerangka teoritis, yaitu intellectualist, structuralist, functionalist, dan symbolist.


Durkheim menyatakan agama adalah kesatuan kepercayaan dan praktik-praktik yang berkaitan dengan yang sakral, yaitu hal-hal yang disisihkan dan terlarang. Kepercayaan dan praktik-praktik yang menyatukan seluruh orang yang menganut dan menyakini hal-hal tersebut ke dalam suatu komunitas moral yang disebut gereja. Walaupun definisi ini hanya melihat dari satu sisi. Akan tetapi definisi ini telah memberikan poin penting bahwa agama berupa praktik atau aktivitas sakral yang tentu saja dengan keyakinan tertentu serta dilakukan di dalam kelompok.


Durkheim juga mengungkapkan bahwa masyarakat dikonseptualisasikan sebagai sebuah totalitas yang diikat oleh hubungan sosial. Dalam pengertian ini maka masyarakat bagi Durkheim adalah “struktur dari ikatan sosial yang dikuatkan dengan konsensus moral”. Pandangan ini menginspirasi para antropolog untuk menggunakan pendektan structural dalam memahami agama dan masyarakat.


Menurut Durkheim yang dikutip oleh Koentjaraningrat (1987) terdapat lima kompenen dalam agama atau religi. Pertama yaitu emosi keagamaan yang menyebabkan manusia mempunyai sikap religious dan merupakan suatu getaran yang menggerakkan jiwa manusia. Kedua yaitu sistem keyakinan yang berwujud pikiran dan gagasan manusia yang menyangkut keyakinan dan konsepsi manusia tentang sifat-sifat Tuhan, tentang wujud dari alam gaib, terjadinya alam dan dunia, zaman akhirat, wujud dan ciri-ciri kekuatan sakti, dll.


Selanjutnya adalah sistem ritus dan upacara yang berwujud aktivitas dan tindakan manusia dalam melaksanakan kebaktiannya terhadap Tuhan, dewa-dewa, roh-roh untuk melakukan komunikasi. Kemudian yang keempat masih berhubungan dengan ritus yaitu peralatan yang digunakan dalam ritus seperti tempat pemujaan, patung dewa, gong, dll. Dan yang terakhir dari system religi yaitu umat atau kesatuan sosial yang menganut system kayakinan dan yang melaksanakan system ritus serta upacara.


Selain Durkheim, Geertz juga berpendapat bahwa agama adalah sebuah system simbol-simbol yang menetapkan suasana hati dan motivasi yang kuat, meresapi, dan yang tahan lama dalam diri manusia dengan merumuskan konsep-konsep ini dengan semacam pencaharian faktualisasi sehingga suasana hati dan motivasi itu tampak realistis. Dan definisi ini menjelaskan bahwa dari perlakuan manusia melalui seperangkat simbol merupakan ekspresi dari motivasi dan suasana hati.


Di sini dapat disimpulkan bahwa agama merupakan seperangkat aturan yang dijalankan untuk mengatur kehidupan manusia sebagai individu dan anggota masyarakat yang menjadi petunjuk mengenai kehidupan manusia dan penjelasan akan sesuatu yang dianggap sakral. Di dalam masyarakat agama memberikan argumentasi religius mengenai asal-usul manusia, bagaimana mereka hidup di dunia, dan ke mana setelah kematian. Penjelasan ini berupa aturan-aturan sekaligus larangan yang tidak bisa dibantah.


Clifford Geertz juga mempunyai kajian antropologi terutama tentang dinamika hubungan antara agama dan budaya. dalam meneliti agama Geertz tidak lepas dari hubungan antara masyarakat dalam berbagai variasinya. Menurutnya agama adalah sistem kebudayaan. Agama tidak hanya seperangkat nilai tetapi juga merupakan sistem pengetahuan dan sistem simbol yang memungkinkan terjadinya pemaknaan.


Di dalam studi antropologi terdapat sebuah spesialisasi mempelajari mengenai bagaimana agama diyakini dan dipraktikkan di dalam masyarakat yang disebut sebagai antropologi agama atau religi. Secara umum antropolog menyatakan bahwa agama merupakan sebuah pranata. Agama sebagai pranata tidaklah sama dengan agama sebagai sebuah keyakinan yang menjadi milik anggota masyarakat. Dan pranata merupakan suatu aturan yang digunakan untuk mengatur manusia dalam rangka pemenuhan kebutuhan khusus.


Agama yang dipelajari di dalam antropologi adalah fenomena religius. Fenomena religius yaitu semua fenomena atau aktivitas religius yang terdapat di dalam masyarakat seperti fenomena agama yang tradisional yang dilakukan untuk kepentingan tertentu (santet, dll), penyembahan kepada arwah leluhur, agama tradisional, dan fenomena religius yang dilakukan oleh umat Islam, Kristen, dsb.


Agama sebagai pranata di sini adalah agama yang diyakini, diajarkan, dipraktikkan di dalam masyarakat. Agama di sini berbeda konteks dengan agama di dalam kitab suci seperti Al-Quran, Injil, Taurat, dll. Agama sebagai pranata di sini bisa berbeda di antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lainnya walaupun masing-masing sama-sama menganut agama yang sama. Hal ini dikarenakan proses turun dan tersebarnya agama ke masyarakat melalui proses sosial budaya.


Pendekatan antropologi dalam studi agama memandang agama sebagai fenomena kultural. Fenomena kultural ini khususnya tentang kebiasaan, perilaku dalam beribadah serta kepercayaan dalam hubungan-hubungan sosial. Selain itu studi antropologi tentang agama juga mengkaji agama sebagai ungkapan kebutuhan makhluk budaya.


Agama dalam Perspektif Filsafat


Memahami agama dalam berbagai perspektif sangat diperlukan agar lebih mempunyai pandangan yang luas tentang agama. Melihat agama dalam sudut pandang ilmiah agaknya memang lumayan susah. Hal ini dikarenakan terkadang apa yang dibahas dalam agama itu adalah sesuatu yang tidak dapat dipikir secara nalar. Maka dari itu dibutuhkan pandangan lain dalam mengkaji dan meneliti tentang agama. Dalam tulisan ini kami akan membandingkan agama dalam perspektf antropologi dan filsafat.


Pada kali ini narasumber kami adalah seorang mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan S1 Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada angkatan 2017 menjelaskan kepada kami tentang bagaimana agama itu dalam sudut pandang filsafat. Di sini dia menjelaskan agama sesuai ilmu filsafat agama.


Menurutnya sesuai dengan ilmu filsafat agama, agama berasal dari kebudayaan. Selain itu, menurut Emile Durkheim agama muncul dari kesepakatan antar anggota klen dengan tujuan untuk menjaga kesatuan klen. Dalam sudut pandang filsafat, antropolog yang lain mengemukakan pendapatnya bahwa sebenarnya agama itu plural (beragam) tergantung pada kelompoknya sendiri dan tergantung pada individu.


Yang terpenting dalam agama itu adalah kenapa hal tersebut disebut sebagai agama. Kenapa disebut sebagai agama karena agama mempunyai ritual, tatanan, dan Tuhan. Jadi orang yang bertuhan itu pasti beragama kecuali agnostic yang percaya Tuhan tetapi tidak percaya agama. Agama juga mempunyai konsep-konsep yang beragam, salah satunya adalah Politeisme (kepercayaan kepada banyak tuhan).


Narasumber kami menceritakan tentang konsep agama dan kepercayaan. Dia menyatakan bahwa di dalam agama terdapat konsep ketuhanan. Akan tetapi di dalam konsep ketuhanan belum tentu ada agama. Hal ini dikarenakan ada yang memadu padankan Tuhan itu menjadi satu. Jadi agama itu adalah sesuatu yang sakral.


Menurutnya agama itu berasal dari kebudayaan yang muncul dari kebudayan suatu manusia yang ingin merekatkan hubungan dengan manusia lain. Lalu setelah itu muncullah agama. Kalau kita lihat sekarang ini tidak ada kebudayaan yang tidak berhubungan atau berkaitan dengan kebudayaan. Maksudnya di sini semua kebudayaan itu berhubungan dengan ritual keagamaan. Dan di sini narasumber kami menekankan bahwa tidak ada agama yang tidak memiliki ritual keagamaan.


Dalam ilmu filsafat juga membahas mengenai agama dan juga kenabian. Dalam hal ini kenabian itu hanya dimaknai atau berhubungan dengan agama-agama samawi, agama Ibrahim, dan agama langit seperti agama Yahudi, agama Katolik, agama Kristen, dan agama Islam. Maka dari itu hanya tiga agama tersebut yang mempunyai konsep kenabian.


Menurutnya dalam konsep agama Budha sebenarnya tidak membahas mengenai Tuhan. Akan tetapi mereka percaya ada kekuatan supranatural roh-roh, namun mereka tidak berani menyentuh dan membahas mengani Tuhan. Hal ini dikarenakan Tuhan menurut agama Budha itu merupakaan hal yang suci dan merupakan sesuatu yang mempunyai kedudukan di atas manusia dan yang terpenting kita tidak akan pernah paham tentang bagaimana Tuhan itu. Jadi di sini dalam agama Budha, mereka cuman dianjurkan untuk melakukan hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan dan tentang bagaimana kebebasan pribadi itu sendiri.


Kemudian ketika kami bertanya lebih spesisifik tentang agama Budha yang merujuk tentang apakah agama Budha berarti tidak mempunyai Tuhan? Dan kemudian narasumber kami mengatakan bisa dikatakan seperti itu bahwa Budha tidak mempunyai Tuhan. Berbeda dengan agama Budha, agama Hindu mempunyai kepercayaan atau percaya terhadap Tuhan, kesempurnaan, percaya terhadap reinkarnasi, dan di agama Hindu mereka percaya juga tehadap adanya dewa-dewa.


Kami bertanya lebih lanjut lagi mengenai agama dalam sudut pandang filsafat. Kami pernah membaca di salah satu artikel atau jurnal antropologi bahwa untuk melihat agama, antopologi mempunyai sudut pandang bahwa agama itu melakukan kepercayaan mereka bukan berdasarkan kitab suci dan hanya berdasarkan pada penganutnya masing-masing. Dan hal ini apakah sama dengan sudut pandang dari filsafat tentang agama dan jika dilihat dari pandangan tersebut bisa dikatakan bahwa di tiap agama tidak harus selalu mempunyai kitab suci?


Narasumber kami menjawab tentang pertanyaan kami. Menurutnya sesuai dengan filsafat agama hal ini juga mempunyai pandangan yang sama seperti antropologi bahwa agama itu melakukan kepercayaan bukan berdasarkan pada kitab suci. Ketika membahas mengenai agama dalam sistem kebudayaan menurut Geertz agama Islam di Indonesia dan agama Islam di Maroko mempunyai perbedaan di antara satu dengan yang lainnya. Hal ini dikarenakan masing-masing daerah mempunyai interpretasi atau penafsiran yang berbeda tentang agama tergantung pada penganutnya.


Perbedaan antara agama Islam di Indonesia dan agama Islam di Maroko terlihat dari sifatnya. Contohnya yaitu agama Islam di Indonesia cenderung lemah lembut dan tidak punya obsesi. Akan tetapi jika melihat agama Islam di Maroko mereka cenderung yang aktif, semangat, dan berobsesi. Hal ini terjadi dikarenakan dalam konsep agama tidak ada yang benar maupuan yang salah. Karena kitab adalah suatu panduan dimana masing-maisng orang akan menginterpretasikan maknanya dengan berbeda-beda. Maksudnya di sini juga bisa dilihat bahwa di agama Hindu dan agama Budha mereka juga mempunyai kitab, akan tetapi kitab mereka kadang tidak bersifat universal.


Kami mempunyai pertanyaan selanjutnya yaitu apakah agama disesuaikan dengan kebudayaan? Narasumber kami menjawabnya dengan nada yang meragukan. Menurutnya apakah agama itu tergantung dengan kebudayaan itu sebenarnya adalah tergantung dari pandangan seseorang. Kalau menurut pendapatnya pribadinya agama itu tidak tergantung atau terpengaruh dengan pengaruh pengikutnya. Akan tetapi agama itu tergantung kepada bagaimana penganutnya itu menafsirkan agamanya masing-masing. Akan tetapi, di sini dia menekankan bahwa agama itu sangat dekat dengan kebudayaan.


Pertanyaan yang kami ajukan selanjutnya adalah apakah dalam ilmu filsafat itu agama dan kepercayaan sama atau apakah kedua itu berbeda? Dan ternyata agama dan kepercayaan itu ada perbedaannya. Menurut pendapat narasumber kami agama itu mencakup hal yang luas. Akan tetapi kepercayaan itu hanya mencakup satu kelompok saja. Agama di sini dapat diartikan bahwa agama bisa mencakup seluruh duni dan beberapa kelompok. Dan yang paling penting agama itu mencakup identitas yang lebih luas dibandingkan dengan kepercayaan. Contohnya yaitu kepercayaan keharingan. Anggota dalam kelompok tersebut menyepakati bahwa mereka termasuk ke dalam bagian dari agama Hindu.


Kami bertanya lebih lanjut lagi yaitu mengenai apakah di dalam agama itu terdapat beberapa kepercayaan di dalamnya? Dan di sini narasumber kami menjawab bahwa di dalam agama terdapat berbagai kepercayaan. Akan tetapi hal tersebut tergantung kepada individu dan bukan kelompok. Contohnya narasumber kami beragama Islam akan tetapi dia percaya bahwa pada saat sholat dia tidak memakai doa iftitah dan begitupun dengan kepercataan yang lain mengenai sholat. Hal-hal seperti itu kan menjadi kepercayaan pada masing-masing individu. Dalam agama itu terdapat suatu kepercayaan. Akan tetapi dalam kepercayaan belum tentu ada agama. Kepercayaan di sini itu adalah kepercayaan kepada roh di luar manusia.


Bagaimana asal mula agama itu menurut ilmu filsafat? Jadi sesuai dengan penjelasan dari Emile Durkheim tentang masyarakat totenisme. Totenisme adalah agama yang tertua di dunia. Akan tetapi menurutnya totenisme itu termasuk ke dalam animisme dan dinamisme. Maka dari itu dapat dilihat bahwa agama itu berangkat dari hal tersebut. Dari penjelasan yang diberikan oleh Emile Durkheim menurut narasumber kami bahwa Emile Durkheim mempunyai kepercayaan terhadap roh dan hal ini juga mempengaruhi awal munculnya agama.


Roh-roh yang sudah dijelaskan di awal akan mewujudkan dirinya dalam bentuk pohon yang kemudian pohon tersebut akan berubah menjadi hutan dan kemudian akan berubah menjadi alam. Kemudian alam inilah yang kemudian menjadi Tuhan. Dan hal ini dapat berarti bahwa dengan mengagungkan hutan berarti turut serta dalam mengagungkan Tuhan.


Jadi bagaimana sebenarnya definisi Tuhan menurut ilmu filsafat? Dalam filsafat itu percaya dengan apa yang dinamakan kausa prima atau sebab utama. Walaupun orang filsafat tidak percaya tentang Tuhan dan tidak percaya tentang agama karena beberapa kerusakan yang ada, akan tetapi mereka tetap percaya kepada satu kekuatan besar di luar dirinya yang mempunyai kedudukan lebih di atas yang menghendaki dirinya ada dan semuanya ada.


Sekarang ini di antara agama yang sedang berkonflik itu disebabkan karena penganutnya tidak benar-benar beragama. Akan tetapi penganutnya hanya memiliki ilmu agama akan tetapi belum beragama. Ilmu agama dan Bergama itu sendiri berbeda, hal ini dikarenakan karena mengandung pemaknaan yang berbeda. Jadi orang-orang yang berdebat itu mereka masih di taraf orang-orang yang berilmu agama dan bukan orang yang Beragama. Terakhir dia mengatakan bahwa agama itu bisa dipengaruhi oleh kelompok dan lingkungan.


Antropologi vs Filsafat


Perbedaan konsep agama antara antropologi dan fisafat dapat dilihat dari perbedaan antara agama dan kepercayaan itu sendiri. Dalam antropologi perbedaan antara agama dan kepercayaan secara sederhana dapat dikatakan bahwa agama itu selalu memiliki peraturan yang tertuang pada sebuah kitab suci, atau secara sederhananya agama harus memiliki kitab suci. Sedangkan kepercayaan menurut antropologi berarti percaya bahwa terdapat sesuatu yang dapat terlihat secara material maupun yang tidak dapat dilihat secara material (gaib) yang memiliki kuasa di atas dirinya.


Sedangkan perbedaan agama dan kepercayaan dari sudut pandang filsafat terdapat satu poin penting. Agama merupakan sesuatu yang dapat mencangkup secara lebih luas sedangkan kepercayaan hanya dapat mencangkup area yang lebiih sempit seperti hanya terbatas dalam kelompok-kelompok. Sehingga secara sederhana dapat dikatakan agama itu menaungi kepercayaan, karena dalam agama itu terdapat berbagai kepercayaan dimana kepercayaan ini juga tergantung dari bagaimana interpretasi masing-masing kelompok kebudayaan.


Kesimpulan


Penelitian tentang agama dalam sudut pandang antropologi dan juga filsafat ini adalah sama-sama berusaha mempelajari tentang manusia dan masyarakatnya yang terkait dengan agama dan pendekatan budaya. Dan dapat dilihat bahwa antropologi agama dan filsafat agama sama-sama mengkaji hubungan manusia dengan kekuasaan gaib yang berkaitan dengan pikiran, sikap dan perilaku manusia. Selain itu, konsep antara kepercayaan dan agama menurut sudut pandang antropologi dan sudut pandang filsafat juga memiliki perbedaan. Perbedaan yang paling menonjol di sini adalah bahwa dalam antropologi perbedaan anatara kepercayaan dan agama lebih bersifat meteriil, sedangkan dalam sudut pandang filsafat perbedaan antara agama dan kepercayaan lebih bersifat imateriel.




Durkhiem, Emile. 2011. The Elementary Forms of the Religious Life. Yogyakarta: IRCiSoD

Geerzt, Clifford. 1973. The Interpretation of Culture. New York: Basic Book, Inc., Publisher.

Koentjaraningrat. 1967. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat.

Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi 1. Jakarta: UI Press.

Koentjaraningrat. 1996. Pengantar Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Rosidah, Feryani Umi. 2011. Pendekatan Antropologi dalam Studi Agama. Jurnal studi Agama- Agama. Vol. 1 No. 1 hlm. 23-32.

Tumanggor, Rusmin dan Kholis Ridho. 2014. Antropologi Agama. Jakarta: UIN Press.

Recent Posts

See All

Commentaires


HitamPutih.jpg

Thanks for submitting!

Department of Anthropology

Faculty of Cultural Sciences

Universitas Gadjah Mada

  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Black Pinterest Icon
  • Black Twitter Icon

2019 The Human Stories

bottom of page